TRENGGALEK NJENGGELEK - Menjelang Lebaran, alen-alen Trenggalek kembali menjadi buruan pemudik sebagai oleh-oleh khas daerah. Camilan legendaris berbentuk cincin ini dikenal memiliki rasa gurih dan tekstur renyah, menjadikannya favorit untuk dibagikan kepada keluarga dan tetangga di kampung halaman.
Alen-alen merupakan makanan ringan khas Trenggalek yang telah lama dikenal masyarakat. Terbuat dari bahan sederhana berupa tepung tapioka, bawang putih, dan parutan kelapa, alen-alen tetap bertahan di tengah gempuran camilan modern. Popularitasnya bahkan semakin meningkat menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Dalam sebuah tayangan video, alen-alen digambarkan sebagai oleh-oleh wajib saat mudik. Banyak perantau sengaja membelinya dalam jumlah besar karena harganya terjangkau dan daya simpannya cukup lama. Tak heran jika alen-alen kerap dijadikan simbol kebersamaan saat Lebaran.
Baca Juga: Siswa SMKN 2 Trenggalek, Latih Literasi Jurnalistik Vokasi: Kritis Menulis, Profesional Berkarya
Camilan Khas Trenggalek Berbahan Sederhana
Keunikan alen-alen Trenggalek terletak pada proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional. Bahan utamanya adalah tepung tapioka yang diaron hingga matang, kemudian dicampur bawang putih, garam, parutan kelapa, serta sedikit adonan telur agar rasanya semakin gurih.
Setelah semua bahan tercampur rata, adonan digiling hingga padat dan tidak lengket. Adonan kemudian dipotong kecil-kecil sebelum dicetak berbentuk cincin. Saat ini, proses pencetakan sudah banyak menggunakan mesin sehingga lebih rapi dan seragam.
Harus Didiamkan Semalam Sebelum Digoreng
Salah satu tahapan penting dalam pembuatan alen-alen adalah proses pendiaman adonan. Alen-alen yang telah dicetak tidak langsung digoreng, melainkan harus didiamkan selama satu malam. Tujuannya agar adonan lebih padat dan menyatu sempurna sehingga tidak mudah pecah saat digoreng.
Keesokan harinya, alen-alen digoreng dalam minyak panas hingga berubah warna dan mengembang. Untuk varian tertentu, pewarna alami seperti kunyit digunakan agar menghasilkan warna kuning yang lebih menarik, khususnya pada varian original.
Kini Hadir dengan Beragam Varian Rasa
Jika dahulu alen-alen hanya tersedia dengan rasa original, kini camilan khas Trenggalek ini telah berinovasi. Beberapa produsen mulai menghadirkan varian rasa baru seperti keju untuk menyesuaikan selera generasi muda.
Meski demikian, rasa original tetap menjadi favorit karena dianggap paling autentik. Rasa gurih alami dari kelapa dan bawang putih menjadi ciri khas yang sulit ditiru oleh camilan sejenis dari daerah lain.
Oleh-Oleh Murah Meriah Favorit Pemudik
Harga alen-alen Trenggalek relatif terjangkau, sehingga banyak pemudik membeli dalam jumlah besar. Dalam video tersebut, alen-alen bahkan digambarkan bisa dibeli dengan dana terbatas namun tetap mendapatkan banyak isi, menjadikannya solusi praktis untuk oleh-oleh Lebaran.
Camilan ini tidak hanya digemari masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan yang berkunjung ke Trenggalek. Bentuknya yang unik, rasanya yang gurih, serta nilai tradisionalnya membuat alen-alen memiliki daya tarik tersendiri.
Tetap Perhatikan Keselamatan Mudik
Di balik cerita berburu alen-alen sebagai oleh-oleh, video tersebut juga menyelipkan pesan keselamatan. Penggunaan kendaraan yang tidak sesuai peruntukan, seperti motor roda tiga untuk mudik, dinilai berbahaya dan tidak dianjurkan.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi mudik dan berbagi oleh-oleh harus tetap mengutamakan keselamatan di perjalanan.
Sebagai camilan legendaris, alen-alen Trenggalek bukan sekadar makanan ringan. Ia menjadi bagian dari tradisi mudik, simbol rezeki, dan bentuk perhatian kepada keluarga di kampung halaman. Hingga kini, alen-alen tetap eksis dan terus dinikmati lintas generasi.
Editor : Findika Pratama