Trenggalekjenggelek – Jelang lebaran, para pedagang pakaian di Pasar Pon Trenggalek keluhkan sepi pembeli. Para pembeli boleh berdatangan, namun tidak berpengaruh pada omzet pedagang.
Pantauan tim Jawa Pos Radar Trenggalek, pada lantai dua pasar pon yang khusus untuk pedagang pakaian yang tampak lengang, terlihat sejumlah kios yang tutup. Meski ada pengunjung, mereka hanya melihat dan tak banyak dari mereka yang beli. "Biasanya, pembeli mulai ramai di pertengahan puasa, tapi kebanyakan belanja di ruko depan. Kami yang di belakang hanya dibagian sisa saja," ujar Salah seorang pedagang pakaian, Binti Munawaroh.
Binti yang sudah berjualan sejak 2012 ini menyebut kondisi pasar sudah mulai sepi setelah pandemi Covid-19 pada 2023. Sepinya pembeli disinyalir sejumlah faktor, salah satunya daya beli masyarakat yang turun serta meningkatnya e-commers.
Upaya mengatasi sepinya pembeli sudah ia lakukan dengan encoba berjualan di marketplace. Namun, upaya tersebut tidak pernah berhasil karena pembeli online sekedar membandingkan kain dengan pedagang lain sehingga sangat sulit menembus pasar. Penjualan melalui marketplace memang tidak semudah berinteraksi dengan para pembeli, namun harus dituntut konsisten serta harus membayar biaya promosi guna menjangkau banyak pelanggan. Tindakan tersebut dinilai memberatkan karena kesulitan membagi waktu serta mahalnya biaya promosi. "Saya tidak telaten untuk terus berjualan di platform digital. Saat ini, ia hanya bisa mengandalkan pembeli yang datang langsung ke pasar, meskipun jumlahnya tidak menentu," terangnya.
Menurutnya, saat menjelang lebaran peningkatan jumlah pembeli hanya terasa pada hari sabtu dan minggu. Pada hari tersebut dirinya bisa menjual hingga 10 potong pakaian, sedangkan di hari biasa, hanya terjual satu potong atau bahkan tidak laku sama sekali. "Saya berharap situasi ini selalu membaik, sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan yang lebih baik setelah beberapa waktu mengalami penurunan omzet," pungkasnya.