JAKARTA – Kisah sukses bisnis bordir yang dijalankan pasangan Anwar dan Fitria menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih kesuksesan. Berbekal modal hanya Rp40 ribu dan penghasilan gabungan suami istri sekitar Rp1 juta per bulan, mereka berhasil membangun usaha dari nol hingga mencatat perputaran uang ratusan juta rupiah.
Perjalanan bisnis bordir tersebut tidak berlangsung instan. Keduanya memulai usaha saat masih berstatus mahasiswa dan bekerja dengan gaji minim. Bahkan setelah menikah, mereka harus hidup hemat karena sebagian besar penghasilan digunakan untuk biaya kontrakan dan kebutuhan kuliah.
Menurut Fitria, kunci utama yang membuat mereka bertahan hingga mampu mengembangkan bisnis adalah disiplin dalam mengatur keuangan sejak penghasilan masih sangat kecil.
“Justru saat uang sedikit harus diatur. Kalau tidak diatur pasti akan gali lubang tutup lubang,” ujarnya.
Sebelum sukses di bisnis bordir, pasangan ini terlebih dahulu mencoba berbagai usaha kecil-kecilan. Salah satunya adalah menjual nugget homemade dengan modal sekitar Rp40 ribu.
Saat itu mereka belum memiliki blender maupun freezer. Semua proses produksi dilakukan secara manual. Sistem penjualannya menggunakan pre-order (PO) untuk menghindari stok yang berisiko tidak laku.
Produk tersebut dipasarkan melalui Facebook dan dititipkan di kantin sekolah tempat Fitria mengajar. Hasil penjualan digunakan sebagai pemasukan harian dan mingguan.
Mereka membagi keuangan menjadi tiga kategori, yakni harian, mingguan, dan bulanan. Pemasukan harian digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, mingguan untuk biaya kuliah, sedangkan penghasilan bulanan digunakan membayar kontrakan dan kebutuhan rumah tangga.
Tidak hanya nugget, pasangan ini juga sempat mencoba berbagai jenis usaha lain. Mulai dari bisnis hijab, lumpia, tiwul instan, es gabus hingga berbagai produk makanan lainnya.
Bahkan saat masih kuliah dan bekerja, mereka tetap menyempatkan diri menjalankan bisnis sampingan demi menambah penghasilan.
Salah satu usaha yang cukup berkembang adalah bisnis hijab. Dengan modal sekitar Rp45 ribu untuk membeli kain, mereka membuat sampel lalu menawarkan kepada teman-teman dan lingkungan sekolah Islam.
Tak disangka, pesanan pertama langsung mencapai 45 pcs. Dari sinilah usaha mereka berkembang hingga mampu menghasilkan omzet dua digit per bulan.
Setelah menyelesaikan kuliah, Anwar mulai serius menekuni dunia bordir. Ia memiliki pengalaman bekerja di bidang tersebut sejak tahun 2007 saat merantau ke luar daerah.
Pengalaman itu menjadi modal berharga ketika memutuskan membangun bisnis bordir sendiri di Tulungagung.
Awalnya mereka hanya menerima pesanan dan menyerahkan pengerjaan kepada pihak lain. Namun kualitas dan kecepatan produksi yang tidak sesuai harapan membuat mereka memutuskan membeli mesin bordir sendiri.
Keputusan itu tidak mudah karena harga mesin mencapai ratusan juta rupiah.
“Kami tidak punya uang penuh untuk membeli mesin. Tapi kami sudah melihat pasar dan permintaan yang terus meningkat,” kata Anwar.
Pasangan ini mengaku tidak anti terhadap utang. Namun mereka hanya berani berutang untuk aset yang benar-benar produktif dan menghasilkan keuntungan.
Mesin bordir pertama dibeli dengan sistem pembayaran bertahap. Sebagian dana berasal dari pinjaman perbankan dan sebagian lagi dari skema pembayaran lunak yang diberikan penjual mesin.
Menurut Fitria, sebelum mengambil pinjaman mereka selalu menghitung kemampuan aset menghasilkan pendapatan.
“Kalau asetnya jelas menghasilkan dan bisa menutup cicilan, kami berani ambil,” jelasnya. Kini mereka memiliki dua mesin bordir yang menjadi tulang punggung bisnis.
Meski bergerak di bidang jasa bordir, sumber pendapatan mereka tidak hanya berasal dari bordir semata.
Pasangan ini mengembangkan berbagai produk turunan seperti konveksi seragam, selempang wisuda, hingga gantungan kunci custom dari sisa bahan produksi.
Strategi tersebut membuat pendapatan meningkat lebih cepat dibanding hanya mengandalkan jasa bordir. Selain itu, mereka juga fokus membangun pasar melalui media sosial, terutama Instagram.
Konsistensi membuat konten selama bertahun-tahun berhasil mendatangkan banyak reseller dan pelanggan dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Saat ini pesanan datang dari Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Blitar, Ponorogo, Nganjuk hingga Ngawi.
Meski usaha terus berkembang, pasangan ini tetap memegang prinsip hidup sederhana dan disiplin keuangan.
“Kalau uang sedikit saja bisa diatur, nanti saat uang banyak akan lebih mudah mengelolanya,” pungkas Fitria. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana