Trenggalek Njenggalek – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat mulai berburu kuliner khas untuk dijadikan hantaran lebaran. Salah satu yang paling diminati adalah Ayam Lodho Khas Trenggalek, kuliner legendaris racikan Pak Yusuf yang telah berdiri sejak tahun 1987 dan dikenal memiliki cita rasa gurih pedas yang khas.
Ayam Lodho Khas Trenggalek bukan sekadar makanan biasa, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat dalam menyambut hari besar keagamaan. Kuliner ini kerap dijadikan hidangan utama maupun hantaran untuk sanak saudara saat Lebaran tiba, karena daya tahannya yang baik serta rasa yang semakin nikmat setelah didiamkan.
Warung Ayam Lodho Pak Yusuf yang berlokasi di Trenggalek, Jawa Timur, tetap mempertahankan resep tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Ciri khas utama dari Ayam Lodho Khas Trenggalek ini terletak pada penggunaan ayam kampung sebagai bahan utama, yang kemudian dimasak dengan bumbu rempah khas Jawa yang kaya rasa.
Baca Juga: Samsung Galaxy A Series 2026 Makin Mirip Flagship, Kamera AI dan AMOLED 120Hz Jadi Andalan
Racikan Bumbu Tradisional dalam Skala Besar
Keunikan lain dari Ayam Lodho Khas Trenggalek adalah penggunaan bumbu dalam jumlah besar yang diolah setiap harinya. Dalam satu kali proses memasak, diperlukan sekitar satu kuintal bawang merah, 25 kilogram bawang putih, 80 kilogram cabai rawit, dan 25 kilogram cabai besar. Kombinasi bumbu tersebut menghasilkan cita rasa pedas, gurih, dan kaya rempah yang menjadi ciri khas utama hidangan ini.
Menurut pengelola usaha, racikan bumbu tersebut bukan dibuat sembarangan, melainkan berdasarkan formula keluarga yang telah diwariskan sejak lama. Setiap proses pengolahan dilakukan dengan standar khusus, termasuk pemilihan ayam kampung yang berkualitas serta proses penyembelihan yang dilakukan sendiri untuk menjaga kesegaran bahan baku.
Laris Manis Saat Ramadan dan Lebaran
Memasuki bulan Ramadan, permintaan Ayam Lodho Khas Trenggalek meningkat tajam. Setiap harinya, warung ini mampu menjual sedikitnya 150 ekor ayam kampung. Tidak hanya untuk konsumsi langsung, banyak pelanggan yang membeli dalam jumlah besar untuk dijadikan hidangan buka puasa maupun hantaran Lebaran.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Ayam Lodho Pak Yusuf tidak hanya menjadi makanan favorit, tetapi juga sudah menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Trenggalek saat momen hari besar keagamaan. Banyak pembeli yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur untuk mendapatkan hidangan khas ini.
Baca Juga: Samsung Galaxy A Series 2026 Semakin Canggih, HP Mid-Range dengan AI dan Kamera Flagship
Cita Rasa Khas yang Tak Tergantikan
Keunggulan Ayam Lodho Khas Trenggalek terletak pada rasa yang berbeda dari olahan ayam pada umumnya. Penggunaan ayam kampung membuat tekstur daging lebih kenyal dan gurih, sementara bumbu santan pedas memberikan sensasi rasa yang kuat dan meresap hingga ke dalam daging.
Banyak pelanggan yang mengaku bahwa cita rasa ayam lodho di tempat ini memiliki karakter yang khas dan sulit ditiru. Proses memasak yang lama serta penggunaan rempah segar menjadi faktor utama yang membuat hidangan ini tetap diminati selama puluhan tahun.
Jadi Menu Wajib Saat Lebaran
Tidak hanya untuk konsumsi harian, Ayam Lodho Khas Trenggalek juga sering dijadikan menu wajib saat Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat percaya bahwa hidangan ini mampu mempererat silaturahmi karena sering disajikan dalam acara keluarga besar.
Selain itu, kemasannya yang praktis membuat ayam lodho mudah dibawa sebagai hantaran. Hal ini menjadikannya salah satu kuliner khas Trenggalek yang selalu diburu menjelang Lebaran setiap tahunnya.
Warisan Kuliner yang Terus Bertahan
Hingga kini, Ayam Lodho Pak Yusuf tetap menjadi salah satu ikon kuliner Trenggalek yang bertahan di tengah persaingan makanan modern. Dengan mempertahankan resep asli sejak 1987, usaha ini berhasil menjaga kepercayaan pelanggan lintas generasi.
Keberadaan Ayam Lodho Khas Trenggalek tidak hanya memperkaya khazanah kuliner daerah, tetapi juga menjadi bukti bahwa makanan tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Editor : Maylanni Diana Fitri