Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

10 Makanan Jalanan Paling Ekstrem di Dunia, Berani Coba yang Mana?

Dara Shauqy Hadiwijaya • Kamis, 29 Januari 2026 | 13:50 WIB

Deretan makanan jalanan paling ekstrem dari berbagai negara yang bikin penasaran sekaligus merinding. Kamu berani coba?
Deretan makanan jalanan paling ekstrem dari berbagai negara yang bikin penasaran sekaligus merinding. Kamu berani coba?

JAKARTA - Bayangkan kamu sedang berjalan-jalan ke negara asing dan mencicipi makanan khas pinggir jalan. Namun yang tersaji di depanmu bukan burger atau sate, melainkan telur berisi embrio, keju penuh belatung, hingga gurita hidup yang masih bergerak. Di beberapa negara, makanan jalanan bukan sekadar soal rasa, tetapi juga soal nyali. Inilah deretan makanan jalanan paling ekstrem di dunia yang bikin penasaran sekaligus merinding.

1. Balut, Filipina

Balut adalah telur bebek yang di dalamnya sudah berisi embrio setengah berkembang, lalu direbus dan dimakan langsung. Di Filipina, balut merupakan camilan populer yang dianggap kaya protein dan bernutrisi tinggi. Biasanya balut disantap dengan tambahan garam atau cuka untuk memperkuat rasa gurihnya. Bagi masyarakat lokal, balut adalah makanan biasa, namun bagi wisatawan, hidangan ini sering menjadi tantangan kuliner yang menguji keberanian.

2. Sanakji, Korea Selatan

Sanakji adalah gurita hidup yang dipotong kecil-kecil dan langsung disajikan. Meski sudah dipotong, tentakel gurita masih bergerak saat dimakan. Sensasi licin dan kenyalnya membuat makanan ini harus dikonsumsi dengan hati-hati karena tentakel bisa menempel di lidah atau langit-langit mulut. Di Korea Selatan, sanakji dipercaya kaya nutrisi dan menjadi makanan jalanan ekstrem yang cukup populer.

 

Baca Juga: Pantai Wanagriya Bogor Viral, Sensasi Pantai di Tengah Kota dengan Pasir Putih dan Tiket Masuk Terjangkau

 

3. Hotpot Raksasa, Tiongkok

Di beberapa wilayah Tiongkok, terutama saat festival atau acara besar, masyarakat memasak hotpot dalam panci super besar. Panci ini mampu menampung ratusan liter kuah pedas berisi daging, seafood, tahu, sayuran, hingga jamur eksotis. Proses memasaknya memakan waktu berjam-jam dan membutuhkan banyak orang. Hotpot raksasa bukan hanya makanan ekstrem dari segi ukuran, tetapi juga simbol kebersamaan dan kemakmuran.

4. Casu Marzu, Italia

Casu Marzu dikenal sebagai keju paling berbahaya di dunia. Keju khas Sardinia ini difermentasi dengan bantuan larva lalat hidup. Belatung di dalamnya masih aktif dan bahkan bisa melompat. Rasanya sangat tajam dengan aroma menyengat. Meski dilarang di Uni Eropa karena alasan kesehatan, Casu Marzu masih dikonsumsi secara ilegal oleh pecinta makanan ekstrem.

5. Tarantula Goreng, Kamboja

Di Kamboja, tarantula goreng menjadi camilan populer yang dijual di pasar dan pinggir jalan. Makanan ini berasal dari masa kelaparan saat warga mencari sumber protein alternatif. Tarantula dibumbui dengan bawang putih dan rempah sebelum digoreng hingga garing. Teksturnya renyah di luar dan lembut di dalam, dengan rasa yang sering disebut mirip ayam atau kepiting kecil.

 

Baca Juga: Taman Wisata Wana Griya Bogor Jadi Favorit Liburan Murah, Tiket Rp7.500 Bisa Nikmati Pantai Buatan Seluas 10 Hektar

 

6. Makanan Serangga Ekstrem, Thailand

Pasar malam Thailand terkenal dengan camilan ekstrem berbahan serangga. Mulai dari belalang goreng, kumbang air raksasa, kecebong renyah, hingga kalajengking panggang. Bahkan ada udang hidup yang disajikan masih melompat-lompat. Meski terdengar ekstrem, makanan ini kaya protein dan menjadi sumber nutrisi masyarakat setempat.

7. Hidangan Katak Ekstrem dari Berbagai Negara

Katak menjadi bahan makanan di banyak negara. Di Tiongkok, katak diolah menjadi sup herbal raksasa yang dipercaya menyehatkan. Di Prancis, kaki katak goreng menjadi hidangan mewah dengan mentega dan bawang putih. Sementara di Indonesia, khususnya Jawa Barat, ada sike atau sup kaki katak dengan kuah kecap yang gurih. Meski terlihat ekstrem, daging katak dikenal tinggi protein.

8. Hákarl, Islandia

Hákarl adalah daging hiu Greenland yang difermentasi selama berbulan-bulan. Daging hiu ini beracun jika dimakan mentah, sehingga harus difermentasi untuk menghilangkan racunnya. Aroma Hákarl sangat menyengat, mirip amonia atau ikan busuk. Banyak wisatawan kesulitan menelannya, namun bagi masyarakat Islandia, Hákarl adalah warisan kuliner tradisional.

9. Bodok, Mongolia

Bodok adalah metode memasak ekstrem khas Mongolia. Seekor kambing atau marmot dimasak dari dalam tubuhnya menggunakan batu panas yang dimasukkan langsung ke rongga perut. Setelah dijahit kembali, hewan tersebut dipanggang hingga matang. Teknik ini menghasilkan daging yang lembut dan beraroma khas, meski proses memasaknya terlihat cukup ekstrem bagi sebagian orang.

 

Baca Juga: Pantai Buatan Wanagria Bogor Viral, Tiket Cuma Rp7.500 tapi Fasilitasnya Lengkap dan Serasa di Pantai Asli

 

10. Makanan Raksasa Festival India

Di India, makanan ekstrem tidak selalu soal bahan, tetapi juga ukuran. Saat festival besar, masyarakat memasak hidangan tradisional dalam panci raksasa yang menampung ratusan kilogram makanan. Bahkan ada koki yang harus menggunakan tangga untuk mengaduk masakan. Makanan raksasa ini menjadi simbol kebersamaan, tradisi, dan kemeriahan budaya India.

Penutup
Dari balut hingga bodok, makanan jalanan ekstrem di dunia menunjukkan betapa beragamnya budaya kuliner manusia. Bagi sebagian orang, makanan ini mungkin terlihat menyeramkan, tapi bagi masyarakat lokal, hidangan tersebut adalah bagian dari tradisi dan identitas. Dari semua daftar di atas, mana yang paling menantang menurutmu?

Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya
#kuliner ekstrim #Ekstrim #makanan jalanan