Putu Malang yang Dijual Sejak 1935 Masih Ramai, Ada Klepon, Lupis dan Cenil

Ayu Nur Laily • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:10 WIB

 

 

Putu Malang yang disebut dijual sejak 1935 masih bertahan hingga kini. Ada pula klepon, lupis dan cenil yang bisa dicicipi.
Putu Malang yang disebut dijual sejak 1935 masih bertahan hingga kini. Ada pula klepon, lupis dan cenil yang bisa dicicipi.
 

MALANG - Putu Malang menjadi salah satu jajanan tradisional yang dicari dalam perjalanan kuliner malam. Salah satu penjual yang dikunjungi disebut telah menjual putu sejak 1935. Hampir satu abad kemudian, jajanan tersebut masih dibuat dan dijual hingga sekarang.

Penjual putu itu menjadi tujuan setelah perjalanan mencicipi sego tempong. Jajanan tradisional tersebut disebut sebagai salah satu yang terkenal dan tertua dalam perjalanan kuliner di Malang.

Selain putu, pembeli juga dapat memilih sejumlah jajanan tradisional lain. Di antaranya klepon, lupis, dan cenil.

Harga yang disebut dalam video adalah Rp18 ribu untuk pilihan campur. Pembeli dapat memilih jajanan secara campuran maupun terpisah.

Baca Juga: Sego Tempong Malang di Gang, Porsinya Besar dan Lauknya Bikin Kalap

Salah satu hal menarik adalah keberadaan generasi penerus dalam usaha tersebut. Dalam percakapan di lokasi, diketahui bahwa penjualan putu telah dilanjutkan oleh generasi keluarga berikutnya.

Penjual juga ditanya mengenai usia ketika mulai berjualan. Dari percakapan tersebut, disebutkan bahwa generasi sebelumnya sudah berjualan sejak usia muda.

Usaha tersebut tetap berjalan meskipun kondisi kawasan di sekitarnya berubah. Dalam cerita yang muncul di video, tempat tersebut sudah dikenal sejak lama dan masih didatangi pembeli.

Putu menjadi salah satu jajanan yang langsung dicicipi. Ketika masih panas, teksturnya disebut lembut. Putu kemudian disantap bersama kelapa parut.

Perbedaan warna putu juga sempat ditanyakan. Ada putu berwarna putih dan hijau. Menurut penjual, rasanya sama dan perbedaannya hanya pada warna.

Jajanan berikutnya yang dicoba adalah lupis dan cenil. Lupis mendapat perhatian karena teksturnya yang lembut serta kelapa parut yang melengkapinya.

Sementara itu, cenil juga memiliki penyebutan berbeda di sejumlah daerah. Dalam percakapan, disebutkan bahwa cenil dikenal dengan nama lain oleh orang Surabaya.

Klepon juga menjadi bagian dari jajanan yang dicicipi. Jajanan tersebut tidak asing bagi pengunjung karena sebelumnya juga sering ditemukan dalam konsumsi sehari-hari.

Keramaian lokasi menjadi salah satu hal yang terlihat dalam kunjungan tersebut. Meski merupakan jajanan tradisional, penjual putu masih memiliki pelanggan.

Keberlangsungan penjualan selama puluhan tahun menjadi bagian yang membuat tempat tersebut menarik. Usaha kuliner yang dimulai sejak 1935 itu telah melewati beberapa generasi keluarga.

Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kuliner tradisional masih menjadi bagian dari kehidupan malam di Malang. Jajanan seperti putu, klepon, lupis, dan cenil tetap memiliki tempat di tengah pilihan kuliner lainnya.

Bagi pengunjung yang mencari jajanan tradisional, pengalaman tersebut tidak hanya soal makanan. Ada pula cerita keluarga yang mempertahankan usaha dari generasi ke generasi.

Baca Juga: 10 Hotel Murah di Yogyakarta 2026, Ada yang Dekat Malioboro Mulai Rp200 Ribuan

Putu yang dibuat dan dijual sejak 1935 menjadi salah satu bagian paling menonjol dalam perjalanan kuliner tersebut. Hampir satu abad bertahan, jajanan itu masih dapat ditemukan dan dicicipi.

Kunjungan kemudian ditutup setelah putu, lupis, klepon, dan cenil dicicipi. Perjalanan malam tersebut menjadi pengalaman kuliner yang mempertemukan makanan tradisional dengan cerita panjang sebuah keluarga penjual jajanan.

 

 

 

source:youtube @londokampung

Editor : Ayu Nur Laily
Putu Malang jajanan tradisional kuliner Malang lupis klepon