Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Street Food Tradisional vs Modern: Antara Autentik dan Inovasi

Zaki Jazai • Jumat, 5 September 2025 | 18:55 WIB
Awak kapal nelayan menyerbu warung di sekitar PPN Prigi usai melaut. (DR PERDANA/RADAR TRENGGALEK)
Awak kapal nelayan menyerbu warung di sekitar PPN Prigi usai melaut. (DR PERDANA/RADAR TRENGGALEK)

Trenggaleknjenggelek – Jajanan kaki lima atau street food sudah lama menjadi denyut nadi kuliner Indonesia. Dari gang sempit hingga alun-alun kota, aroma sate yang dibakar, gorengan panas, atau minuman segar khas daerah seolah jadi pengikat ruang publik.

Kini, wajah street food berkembang dengan dua tren besar: tradisional yang bertahan dengan resep turun-temurun, dan modern yang hadir lewat inovasi rasa serta tampilan kekinian.

Kuliner tradisional menyimpan warisan budaya. Resepnya dijaga dari generasi ke generasi, bumbunya kaya rempah, dan proses memasaknya sederhana. Contohnya, sate Madura dengan bumbu kacang pekat, kerak telor Betawi yang gurih, hingga es dawet yang menyegarkan di siang terik.

Keunggulannya ada pada rasa autentik yang tak lekang oleh waktu, harga yang merakyat, dan makna budaya yang melekat. Namun, street food tradisional sering dianggap kurang berinovasi. Tampilan sederhana membuatnya kalah menarik di era media sosial, meski tetap setia pada kejujuran rasa.

Berbeda dengan tradisional, street food modern menjawab tren gaya hidup masa kini. Tampilan lebih rapi dan berwarna, varian rasa kreatif, serta kemasan yang ramah kamera ponsel.

Contohnya, es kepal Milo yang sempat viral, pisang nugget kekinian dengan aneka topping, dimsum mozzarella, hingga corndog Korea yang populer karena drama televisi.

Street food modern unggul di sisi visual dan inovasi. Namun, harganya lebih mahal, tren cepat berganti, dan tak jarang bergantung pada popularitas media sosial.

Jawabannya kembali pada selera. Bagi pencinta rasa autentik dan nilai budaya, street food tradisional tetap juaranya. Sementara bagi generasi muda yang ingin mencoba hal baru, street food modern lebih menggoda.

Sebenarnya, keduanya tidak perlu dipertentangkan. Street food tradisional menjaga akar budaya, sedangkan street food modern menunjukkan dinamika inovasi. Keduanya menjadi bukti bahwa kuliner Indonesia terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.

Pada akhirnya, menjelajahi keduanya adalah cara terbaik untuk merasakan kekayaan kuliner Nusantara: dari cita rasa warisan leluhur hingga kreasi baru yang lahir dari imajinasi generasi sekaraIni. (Jaz) 

 

 

 

Editor : Zaki Jazai
#kuliner indonesia #jajanan kaki lima #tradisional