TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Kue ireng-ireng menjadi salah satu jajanan pasar yang menarik perhatian karena memiliki warna hitam pekat. Uniknya, warna tersebut bukan berasal dari pewarna makanan sintetis, melainkan dari abu daun pisang kering yang diolah hingga halus.
Kue ireng-ireng dibuat dari perpaduan tepung terigu, tepung tapioka, gula pasir, santan, garam, dan minyak goreng. Adonan kemudian diolah hingga licin dan disaring supaya teksturnya lebih halus sebelum masuk ke tahap berikutnya.
Dalam video yang dibagikan, proses membuat kue ireng-ireng diawali dari pembuatan pewarna alami. Cara ini cukup sederhana dan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di sekitar rumah, terutama daun pisang yang sudah kering.
Membuat Pewarna Alami dari Daun Pisang
Tahap pertama adalah mencari daun pisang kering. Daun yang sudah mengering dikumpulkan sekitar lima genggam, kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang tahan panas.
Daun pisang tersebut selanjutnya dibakar hingga seluruhnya berubah menjadi abu. Proses ini perlu dilakukan dengan hati-hati karena menggunakan api dan menghasilkan material panas.
Setelah api benar-benar mati, abu daun pisang tidak langsung dipindahkan. Abu perlu dibiarkan terlebih dahulu sampai dingin agar lebih aman ketika diproses.
Abu yang sudah dingin kemudian dipindahkan ke wadah lain. Agar hasilnya lebih halus, abu dapat ditumbuk, disaring, atau dihaluskan menggunakan blender kering.
Dalam pembuatan ini, blender kering dipilih karena dianggap lebih praktis. Abu daun pisang dimasukkan ke dalam blender, lalu diproses sampai teksturnya menjadi halus.
Setelah selesai, abu dipindahkan ke wadah yang lebih besar. Dari proses tersebut diperoleh sekitar 10 sendok teh abu daun pisang yang nantinya digunakan sebagai pewarna alami pada kue.
Baca Juga: Burnout di Tempat Kerja: Kenali Gejalanya Sebelum Mengganggu Produktivitas
Adonan Menggunakan Tepung Terigu dan Tapioka
Setelah pewarna alami selesai dibuat, proses dilanjutkan dengan menyiapkan adonan kue. Sebanyak 300 gram tepung terigu dimasukkan ke dalam mangkuk.
Berikutnya, tambahkan 300 gram tepung tapioka dan 300 gram gula pasir. Untuk memberikan rasa gurih sekaligus menyeimbangkan rasa manis, digunakan satu sendok teh garam.
Adonan juga diberi tiga sendok makan minyak goreng. Bahan berikutnya adalah santan sebanyak 800 mililiter.
Santan tersebut berasal dari dua bungkus santan kental yang kemudian dicairkan hingga mencapai volume 800 mililiter. Penggunaan santan menjadi salah satu komponen penting karena memberikan cita rasa gurih pada jajanan pasar tersebut.
Santan Dimasukkan Bertahap
Santan tidak langsung dituangkan seluruhnya ke dalam adonan. Cairan tersebut dimasukkan secara bertahap sambil terus diaduk.
Setelah sebagian santan masuk, adonan diaduk hingga seluruh bahan tercampur rata. Santan kemudian ditambahkan kembali dan proses pengadukan dilanjutkan.
Pengadukan dilakukan terus-menerus sampai adonan terlihat licin. Setelah seluruh santan masuk, adonan kembali diaduk hingga teksturnya benar-benar tercampur.
Tahap berikutnya adalah menyaring adonan. Penyaringan dilakukan untuk mendapatkan adonan yang lebih halus dan mengurangi bagian yang masih menggumpal.
Meski sudah disaring, dalam proses tersebut adonan masih disebut belum sepenuhnya halus. Adonan kemudian dipindahkan ke dalam gelas takar agar lebih mudah digunakan pada tahap pembuatan berikutnya.
Proses tersebut menunjukkan bahwa kue ireng-ireng tidak hanya menarik dari warna hitam alaminya, tetapi juga menggunakan teknik sederhana dalam pengolahan bahan. Pemanfaatan abu daun pisang menjadi bagian paling unik karena memberikan warna khas tanpa mengandalkan pewarna sintetis.
Catatan: Transkrip yang diberikan berhenti pada tahap adonan dipindahkan ke gelas takar. Karena itu, tahap setelahnya, termasuk cara memasak, waktu pematangan, hasil akhir, dan penyajian, tidak ditambahkan agar informasi tetap sesuai dengan sumber.
Baca Juga: Burnout Bisa Dipicu Kurang Tidur, Ini Cara Mengatur Stres agar Tak Makin Parah
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest