JAKARTA – Makaroni Mang Ade dan Seblak Caca Tasikmalaya kembali viral di media sosial. Dua kuliner pedas legendaris ini disebut-sebut sebagai pelopor camilan dan seblak dengan cita rasa khas yang bikin nagih, bahkan sanggup tembus level pedas ekstrem hingga level 15.
Dalam penelusuran terbaru, kreator kuliner mencoba langsung sensasi pedas dari Makaroni Mang Ade dan Seblak Caca Tasikmalaya.
Hasilnya? Pedasnya bukan sekadar menyengat, tetapi tetap nyaman di lidah dan lambung.
Baca Juga: 12 Kuliner Ekstrem di Bali yang Bikin Merinding, Berani Coba yang Mana?
Fenomena Makaroni Mang Ade dan Seblak Caca Tasikmalaya ini menarik perhatian karena konsistensi rasa dan rahasia bumbu yang tetap dipertahankan sejak awal berdiri.
Bahkan, keduanya sama-sama menggunakan racikan cabai alami untuk menjaga kualitas pedas yang “nampol tapi tidak menyiksa”.
Makaroni Mang Ade, Pelopor Camilan Pedas dari Tahun 2000
Makaroni Mang Ade sudah berjualan sejak tahun 2000. Usaha ini awalnya dirintis oleh orang tua, lalu dilanjutkan generasi kedua.
Dalam sehari, saat ramai, penjualan bisa mencapai lima karung makaroni.
Satu karung berisi sekitar 30 kilogram. Artinya, dalam kondisi ramai, Makaroni Mang Ade mampu menghabiskan hingga 150 kilogram makaroni per hari. Sementara di hari biasa, rata-rata tetap ludes sekitar 90 kilogram.
Baca Juga: Review Restoran dengan Menu Andalan
Pembeli bisa memilih varian makaroni kering atau basah, dengan tingkat kepedasan mulai dari sedang hingga pedas banget.Harga pun ramah di kantong, mulai Rp5.000 hingga pembelian per kilogram.
Rahasia Pedas Alami yang Bikin Nagih
Salah satu kunci kenikmatan Makaroni Mang Ade adalah penggunaan cabai bubuk berkualitas yang terbuat dari cabai asli. Racikan bumbu asin gurihnya berasal dari resep dapur turun-temurun.
Hasilnya, rasa pedas terasa kuat namun tetap alami. Tidak pahit, tidak getir, dan tidak membuat perut terasa panas berlebihan.
Untuk varian basah, tekstur makaroni lebih lembut sehingga cocok dijadikan lauk pendamping nasi. Sedangkan makaroni kering pas sebagai camilan santai.
Tak heran jika banyak yang menyebut makaroni pedas Tasikmalaya ini sebagai salah satu pelopor camilan pedas yang kemudian populer hingga ke berbagai kota besar.
Seblak Caca Tasikmalaya, Berani Level 15
Tak kalah menarik, Seblak Caca Tasikmalaya yang berada di perbatasan Ciamis–Tasik juga jadi incaran pecinta pedas.
Konsepnya prasmanan, sehingga pembeli bebas memilih topping mulai dari kerupuk, bakso jumbo, telur, sayap ayam, cuanki lidah, hingga batagor mini.
Harga topping dimulai dari Rp500 per item. Untuk satu mangkuk lengkap dengan bakso besar seharga Rp10.000, total bisa sekitar Rp37.500 tergantung pilihan isian.
Baca Juga: Kreasi Lezat dari Singkong: Camilan Rumahan yang Bisa Jadi Ide Jualan
Yang unik, tingkat kepedasan bisa dipilih mulai level 1 hingga 5. Namun, bagi pecinta pedas ekstrem, ternyata bisa request lebih tinggi.
Dalam pengalaman terbaru, pembeli bahkan memesan hingga level 15—dan disebut sebagai yang pertama melakukannya.
Pedas Lekoh, Gurih dan Nyaman di Perut
Seblak Caca Tasikmalaya memiliki ciri khas kuah nyemek dengan aroma kencur yang kuat. Rasa gurih-asin berpadu dengan pedas yang bertahap naik, namun tetap nyaman di lambung.
Menurut pengelola, rahasia sambalnya merupakan racikan dapur sendiri yang dipadukan dengan cabai asli dan sambal cabai pilihan.
Perpaduan inilah yang membuat pedasnya terasa bersih, tidak pahit, dan tetap nikmat meski levelnya tinggi.
Baca Juga: Lamtoro: Manfaat, Kandungan Gizi, dan Beragam Resep Olahan Lezat di Rumah
Menariknya, dua mangkuk seblak dengan level berbeda hanya menghabiskan sekitar Rp62.000. Harga yang dinilai sangat terjangkau untuk porsi besar dan topping melimpah.
Kuliner Pedas Tasikmalaya yang Wajib Dicoba
Baik Makaroni Mang Ade maupun Seblak Caca Tasikmalaya membuktikan bahwa kuliner pedas bukan hanya soal tingkat kepedasan, tetapi juga keseimbangan rasa.
Cita rasa lekoh, gurih, dan pedas alami menjadi daya tarik utama. Tak heran jika keduanya terus viral dan menjadi destinasi wajib bagi pecinta kuliner pedas saat berkunjung ke Tasikmalaya.(*)
Editor : Adinda Putri Sefiana