Trenggaleknjenggelek - Trenggalek menyimpan banyak kuliner tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu yang tetap bertahan adalah Jenang Grendul.
Meski sederhana, jajanan manis ini punya sejarah panjang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Jawa, khususnya Trenggalek.
Jenang grendul dipercaya sudah ada sejak ratusan tahun lalu, bersamaan dengan tradisi membuat jenang untuk acara hajatan.
Di masyarakat Jawa, jenang bukan sekadar makanan, tetapi simbol doa.
Jenang grendul pun lahir dari kebiasaan masyarakat memanfaatkan beras ketan dan santan, bahan pokok yang melimpah di pedesaan.
Nama “grendul” diambil dari bentuk bulat kecil bola ketan yang tampak mengapung saat direbus.
Teksturnya kenyal, berpadu dengan kuah santan manis yang hangat. Filosofinya sederhana: kehidupan yang bulat utuh dan manis, sesuai doa yang diharapkan.
Dulu, jenang grendul hanya disajikan di acara khusus seperti kenduri, tasyakuran, atau selamatan.
Namun, seiring waktu, jajanan ini menjadi hidangan sehari-hari yang bisa dinikmati kapan saja.
Keberadaan jenang grendul di Trenggalek menjadi bukti bagaimana masyarakat mampu menjaga tradisi kuliner leluhur.
Hingga kini, banyak keluarga masih setia membuatnya secara manual, meski sudah ada jajanan modern.
Inilah yang menjadikan jenang grendul bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari identitas sejarah kuliner Trenggalek. (mal)
Editor : Amalia Rizky Indah Permadani