Kuliner Tertua di Malang, Putu yang Disebut Bertahan Sejak 1935

Ayu Nur Laily • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:21 WIB

 

Kuliner tertua di Malang yang disebut dalam perjalanan ini adalah putu yang telah dijual sejak 1935, bersama klepon, lupis dan cenil.
Kuliner tertua di Malang yang disebut dalam perjalanan ini adalah putu yang telah dijual sejak 1935, bersama klepon, lupis dan cenil.

 

 

MALANG - Salah satu jajanan yang disebut sebagai kuliner tertua di Malang adalah putu yang telah dijual sejak 1935. Hampir satu abad berjalan, usaha tersebut masih diteruskan hingga sekarang dan tetap ramai didatangi pembeli.

Kisah tersebut muncul dalam perjalanan kuliner malam di Malang. Setelah menikmati sego tempong, pencarian makanan dilanjutkan dengan mendatangi penjual jajanan tradisional.

Putu menjadi menu utama yang dicari. Namun, penjual juga menyediakan jajanan lain seperti klepon, lupis, dan cenil.

Dalam kunjungan tersebut, harga Rp18 ribu disebut bisa mendapatkan jajanan campuran. Pembeli juga dapat memilih masing-masing jenis jajanan secara terpisah.

Cerita mengenai sejarah penjualan putu menjadi salah satu bagian paling menarik. Penjual menyebut usaha tersebut telah berjalan sejak 1935.

Baca Juga: Kayutangan Heritage Jadi Titik Awal Berburu Kuliner Malam di Malang

Dengan perjalanan usaha yang sangat panjang, penjualan putu tersebut sudah melewati beberapa generasi. Dalam percakapan, penjual menjelaskan hubungan keluarga yang meneruskan usaha tersebut.

Generasi sebelumnya disebut sudah mulai berjualan sejak masih berusia muda. Kini, usaha tersebut tetap dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Putu yang disajikan juga langsung dicicipi. Dalam kondisi masih panas, teksturnya disebut lembut. Kelapa parut menjadi pelengkap yang membuat jajanan tersebut semakin nikmat.

Selain putu, lupis juga dicoba. Jajanan tersebut mendapat perhatian karena teksturnya dan banyaknya kelapa parut yang digunakan.

Cenil juga menjadi bagian dari sajian. Dalam percakapan, muncul pembahasan mengenai penyebutan cenil yang berbeda di daerah lain.

Klepon pun tidak dilewatkan. Jajanan tersebut disebut sudah sering ditemukan dan dikonsumsi sebelumnya.

Menariknya, perbedaan warna putu juga menjadi bahan pembicaraan. Ada putu putih dan hijau. Ketika ditanya apakah rasanya berbeda, penjual menjelaskan bahwa rasanya sama dan yang membedakan hanya warnanya.

Keramaian tempat penjualan juga menjadi perhatian. Meski telah berjualan selama puluhan tahun, pembeli masih datang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jajanan tradisional masih memiliki peminat. Putu yang dibuat dengan cara tradisional tetap menjadi bagian dari pilihan kuliner malam.

Baca Juga: Hotel Murah di Malioboro Rp150 Ribuan, Jalan Kaki 1 Menit dari Kawasan Ikonik Jogja

Dalam perjalanan itu, pengalaman mencicipi jajanan tradisional terasa berbeda dibandingkan makanan utama sebelumnya. Jika sego tempong menawarkan nasi dengan berbagai lauk dan sambal, putu serta jajanan lainnya menjadi penutup yang lebih sederhana.

Perjalanan kuliner tersebut juga memberikan kesempatan untuk berbincang langsung dengan keluarga yang menjalankan usaha. Cerita tentang usaha yang bertahan sejak 1935 menjadi bagian penting dari pengalaman kunjungan.

Bukan hanya soal rasa, keberadaan penjual selama puluhan tahun juga memperlihatkan kesinambungan sebuah usaha keluarga. Dari generasi sebelumnya hingga generasi yang sekarang, penjualan putu tetap berjalan.

Baca Juga: Putu Malang yang Dijual Sejak 1935 Masih Ramai, Ada Klepon, Lupis dan Cenil

Kisah kuliner tertua di Malang yang disebut dalam perjalanan tersebut akhirnya ditutup dengan mencicipi putu, lupis, cenil, dan klepon. Jajanan tradisional itu menjadi penutup perjalanan setelah sebelumnya menikmati makanan berat.

Bagi pencinta kuliner tradisional, kisah putu tersebut memperlihatkan bahwa makanan sederhana dapat menyimpan cerita panjang. Sejak 1935 hingga sekarang, penjualannya masih berlangsung dan menjadi bagian dari perjalanan kuliner malam di Malang.

 

 

source: youtube @londokampung

Editor : Ayu Nur Laily
Putu Malang Kuliner Tertua di Malang Jajanan Malang kuliner Malang kuliner tradisional