Bakmi Goreng Jawa Racikan Bumbu dan Rempah Khas Jogja

Amalia Rizky Indah Permadani • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 10:23 WIB
MANIS DAN GURIH: Bakmi jawa termasuk makanan tradisional yang digemari anak-anak dan orang tua serta bisa disajikan di warung kali lima hingga restoran.(AMALIA RIZKY IP/RADAR TRENGGALEK)
MANIS DAN GURIH: Bakmi jawa termasuk makanan tradisional yang digemari anak-anak dan orang tua serta bisa disajikan di warung kali lima hingga restoran.(AMALIA RIZKY IP/RADAR TRENGGALEK)

SEPIRING bakmi goreng jawa dengan cita rasa manis dan gurih menjadi salah satu menu yang akrab di lidah masyarakat Indonesia. Dari warung kaki lima hingga restoran, bakmi hadir dengan beragam racikan dan cara penyajian.

Menu tersebut menjadi salah satu sajian yang dihadirkan kafe di Trenggalek dengan mengusung cita rasa bakmi goreng Jawa khas Jogja.

“Awalnya saya memilih bakmi karena menyesuaikan dengan tempat yang ada. Sebelumnya, tempat ini bernama Hanooman Cafe and Eatery yang dikelola oleh pemilik sebelumnya. Setelah saya mengelola tempat ini, menurut saya, menu bakmi sangat cocok dengan konsep bangunan jawa yang sudah ada,” ujar owner Hanooman Café, Redhi.

Menurut Redhi, yang membedakan bakmi tersebut dengan sajian serupa terletak pada cara memasak dan konsep bakmi goreng jawa yang digunakan. Rasa manis dan gurih menjadi karakter yang ingin dipertahankan dalam sajian tersebut.

Bakmi juga dinilai menjadi salah satu makanan yang mudah diterima berbagai kelompok usia. Saat ini, menu tersebut dipesan mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Baca Juga: Resep Cobek Ikan Nila Sunda, Pedas Segar dengan Sambal Kencur

“Menurut saya, bakmi itu makanan yang bisa dinikmati semua kalangan. Mulai dari anak-anak sampai orang tua. Mudah dijumpai di mana pun, mulai pedagang kaki lima sampai restoran,” kata Redhi.

Di balik sepiring bakmi, proses memasak menjadi bagian penting untuk menjaga rasa tetap konsisten. Setiap bahan memiliki takaran yang telah ditentukan. Mi maupun nasi ditimbang sesuai porsi, sementara bumbu dan kecap menggunakan sendok takar yang sama.

Takaran tersebut menjadi standar yang digunakan oleh seluruh juru masak. Jumlah masakan dalam satu wajan juga dibatasi maksimal dua porsi dalam sekali memasak.

“Kami selalu menakar bahan untuk setiap masakan. Mulai dari menimbang mi atau nasi di setiap porsinya. Menggunakan sendok takar yang sama untuk seasoning dan kecap. Semua sudah ada takarannya yang dijadikan standar oleh semua juru masak,” jelasnya.

Selain proses memasak, penggunaan bahan juga menjadi bagian dari racikan. Salah satunya, ayam kampung yang digunakan untuk menghasilkan kaldu.

Ayam kampung dimasak kurang lebih selama 3 jam bersama bumbu dan rempah khas Jogja. Air sisa rebusan kemudian dimanfaatkan sebagai kaldu untuk menu bakmi godok.

“Mungkin belum banyak yang tahu kalau bakmi kami memakai ayam kampung yang dimasak kurang lebih 3 jam dengan bumbu dan rempah khas Jogja. Sisa air rebusan itu kami jadikan kaldu yang nantinya digunakan untuk kuah bakmi godok,” ungkap Redhi.

Selain bakmi goreng jawa, di kafe tersebut juga menyajikan bakmi godok. Menu ini menawarkan sensasi berbeda dengan kuah yang lebih kuat dan gurih dari kaldu ayam kampung.

Bagi pelanggan yang baru pertama kali mencoba, Redhi menyarankan bakmi goreng jawa sebagai pilihan awal. Sementara bakmi godog bisa menjadi pilihan bagi mereka yang menyukai sajian mi berkuah.

Bagi Redhi, keberadaan bakmi hingga kini tidak lepas dari karakter rasanya yang sederhana tetapi mudah diterima. Perpaduan rasa manis dan gurih membuat bakmi jawa memiliki tempat tersendiri di tengah beragam pilihan kuliner.

“Mungkin juga bakmi sudah menjadi bagian dari budaya kuliner di Indonesia. Jadi sampai kapan pun bakmi akan tetap digemari,” pungkas Redhi. (mal/c1/din)

Editor : Adinda Okta Fitriana
Sumber : RADAR TRENGGALEK
bakmi goreng jawa kaki lima Redhi bakmi godog Hanooman Café