Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Paniki, Kuliner Ekstrem Khas Minahasa yang Pedas, Gurih, dan Sarat Budaya

Dara Shauqy Hadiwijaya • Kamis, 29 Januari 2026 | 14:10 WIB

Paniki adalah masakan khas Minahasa berbahan daging kelelawar dengan bumbu rempah dan santan yang kaya rasa serta penuh nilai budaya.
Paniki adalah masakan khas Minahasa berbahan daging kelelawar dengan bumbu rempah dan santan yang kaya rasa serta penuh nilai budaya.

JAKARTA - Indonesia dikenal memiliki ragam kuliner unik dari Sabang sampai Merauke. Salah satu yang paling sering menarik perhatian wisatawan adalah paniki, masakan tradisional khas Minahasa, Sulawesi Utara. Hidangan ini tergolong kuliner ekstrem karena menggunakan daging kelelawar buah atau codot sebagai bahan utama, namun bagi masyarakat setempat, paniki adalah bagian dari warisan budaya yang sudah dikenal turun-temurun.

Paniki dikenal dengan cita rasa pedas, gurih, dan aromatik. Penggunaan santan kental berpadu dengan rempah-rempah khas membuat hidangan ini memiliki karakter rasa yang kuat dan khas masakan Manado.

Bahan Utama dan Proses Pengolahan Paniki

Bahan utama paniki adalah kelelawar buah yang telah melalui proses pembersihan secara khusus. Kelelawar biasanya dibakar terlebih dahulu untuk menghilangkan bulu-bulu halus sekaligus mengurangi aroma khas dagingnya. Setelah itu, daging direbus atau dipresto hingga empuk sebelum dimasak lebih lanjut.

Tahap akhir memasak paniki dilakukan dengan mencampurkan daging kelelawar ke dalam santan yang telah dibumbui. Proses ini berlangsung hingga bumbu meresap sempurna dan kuah menyusut, menghasilkan tekstur daging yang lembut dengan rasa yang kaya.

Rempah Khas dan Cita Rasa Ikonik

Salah satu kekuatan paniki terletak pada racikan bumbunya. Rempah yang umum digunakan antara lain serai, daun jeruk, jahe, kunyit, daun pandan, serta daun kemangi. Cabai digunakan dalam jumlah cukup banyak, menjadikan paniki sebagai hidangan bercita rasa pedas khas Minahasa.

Perpaduan santan dan rempah menghasilkan rasa gurih yang kuat, sementara daging kelelawar memberikan sensasi manis alami dengan tekstur yang lembut jika dimasak dengan benar.

 

Baca Juga: Sompil Mak Kontring Trenggalek Jadi Buruan Wisata Kuliner, Berdiri Sejak 2000, Sehari Ludes Hingga 20 Kilo

 

Ayam Paniki, Alternatif yang Lebih Populer

Karena daging kelelawar tidak selalu mudah didapat dan tidak semua orang berani mencobanya, muncul variasi paniki yang lebih umum, yaitu ayam paniki. Versi ini menggunakan ayam sebagai pengganti daging kelelawar, namun tetap mempertahankan bumbu dan teknik memasak yang sama.

Ayam paniki kini menjadi pilihan favorit di banyak rumah makan Manado karena lebih ramah bagi lidah wisatawan, tanpa menghilangkan cita rasa khas paniki.

Makna Budaya Paniki bagi Masyarakat Minahasa

Bagi masyarakat Minahasa, paniki bukan sekadar makanan ekstrem. Hidangan ini merupakan bagian dari identitas budaya dan sering disajikan dalam acara adat, perayaan keluarga, atau jamuan khusus. Keberadaannya mencerminkan kekayaan tradisi kuliner Sulawesi Utara yang berani, kuat, dan penuh karakter.

Saat ini, paniki dapat ditemukan di berbagai restoran khas Manado dan sering menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan sisi unik kuliner Nusantara.

Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya
#Ekstrem #kuliner #kuliner ekstrem