Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Perang Dagang AS-China Ganggu Logistik Global, 80 Pelayaran dari China ke Amerika Dibatalkan

Akhmad Nur Khoiri • Minggu, 20 April 2025 | 18:59 WIB
Ilustrasi Kapal Kargo dari Cina.
Ilustrasi Kapal Kargo dari Cina.

Trenggaleknjenggelek - Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China mulai memberikan dampak nyata terhadap industri logistik global.

Sejumlah perusahaan pelayaran internasional diketahui membatalkan puluhan pelayaran kapal kargo dari China menuju Amerika Serikat.

Hal ini menyusul menurunnya volume permintaan akibat kebijakan tarif impor baru dari pemerintahan Presiden Donald Trump.

Data dari HLS Group menunjukkan, sedikitnya 80 pelayaran dari China telah dibatalkan dalam beberapa waktu terakhir.

Langkah ini dilakukan guna menyesuaikan kapasitas angkut dengan penurunan jumlah barang yang dikirim ke Negeri Paman Sam.

Konsorsium pelayaran besar seperti Ocean Network Express (ONE) bahkan mengambil keputusan untuk menghentikan salah satu jalurnya yang mencakup pelabuhan penting seperti Qingdao, Ningbo, Shanghai, Pusan, Vancouver, dan Tacoma.

Di jalur lain, kunjungan pelabuhan ke Wilmington, North Carolina juga turut dibatalkan.

Rantai Pasok Terganggu, Ribuan Kontainer Tak Terkirim

Dampak dari pembatalan pelayaran ini diperkirakan akan mengganggu rantai pasok secara luas.

Mulai dari operasional pelabuhan, transportasi darat seperti truk dan kereta api, hingga sektor pergudangan, semuanya terancam terdampak.

Dalam satu pelayaran, sebuah kapal mampu mengangkut antara 8.000 hingga 10.000 TEUs (twenty-foot equivalent units).

Dengan pembatalan 80 pelayaran, berarti sekitar 640.000 hingga 800.000 kontainer batal dikirim.

Kondisi ini otomatis membuat aktivitas bongkar muat di pelabuhan menurun, pendapatan terminal pelabuhan berkurang, dan menurunkan permintaan terhadap jasa logistik di darat.

CEO Sea-Intelligence, Alan Murphy, menyebutkan bahwa hingga kini belum ada model yang bisa memproyeksikan secara pasti seberapa besar dampak dari penurunan ini.

Namun ia memperkirakan, jumlah “blank sailing” atau pembatalan pelayaran akan terus bertambah dalam waktu dekat.

Pemesanan Barang Turun Drastis, Pakaian dan Tekstil Paling Terpukul

Penurunan pengiriman internasional juga terlihat dari data booking antara akhir Maret hingga awal April.

Produk-produk seperti pakaian jadi, aksesori, tekstil, dan mainan—yang selama ini banyak diimpor dari China—mengalami penurunan pesanan secara signifikan.

Untuk kategori pakaian dan tekstil, angka pemesanan bahkan tercatat turun lebih dari 50 persen.

“Ketidakpastian ini kini tercermin dalam pembatalan pelayaran kontainer, terutama pada jalur transpasifik dari Asia ke Amerika,” ujar Bruce Chan, Direktur Logistik Global di Stifel.

Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan ritel kini bersikap lebih berhati-hati dalam menyusun stok karena trauma kelebihan inventaris pasca pandemi Covid-19.

Operator Ubah Strategi Demi Kurangi Rugi

Agar tidak menanggung kerugian akibat kapal yang tidak terisi penuh, sejumlah operator pelayaran melakukan berbagai penyesuaian.

Beberapa strategi yang diterapkan antara lain pembatalan pelayaran (blank sailing), penghapusan rute tertentu (vessel strings), penggunaan kapal berukuran lebih kecil, dan memperlambat kecepatan pelayaran (slow steaming).

Langkah-langkah ini sebelumnya juga sempat diterapkan selama masa pandemi Covid-19.

Kala itu, pembatalan pelayaran justru menyebabkan lonjakan tarif kontainer hingga menembus angka 30.000 dolar AS.

Praktik tersebut banyak dikritik karena dinilai memperparah kelangkaan secara tidak perlu.

Vietnam Ambil Alih Peluang Ekspor

Di tengah penurunan ekspor China, Vietnam justru mulai mencuri peluang.

Tarif pengiriman laut dari Vietnam tercatat meningkat 43 persen sejak akhir Maret.

Lonjakan ini menjadi indikator bahwa permintaan ekspor dari Vietnam sedang mengalami peningkatan signifikan.

“Naiknya tarif pasar di segmen bawah menunjukkan bahwa tekanan permintaan sedang tinggi,” ujar Peter Sand, analis utama di Xeneta.

Ia menambahkan, keputusan Presiden Trump untuk menunda tarif tambahan bagi negara selain China selama 90 hari turut mendorong kenaikan permintaan pengiriman jangka pendek dari negara-negara lain, termasuk Vietnam. (kho)

Editor : Akhmad Nur Khoiri
#amerika serikat #kapal kargo #china #Perang Dagang Amerika China