Trenggaleknjenggelek - Dalam sebuah wawancara mendalam di Endgame Podcast bersama Gita Wirjawan, ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Muhamad Chatib Basri, mengulas tantangan yang dihadapi perekonomian nasional.
Ia menyoroti ketimpangan kelas menengah, minimnya investasi asing, serta urgensi reformasi struktural guna meningkatkan daya saing global.
Perbincangan ini menjadi refleksi kritis terhadap dinamika ekonomi Indonesia serta strategi yang dapat ditempuh untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan.
Salah satu isu utama yang disoroti Chatib Basri adalah mengecilnya kelas menengah Indonesia. Pada 2003, hanya 5% dari populasi Indonesia yang termasuk dalam kategori kelas menengah.
Angka ini melonjak menjadi 23% pada 2019, namun kembali turun menjadi 17% pada 2023.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi selama beberapa dekade terakhir belum cukup inklusif.
Kelas menengah menjadi kelompok paling terdampak, mengalami pertumbuhan negatif dalam hal pendapatan.
Sementara itu, kelompok berpendapatan rendah masih menerima bantuan sosial dari pemerintah, dan kelompok kaya tetap menikmati manfaat pembangunan.
Kondisi ini berpotensi memperlebar ketimpangan sosial serta melemahkan daya beli masyarakat.
Dalam konteks ini, kebijakan fiskal yang lebih berpihak pada kelas menengah menjadi krusial.
Insentif pajak yang lebih terarah, subsidi listrik untuk kelompok menengah ke bawah, serta akses pembiayaan dan modal usaha yang lebih mudah dapat menjadi solusi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Chatib Basri juga menyoroti rendahnya realisasi investasi asing di Indonesia.
Jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, Singapura secara konsisten menarik Foreign Direct Investment (FDI) sekitar 100 hingga 140 miliar dolar AS per tahun, sedangkan Indonesia hanya berkisar 25 hingga 31 miliar dolar AS per tahun.
Menurutnya, faktor utama yang menghambat arus investasi adalah ketidakpastian regulasi dan birokrasi yang berbelit.
Perubahan kebijakan yang tidak konsisten serta lemahnya kepastian hukum membuat investor ragu untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Padahal, dengan potensi besar dari sisi sumber daya alam dan demografi, negara ini seharusnya mampu menarik lebih banyak investasi.
"Kepastian hukum menjadi elemen kunci dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif. Jika regulasi lebih stabil dan ada jaminan perlindungan bagi investor, modal yang masuk ke Indonesia bisa meningkat secara signifikan," ujar Chatib.
Dalam perbincangan ini, Chatib Basri juga menegaskan bahwa pendidikan dan digitalisasi harus menjadi pilar utama dalam meningkatkan daya saing bangsa.
Menurutnya, kualitas pengajaran perlu mendapat perhatian lebih, dengan memastikan bahwa guru tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan storytelling yang mampu menginspirasi siswa.
Pendidikan yang hanya berorientasi pada hafalan tidak lagi relevan di era digital. Sebaliknya, keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah harus lebih dikembangkan.
Selain itu, digitalisasi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi kebijakan fiskal dan administrasi perpajakan.
Implementasi Artificial Intelligence (AI) dan sistem big data dinilai dapat membantu pemerintah dalam memperbaiki kepatuhan pajak, memperluas basis pajak, serta meningkatkan efektivitas program bantuan sosial.
Diskusi dalam Endgame Podcast ini menggambarkan tantangan sekaligus peluang bagi perekonomian Indonesia.
Ketimpangan kelas menengah, ketidakpastian investasi, serta perlunya reformasi pendidikan dan digitalisasi menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.
Namun, dengan reformasi kebijakan yang tepat dan implementasi yang konsisten, Indonesia dapat keluar dari jebakan stagnasi dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta berkelanjutan.
“Negara ini punya harapan, selama kita mau berubah dan belajar," tegas Chatib Basri. (kho)
Editor : Akhmad Nur Khoiri