Trenggaleknjenggelek - Klepon adalah salah satu jajanan tradisional Indonesia yang keberadaannya masih bertahan hingga sekarang.
Bentuknya bulat mungil berwarna hijau dengan taburan kelapa parut, berisi gula merah cair yang langsung meletup ketika digigit. Jajanan ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga sejarah panjang kuliner nusantara.
Asal-usul klepon diyakini berasal dari Jawa pada abad ke-19. Kata “klepon” sendiri konon diambil dari bahasa Jawa yang berarti makanan bulat yang direbus. Masyarakat Jawa kala itu menjadikan klepon sebagai hidangan pelengkap saat acara kenduri, slametan, hingga hajatan pernikahan.
Filosofinya sederhana: gula merah yang tersembunyi di dalam adonan hijau melambangkan hati manusia yang penuh kebaikan, sementara parutan kelapa menggambarkan kebersamaan dan persatuan.
Klepon kemudian menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan menyeberang hingga Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Di Sumatra, jajanan ini kerap disebut sebagai “onde-onde,” meskipun berbeda dengan onde-onde wijen dari Tiongkok.
Popularitas klepon juga semakin mendunia ketika komunitas diaspora Indonesia memperkenalkan klepon ke Belanda. Di negeri kincir angin itu, klepon bisa dengan mudah ditemukan di toko-toko makanan Asia.
Menariknya, pada 2020 sempat terjadi perdebatan viral di media sosial ketika sebuah akun luar negeri menyebut klepon sebagai “jajanan halal khas Malaysia.” Kontroversi itu justru mempertegas identitas klepon sebagai warisan kuliner asli Indonesia yang layak dijaga dan dilestarikan.
Kini, klepon tidak hanya hadir dalam bentuk tradisional. Generasi muda menghadirkan inovasi dengan klepon rasa cokelat, keju, hingga matcha.
Bahkan, klepon cake dan klepon latte sempat booming di kalangan pecinta kuliner. Namun, klepon tradisional dengan gula merah tetap menjadi favorit yang tak tergantikan.
Sejarah panjang klepon membuktikan bahwa makanan sederhana pun bisa menjadi ikon budaya. Lebih dari sekadar jajanan pasar, klepon adalah simbol kehangatan, kebersamaan, dan manisnya tradisi yang terus hidup di tengah modernisasi. (mal)