TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Membuat roti sourdough di rumah membutuhkan starter alami yang aktif, proses fermentasi yang panjang, serta teknik memanggang yang tepat. Meski memerlukan kesabaran, hasil akhirnya menghadirkan roti bertekstur renyah di luar, lembut di dalam, dan memiliki cita rasa asam khas fermentasi alami.
Sourdough menjadi salah satu jenis roti yang semakin banyak diminati karena dibuat melalui fermentasi alami tanpa menggunakan ragi instan. Selain memiliki karakter rasa yang berbeda, roti ini juga dikenal melalui teksturnya yang renyah di bagian luar dan lembut di bagian dalam.
Dalam sebuah video YouTube, pembuat konten membagikan pengalaman membuat sourdough di rumah, mulai dari merawat starter, proses fermentasi, hingga memanggang menggunakan Dutch oven. Ia juga menceritakan alasan memilih membuat sourdough sendiri dibanding membeli roti jadi.
Ketertarikan pada Sourdough Berawal dari Video YouTube
Pembuat konten mengaku mulai tertarik pada sourdough setelah sering menonton video proses pembuatan roti tersebut di YouTube.
Menurutnya, bentuk roti sourdough dan tampilannya ketika dipanggang menjadi daya tarik utama hingga akhirnya ia mencoba membuat sendiri di rumah.
Meski sering melihat proses pembuatannya melalui media sosial, ia mengaku belum pernah mencicipi sourdough sebelum mencoba membuatnya sendiri.
Starter Diberi Nama Robet
Starter atau biang fermentasi yang digunakan diberi nama "Robet".
Dalam video dijelaskan bahwa starter tersebut telah berusia sekitar sembilan bulan dan pertama kali dibuat pada 22 Juni 2026.
Sebelum digunakan membuat roti, starter terlebih dahulu dikeluarkan dari lemari pendingin selama sekitar dua jam untuk kemudian diberi makan atau feeding.
Starter dipindahkan ke wadah yang bersih sebelum dicampur dengan tepung dan air.
Feeding Dilakukan Hingga Starter Aktif
Proses feeding dilakukan dengan mencampurkan starter bersama tepung dan air hingga seluruh tepung tercampur rata.
Setelah selesai, wadah diberi penanda menggunakan karet gelang untuk memantau kenaikan volume starter.
Starter kemudian didiamkan pada suhu ruang tanpa menutup rapat wadahnya.
Beberapa jam kemudian, starter tampak mengembang hingga hampir menyentuh tutup wadah. Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa starter telah aktif dan siap digunakan.
Pembuat video juga memperlihatkan aroma starter yang menurutnya harum sebagai salah satu indikator fermentasi berjalan dengan baik.
Uji Float Test Sebelum Membuat Adonan
Sebelum digunakan, starter diuji menggunakan metode float test.
Caranya dengan memasukkan sedikit starter ke dalam air.
Starter yang mengapung dinilai telah cukup aktif untuk digunakan sebagai pengembang alami adonan sourdough.
Sementara sisa starter disimpan kembali untuk digunakan pada kesempatan berikutnya.
Tepung Dicampur Hingga Merata
Setelah starter dinyatakan siap, proses pembuatan adonan dimulai.
Starter dicampur bersama air dan tepung hingga seluruh bahan tercampur rata tanpa menyisakan tepung kering.
Dalam video disebutkan bahwa proses pencampuran dapat menggunakan alat khusus maupun peralatan sederhana seperti sendok, garpu, atau tangan.
Adonan kemudian ditutup menggunakan kain sebelum memasuki tahap istirahat pertama.
Stretch and Fold Dilakukan Bertahap
Setelah proses istirahat, adonan memasuki tahapan stretch and fold atau menarik dan melipat adonan.
Teknik ini dilakukan beberapa kali selama fermentasi berlangsung.
Sebelum memegang adonan, tangan dibasahi terlebih dahulu agar tidak lengket.
Pada tahap berikutnya, garam ditambahkan ke dalam adonan sebelum kembali dilakukan proses stretch and fold.
Menurut pembuat video, teknik ini dilakukan hingga beberapa kali sebelum adonan dibentuk.
Shaping dan Fermentasi di Lemari Pendingin
Setelah fermentasi selesai, adonan dibentuk menjadi bulat.
Selanjutnya adonan dimasukkan ke dalam banneton atau keranjang fermentasi.
Apabila tidak memiliki banneton, wadah tersebut dapat diganti menggunakan mangkuk yang dialasi kain dan ditaburi tepung.
Adonan kemudian difermentasi di dalam lemari pendingin selama minimal 12 jam.
Dalam video, proses fermentasi berlangsung sekitar 15 jam sebelum adonan dipanggang.
Dutch Oven Dipanaskan Terlebih Dahulu
Sebelum memanggang, Dutch oven dipanaskan terlebih dahulu menggunakan suhu oven paling tinggi selama sekitar satu jam.
Menurut penjelasan dalam video, Dutch oven membantu menciptakan uap selama proses pemanggangan sehingga roti matang lebih merata.
Setelah oven panas, adonan langsung dipindahkan ke dalam Dutch oven untuk dipanggang.
Pembuat video mengaku sempat merasa gugup saat melihat apakah adonan akan mengembang dengan baik selama proses memanggang.
Roti Didiamkan Sebelum Dipotong
Usai dipanggang, sourdough tidak langsung dipotong.
Roti didiamkan selama sekitar satu hingga dua jam agar proses pendinginan berlangsung sempurna.
Setelah itu, bagian dalam roti diperlihatkan dengan tekstur berpori yang menjadi ciri khas sourdough.
Pembuat video menyebut hasil tersebut membuatnya puas karena roti berhasil mengembang dengan baik.
Sourdough Dinikmati dengan Mentega
Setelah selesai dipotong, sourdough kembali dipanggang di atas wajan datar menggunakan mentega.
Menurut pembuat video, cara tersebut menjadi favorit untuk menikmati sourdough.
Ia menyebut perpaduan roti sourdough, mentega, dan sedikit garam sudah cukup menghasilkan rasa yang lezat.
Selain disantap sebagai roti panggang, sourdough juga disebut dapat diolah menjadi berbagai menu lain, termasuk pizza.
Alasan Memilih Membuat Sourdough Sendiri
Dalam video juga dijelaskan alasan memilih membuat sourdough sendiri di rumah.
Salah satunya karena anggota keluarga merasa beberapa jenis roti yang dibeli di luar membuat perut mudah kembung.
Sejak rutin membuat sourdough sendiri, kondisi tersebut disebut tidak lagi dialami.
Meski mengakui belum menjadi ahli dalam membuat sourdough, pembuat video tetap membagikan pengalaman serta tahapan yang dijalani sebagai referensi bagi penonton yang ingin mencoba membuat roti fermentasi alami di rumah.
Di akhir video, ia juga mengajak penonton memberikan kritik maupun saran agar proses pembuatan sourdough yang dibagikannya dapat terus berkembang pada kesempatan berikutnya.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest