Trenggalek – Kuliner tradisional kembali mencuri perhatian publik. Sompil Khas Trenggalek kini menjadi salah satu hidangan yang banyak diburu warga maupun pendatang karena keunikan bentuk, cita rasa, hingga harga yang sangat terjangkau. Sajian ini mudah ditemukan di wilayah Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terutama di warung-warung sederhana yang masih mempertahankan resep turun-temurun.
Sompil Khas Trenggalek memiliki tampilan yang berbeda dari lontong sayur pada umumnya. Jika biasanya lontong berbentuk silinder panjang, di Trenggalek sajian ini dibuat menyerupai kerucut kecil seperti tumpeng mini. Masyarakat setempat menyebut lontong tersebut dengan istilah “sompil”, yang menjadi identitas kuliner khas daerah ini. Keunikan bentuk ini bukan hanya estetika, tetapi juga menjadi daya tarik utama bagi pembeli.
Di salah satu warung yang dikenal milik warga setempat di Dusun Beji, Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Sompil Khas Trenggalek masih dipertahankan dengan cara tradisional. Lontong dibungkus menggunakan daun pisang yang memberikan aroma khas dan rasa yang lebih autentik. Cara ini dipercaya mampu menambah cita rasa sekaligus menjaga kualitas makanan tetap hangat dan nikmat saat disajikan.
Cita Rasa Santan Pedas dan Tewel Khas Desa
Keistimewaan lain dari Sompil Khas Trenggalek terletak pada kuahnya. Hidangan ini menggunakan kuah santan dengan cita rasa pedas yang disebut masyarakat sebagai “jangan”. Isian sayurnya pun bervariasi, namun yang paling sering digunakan adalah tewel atau nangka muda yang dimasak hingga lembut. Kombinasi santan gurih, pedas, dan tekstur tewel menciptakan rasa yang khas dan sulit ditemukan di daerah lain.
Menurut penuturan penjual, kunci kelezatan Sompil Khas Trenggalek bukan hanya pada bumbu, tetapi juga proses memasaknya. Sayur yang digunakan harus diolah dan didiamkan semalaman agar bumbu meresap sempurna. Teknik tradisional ini dipercaya menghasilkan rasa yang lebih kuat dan konsisten setiap hari.
Warisan Kuliner Sejak Tahun 2000
Warung yang menjual Sompil Khas Trenggalek ini telah berdiri sejak sekitar tahun 2000 dan masih bertahan hingga sekarang. Dalam perjalanannya, kuliner ini menjadi salah satu ikon sarapan pagi masyarakat Gandusari. Tidak sedikit pelanggan yang datang dari luar daerah hanya untuk mencicipi sajian sederhana ini.
Mayoritas penjual masih mempertahankan cara penyajian lama, yaitu menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Selain ramah lingkungan, metode ini juga memberikan aroma khas yang memperkuat identitas kuliner tradisional Trenggalek. Bentuk kerucutnya sendiri disebut menyerupai cangkang keong, sehingga memiliki filosofi unik dalam penyebutannya.
Baca Juga: HP Murah Terbaik 2026 RAM 12 GB, Performa Ngebut dan Kamera Makin Canggih
Harga Terjangkau dan Selalu Diburu
Salah satu alasan Sompil Khas Trenggalek tetap populer adalah harganya yang sangat ramah di kantong. Satu porsi kuliner ini hanya dibanderol sekitar Rp5.000 dan sudah termasuk lauk sederhana seperti tempe goreng. Dengan harga tersebut, pembeli sudah mendapatkan makanan yang mengenyangkan sekaligus bercita rasa khas daerah.
Tidak heran jika warung ini sering dipadati pembeli, terutama pada pagi hari. Bahkan, saat musim ramai, antrean pembeli kerap terlihat mengular. Meski sederhana, cita rasa dan keaslian resep membuat kuliner ini tetap bertahan di tengah banyaknya makanan modern.
Identitas Kuliner Lokal yang Tetap Hidup
Hingga kini, Sompil Khas Trenggalek bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Keberadaannya menjadi bukti bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat, meskipun zaman terus berkembang.
Editor : Maylanni Diana Fitri