KOTA, Radar Trenggalek – Ada resep yang lahir dari buku masak. Ada pula yang tumbuh dari dapur rumah dan diwariskan lewat ingatan. Bagi Yudha, gulai sapi bukan sekadar racikan bumbu dan potongan daging. Ada cerita tentang ibu yang membuatnya bertahan hingga hari ini.
Sebelum dikenal melalui Gultik Satu-Satu, gulai sapi tersebut merupakan masakan yang kerap dibuat ibunya. Saat ada acara warga maupun kegiatan tertentu, sang ibu sering memasak gulai sapi. Rasa dari dapur rumah itu kemudian melekat dalam ingatan Yudha.
Setelah pulang dari Jogja dan melewati masa pandemi Covid-19, muncul keinginan untuk membuka usaha makanan. Dari berbagai pilihan, dia justru kembali pada sesuatu yang sudah akrab sejak kecil.
Resep ibu dipilih untuk dibawa menjadi usaha. “Ini kan resep Ibu. Ibu dulu sering bikin masakan ini, gulai sapi, kalau ada acara warga atau apa seperti itu,” tutur Yudha.
Baca Juga: Resep Jamur Barat Pedas dan Gurih, Cuma Pakai Bumbu Sederhana
Pada 2023, Gultik Satu-Satu mulai berjalan. Nama tersebut pun menyimpan makna personal. “Satu-Satu” merupakan bentuk penghormatan kepada sang ibu.
Bagi Yudha, nama itu menjadi pengingat sederhana atas rasa sayang sekaligus resep yang menjadi awal perjalanan usahanya. “Satu-satu itu ‘aku sayang ibu’. Karena resepnya resep Ibu. Jadi untuk homage ke ibu,” ujarnya.
Membawa gulai sapi ke Trenggalek menjadi tantangan tersendiri. Sebab, masyarakat lebih dahulu akrab dengan olahan sapi seperti rawon, sate sapi, pindang, maupun soto daging. Yudha ingin menawarkan pilihan berbeda tanpa membuat rasanya terasa asing.
Konsep penyajian Gultik Satu-Satu terinspirasi gulai Jakarta. Namun, resepnya tetap menggunakan racikan sendiri. Kuah dibuat lebih kental dengan rempah yang lebih banyak. Potongan daging juga dibuat lebih besar, menyerupai potongan pada rawon atau soto.
Penyesuaian tersebut menjadi bagian dari upaya agar gulai yang dibawanya dapat diterima lidah masyarakat Trenggalek. Tidak sekadar membawa sesuatu yang baru, tetapi juga mencari titik temu dengan rasa yang sudah dikenal.
Menjaga rasa pun menjadi perjuangan tersendiri. Takaran bumbu dasar dan rempah harus konsisten. Sebab, ketika resep rumahan mulai dinikmati banyak orang, mempertahankan rasa menjadi tanggung jawab yang tidak kalah penting dari menciptakan rasa itu sendiri.
Lebih dari tiga tahun berjalan, belum semua masyarakat mengenal Gultik Satu-Satu. Namun, pelanggan yang sudah pernah mencicipi tidak sedikit yang kembali. Bagi Yudha, perjalanan tersebut masih panjang.
Baca Juga: Bakmi Goreng Jawa Racikan Bumbu dan Rempah Khas Jogja
Saat ini tersedia gulai campur berisi daging dan babat, gulai daging, serta gulai iga. Menu dapat dinikmati bersama nasi maupun lontong. Namun, Yudha memilih tidak terburu-buru memperbanyak menu. Dia ingin terlebih dahulu menjaga apa yang sudah ada.
Baginya, bertahan dalam usaha kuliner tidak hanya membutuhkan rasa. Ada ketekunan dan daya tahan untuk terus berjalan ketika persaingan semakin ramai. “Enggak cuma modal rasa. Endurance juga. Semoga tetap survive, tambah ramai, semakin banyak yang menerima, dan semakin banyak yang tahu,” harapnya.
Sebab, pada akhirnya, yang ingin dipertahankan Yudha bukan hanya sebuah usaha. Ada rasa dari dapur ibu yang ingin terus hidup. Resep yang dahulu hadir di meja makan keluarga, kini menemukan jalan untuk dikenal lebih banyak orang.
Semangkuk gulai itu pun menjadi lebih dari sekadar makanan. Di dalamnya ada kenangan, keberanian memulai, dan usaha untuk menjaga satu rasa agar tidak hilang ditelan waktu. (mal/c1/din)
Editor : Muhammad Fadli ArdiansyahSumber : RADAR TRENGGALEK