Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Rahasia Tape Bondowoso Tetap Manis dan Legit: Ternyata Proses Produksi Harus Pakai Singkong Berumur di Atas Satu Tahun dan Pantang Kena Garam!

Vicky Permana Saputra • Minggu, 24 Mei 2026 | 19:40 WIB
Rahasia kelezatan tape Bondowoso terungkap! Harus pakai singkong umur 1 tahun dan pantang kena garam. Simak proses pembuatan tape manis dan legit di sini!(Pinterest)
Rahasia kelezatan tape Bondowoso terungkap! Harus pakai singkong umur 1 tahun dan pantang kena garam. Simak proses pembuatan tape manis dan legit di sini!(Pinterest)

BONDOWOSO - Rahasia kelezatan tape Bondowoso yang terkenal manis, legit, dan tidak berair terletak pada pemilihan bahan baku singkong khusus yang harus berumur minimal 9 hingga 16 bulan. Kabupaten yang dijuluki Kota Tape ini memiliki ratusan industri rumahan yang memproduksi puluhan ton kuliner fermentasi setiap harinya dengan standar kebersihan yang sangat ketat. Keunggulan tape khas Bondowoso dibandingkan daerah lain adalah teksturnya yang tetap padat dan awet karena menggunakan singkong dari lahan pertanian lokal, seperti daerah Tamanan, yang memiliki kadar air rendah sehingga hasil fermentasinya sempurna dan tidak cepat basi.

Proses Produksi Tradisional: Mulai dari Pengupasan hingga Sterilisasi Singkong

Produksi tape di Bondowoso biasanya dimulai sejak pukul 06.00 pagi untuk memastikan kesegaran bahan baku. Salah satu pusat produksinya berada di Kecamatan Binakal, yang uniknya sering menggunakan angka sebagai merek dagang sesuai nomor rumah produksi. Proses diawali dengan mengupas kulit singkong secara bersih total karena bagian ini bersentuhan langsung dengan tanah dan berisiko membawa kontaminasi bakteri yang bisa menggagalkan fermentasi.

Setelah dikupas, singkong harus melewati tahap pengerokan kulit ari untuk menghilangkan getah tebal yang bisa memicu rasa pahit dan aroma tidak sedap. Singkong kemudian dicuci berkali-kali menggunakan air mengalir hingga teksturnya terasa kesat dan air cucian menjadi jernih. Setelah bersih, singkong direbus selama kurang lebih 30 menit atau hanya sampai setengah matang. "Kalau kematangan nanti hasilnya lembek, tapi kalau setengah matang begini ragi lebih mudah meresap," ujar salah satu pekerja di rumah produksi tersebut.

Baca Juga: Yamaha Aerox Alpha Turbo Raih Motor Terbaik 2025, Teknologi YECVT dan Fitur Canggih Jadi Senjata Utama

Rahasia Ragi dan Pantangan Ketat: Dilarang Kena Minyak dan Garam

Kunci sukses fermentasi tape Bondowoso terletak pada penggunaan ragi berkualitas yang terdiri dari campuran tepung beras, bawang putih, kayu manis, serta mikroorganisme terpilih. Ada pantangan unik yang dipegang teguh oleh para perajin: singkong rebus tidak boleh terkontaminasi oleh minyak atau garam. "Pantangannya itu minyak dan garam, karena bisa membuat rasa tape menjadi kecut," jelas produsen setempat. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan bakteri dan jamur yang bertugas mengubah pati menjadi gula sederhana.

Selain pantangan bahan, suhu singkong saat penaburan ragi juga menjadi faktor krusial. Singkong yang baru direbus harus didinginkan sepenuhnya terlebih dahulu; jika ragi ditaburkan saat singkong masih panas, mikroorganisme dalam ragi akan mati dan menyebabkan tape gagal total atau terasa pahit. Dalam sehari, satu rumah produksi skala besar mampu mengolah hingga 2 ton singkong. Tape yang sudah diberi ragi kemudian didiamkan (fermentasi) selama 2 hingga 3 hari di dalam wadah tertutup hingga aromanya harum dan rasanya menjadi legit.

Sejarah Kota Tape dan Inovasi Kuliner Bondowoso yang Mendunia

Tape dan Bondowoso menjadi identitas yang tak terpisahkan sejak tahun 1960-an, didukung oleh sekitar 70 hektar lahan pertanian singkong di wilayah tersebut. Sejarah mencatat bahwa pengolahan singkong menjadi tape awalnya adalah cara tradisional masyarakat untuk mengawetkan hasil bumi yang melimpah menggunakan ragi alami. Kini, industri ini berkembang pesat tidak hanya menjual tape original dalam besek, tetapi juga berbagai varian inovatif seperti prol tape, bolu tape, hingga tape crispy yang digoreng garing namun tetap terasa legit.

Baca Juga: Yamaha Aerox 2026 Resmi Hadir, Warna Baru Turbo dan Cyber City Jadi Sorotan, Harga Mulai Rp29,9 Juta

Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau; tape dalam kemasan besek standar dibandrol sekitar Rp13.000, sedangkan untuk kualitas premium atau super dihargai Rp15.000 per besek. Kegagalan produksi biasanya hanya terjadi jika bahan baku singkong yang digunakan mengandung terlalu banyak pupuk urea atau ditanam di bawah pohon sengon yang cenderung membuat rasa menjadi pahit. Dengan kualitas yang terus terjaga, tape Bondowoso tetap menjadi primadona oleh-oleh khas Jawa Timur yang diminati hingga ke luar daerah.

Penutup Keberhasilan Bondowoso mempertahankan julukan Kota Tape dibuktikan dengan konsistensi para perajin dalam menjaga rahasia turun-temurun dari para leluhur. Mulai dari pemilihan singkong berumur tua hingga ketaatan pada pantangan tradisional, setiap proses dilakukan untuk menghasilkan cita rasa manis alami tanpa pemanis buatan. Bagi Anda yang berkunjung ke Jawa Timur, mencicipi legitnya tape Bondowoso langsung dari rumah produksinya adalah pengalaman kuliner yang tidak boleh dilewatkan.

Editor : Vicky Permana Saputra
#Tape Bondowoso #Kuliner Khas Bondowoso #Cara Membuat Tape Singkong #Oleh-oleh Jawa Timur #Sejarah Kota Tape