Trenggaleknjenggelek – Panen raya padi mulai berlangsung di sejumlah wilayah Kabupaten Trenggalek. Salah satunya di Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, para petani menyambut musim panen ini dengan antusias, terutama karena harga gabah yang dibeli oleh Bulog dinilai lebih menguntungkan dibanding tengkulak.
Yulianto, petani asal Dusun Mboto, Desa Karanganom, mengaku merasa terbantu dengan kehadiran Bulog sebagai pembeli gabah langsung dari petani. Harga yang dipatok Bulog yakni Rp 6.590 per kilogram, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga tengkulak yang hanya berkisar Rp 5.800 sampai Rp 5.900 per kilogram.
“Kalau ada Bulog harganya lebih mendingan. Daripada dibeli tengkulak, mending Bulog yang ambil,” ujarnya, Jumat (11/4).
Luas lahan sawah yang dikelola Yulianto bersama sang ayah sekitar 10 ru atau setara 1.406 meter persegi. Dari luas panen 80 ru yang digarap mesin pemotong, mereka berhasil menghasilkan 18 karung gabah, dan 10 karung di antaranya langsung dijual ke Bulog.
Ke depannya, Yulianto berharap pemerintah bisa menaikkan harga gabah lebih dari Rp 6.500 per kilogram, untuk mengimbangi biaya produksi yang terus meningkat.
“Kalau bisa Rp 7.000 lah, karena biaya perawatan besar. Kalau Bulog segitu, tengkulak mungkin bisa ikut naik ke atas Rp 6.000,” harapnya.
Di balik suksesnya panen tersebut, peran pendampingan dari Babinsa juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Serka Dwianto, Babinsa di wilayah itu, turut hadir mendampingi para petani sejak masa tanam hingga proses penjualan gabah ke Bulog. Ia menjadi motor penggerak semangat para petani agar hasil panen maksimal dan menguntungkan.
“Kami mendampingi sejak awal tanam hingga proses penjualan ke Bulog, agar hasil panen benar-benar optimal dan petani mendapat keuntungan yang layak,” ujar Serka Dwianto saat mendampingi petani Poktan Among Tani.
Berkat pendampingan intensif itu, Kelompok Tani Among Tani mampu memanen hingga 11 ton gabah, yang seluruhnya langsung diserap oleh Bulog Trenggalek. Bagi Serka Dwianto, ketahanan pangan adalah bagian tak terpisahkan dari ketahanan nasional.
“TNI, termasuk Babinsa, siap berdiri di sisi petani untuk memastikan mereka mampu memproduksi dan menikmati hasil panennya secara maksimal,” tegasnya.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara TNI dan petani mampu menciptakan stabilitas pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. (jaz)
Editor : Zaki Jazai