Kuliner Malang Malam Hari, Sego Tempong hingga Jajanan Tradisional Hampir 100 Tahun

Ayu Nur Laily • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:00 WIB

 

Kuliner Malang malam hari menghadirkan sego tempong, ayam kampung, putu, klepon, lupis hingga cenil yang sudah dijual sejak 1935.
Kuliner Malang malam hari menghadirkan sego tempong, ayam kampung, putu, klepon, lupis hingga cenil yang sudah dijual sejak 1935.

 

 

MALANG - Kuliner Malang malam hari menawarkan banyak pilihan, mulai dari makanan berat seperti sego tempong hingga jajanan tradisional yang telah berjualan selama puluhan tahun. Pengalaman tersebut terlihat dalam perjalanan kuliner yang menyusuri kawasan Kayutangan Heritage hingga mencicipi makanan tradisional di sejumlah tempat.

Perjalanan dimulai dari Kayutangan Heritage di Jalan Tunjungan, Malang. Dalam video tersebut, kawasan itu disebut sebagai salah satu lokasi yang memiliki banyak tempat untuk nongkrong dan pilihan kuliner.

Dari kawasan tersebut, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar lima menit menuju tempat makan sego tempong. Lokasi makanan tersebut berada di sebuah gang. Berdasarkan penelusuran yang disebut dalam video, tempat makan itu memiliki rating Google 4,9 dengan sekitar 2.000 ulasan.

Menu yang dicicipi antara lain sego tempong dengan berbagai lauk. Ada krengsengan, paru balado, tuna, ayam kampung, hingga ikan asin. Untuk minuman, tersedia teh manis, es cau santan deso, es dawet beras, serta soda gembira.

Baca Juga: Kuliner Murah di Jogja Masih Ada, Makan Kenyang Mulai Rp3.000

Ayam kampung menjadi salah satu menu yang dipilih. Porsi makanan yang disajikan juga disebut cukup besar.

Salah satu hal yang menarik dalam kunjungan tersebut adalah suasana tempat makan yang berada di gang. Pengunjung tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga berinteraksi dengan orang-orang di sekitar lokasi.

Dalam percakapan dengan pengelola, diketahui tempat makan sego tempong tersebut memiliki kaitan dengan Banyuwangi. Hal itu juga terlihat dari adanya unsur budaya Banyuwangi dalam suasana tempat makan, termasuk pembahasan mengenai tarian tradisional.

Tempat tersebut disebut memiliki beberapa cabang. Pusatnya berada di Langsep, kemudian cabang lainnya berada di lokasi yang dikunjungi dan satu lagi disebut berada di kawasan Suhat.

Setelah mencicipi makanan berat, perjalanan kuliner berlanjut mencari jajanan tradisional. Salah satu tujuan berikutnya adalah penjual putu yang disebut telah berjualan sejak 1935.

Jajanan yang tersedia bukan hanya putu. Ada pula klepon, lupis, dan cenil. Untuk satu porsi campuran, harga yang disebut dalam video adalah Rp18 ribu.

Penjual tersebut menjadi salah satu bagian menarik dalam perjalanan karena usaha jajanan tradisional itu telah berlangsung hampir 100 tahun. Generasi penerusnya masih melanjutkan penjualan hingga sekarang.

Putu yang dijual juga memiliki warna berbeda. Saat ditanya mengenai perbedaan putu putih dan hijau, penjual menyebut rasanya sama dan perbedaannya hanya pada warna.

Lupis dan cenil kemudian ikut dicicipi. Tekstur lupis yang lembut serta kelapa parut menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam video.

Baca Juga: Kuliner Jogja: 3 Tempat Makan Ini Bikin Ngiler, dari Sarapan Sehat hingga Seafood Segar

Keramaian tempat tersebut juga menjadi perhatian. Meski telah berjualan selama puluhan tahun, jajanan tradisional itu masih memiliki pembeli.

Perjalanan kuliner malam tersebut memperlihatkan sisi lain Kota Malang. Tidak hanya tempat makan modern atau kawasan wisata, kuliner tradisional yang berada di gang dan sudut kota juga menjadi bagian dari pengalaman menikmati Malang.

Dari makanan berat hingga jajanan tradisional, perjalanan itu menunjukkan bahwa kuliner Malang dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Ada sego tempong dengan lauk beragam, hingga putu dan jajanan pasar yang masih dipertahankan lintas generasi.

 

 

source:youtube @londonkampung

Editor : Ayu Nur Laily
Kayutangan Heritage Sego Tempong Putu Malang jajanan tradisional kuliner Malang