Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Membakar Jerami di Sawah Kurang Baik bagi Petani, Ini Penjelasannya dari Kementan

Zaki Jazai • Kamis, 17 April 2025 | 18:30 WIB
Petani di Trenggalek membakar jerami
Petani di Trenggalek membakar jerami

Trenggaleknjenggelek- Selama ini, banyak petani di Indonesia masih membakar jerami di sawah usai panen, dengan keyakinan bahwa abu hasil pembakaran dapat menyuburkan tanah dan melindungi tanaman dari hama. Namun, praktik ini ternyata justru membawa dampak buruk bagi kesuburan tanah dan produktivitas tanaman.

Dikutip dari laman Cybex Kementerian Pertanian RI, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa membakar jerami bukanlah solusi yang baik untuk lahan pertanian. Alih-alih menambah unsur hara, pembakaran jerami malah mengurangi keseimbangan tanah, membuat tanaman lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit.

Penelitian yang dilakukan oleh Dobermann dan Fairhurst menunjukkan bahwa jerami sebenarnya mengandung unsur hara penting, seperti nitrogen (N) sebesar 0,5–0,8 persen, fosfat (P₂O₅) sebesar 0,07–0,12 persen, kalium (K₂O) sebesar 1,2–1,7 persen, dan silikon (Si) sebesar 4–7 persen. Jika jerami ini dibakar, kandungan tersebut hilang dan tanah justru kehilangan kemampuan alaminya untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Selain itu, pembakaran jerami meningkatkan kadar absorpsi hara tanah secara tidak seimbang dan mempercepat kehilangan unsur kalium. Kondisi ini tidak hanya menurunkan produktivitas tanaman, tetapi juga memperburuk struktur tanah dalam jangka panjang.

Tak hanya berdampak pada hasil tani, membakar jerami juga menimbulkan persoalan lingkungan. Asap hasil pembakaran menyebabkan polusi udara, berkontribusi terhadap penipisan lapisan ozon, serta mempercepat pemanasan global. Semua ini berpotensi menambah beban kerugian bagi petani yang hasil taninya bergantung pada kestabilan iklim dan kualitas tanah.

Sebagai solusi, jerami sebaiknya dimanfaatkan menjadi kompos organik. Balai Pertanian mencatat, kompos dari jerami mengandung lebih banyak unsur hara dibanding pupuk kimia. Kompos ini tak hanya menyuburkan tanah, tetapi juga memperbaiki struktur tanah, membuatnya lebih gembur, dan meningkatkan serapan nutrisi oleh tanaman.

Proses pengomposan jerami pun relatif sederhana. Petani hanya perlu membuat lubang sedalam satu meter, menumpuk jerami, menyiram air dan menambahkan mikroba dekomposer seperti MOL atau EM4 cair, lalu menutupnya dengan plastik gelap. Dalam waktu sekitar tiga bulan, kompos siap digunakan untuk meningkatkan hasil panen.

Dengan memahami dampak buruk dari membakar jerami dan beralih pada pengelolaan yang lebih ramah lingkungan, petani tidak hanya menjaga kesuburan tanahnya, tetapi juga memperkuat ketahanan pertaniannya di masa depan. (Jaz) 

 

 

 

 

 

Momen Paula Verhoeven jalan bareng selingkuhannya Nico Surya
Momen Paula Verhoeven jalan bareng selingkuhannya Nico Surya
Sosok Nico Surya selingkuhan Paula Verhoeven
Sosok Nico Surya selingkuhan Paula Verhoeven
Kedekatan Baim Wong dan Nico Surya selingkuhan Paula Verhoeven
Kedekatan Baim Wong dan Nico Surya selingkuhan Paula Verhoeven
Sosok Nico Surya Selingkuhan Paula Verhoeven
Sosok Nico Surya Selingkuhan Paula Verhoeven
Momen Baim Wong memantau renovasi rumah sahabatnya Nico Surya yang tak lain selingkuhan Paula Verhoeven
Momen Baim Wong memantau renovasi rumah sahabatnya Nico Surya yang tak lain selingkuhan Paula Verhoeven
Baim Wong dan Nico Surya
Baim Wong dan Nico Surya
10 Besar Klasemen Sementara Liga Inggris sampai laga ke-32.
10 Besar Klasemen Sementara Liga Inggris sampai laga ke-32.
Editor : Zaki Jazai
#jerami #membakar #sawah