Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Laba Gudang Garam Terjun Bebas, Kekayaan Susilo Wonowidjojo Ikut Anjlok

Akhmad Nur Khoiri • Selasa, 22 April 2025 | 00:00 WIB
Laba Gudang Garam merosot dalam beberapa tahun terakhir.
Laba Gudang Garam merosot dalam beberapa tahun terakhir.

Trenggaleknjenggelek - PT Gudang Garam Tbk (GGRM), salah satu produsen rokok ternama di Indonesia, terus mencatatkan penurunan laba bersih yang signifikan.

Kondisi ini terjadi akibat menurunnya penjualan rokok secara tajam yang berdampak langsung pada performa keuangan perusahaan Gudang Garam.

Perusahaan rokok Gudang Garam yang berdiri sejak tahun 1958 ini kini menghadapi tantangan berat, termasuk redupnya kiprah sang pendiri maupun kekayaan pewarisnya.

Gudang Garam didirikan oleh Surya Wonowidjojo di Kediri, Jawa Timur, ketika ia berusia 35 tahun.

Nama “Gudang Garam” konon diperoleh melalui ilham dalam mimpi. Surya kemudian membesarkan usaha ini dengan kerja keras dan ketekunan, hingga akhirnya wafat pada 28 Agustus 1985 di Auckland, Selandia Baru.

Perusahaan kemudian dilanjutkan oleh putra bungsunya, Susilo Wonowidjojo, yang kini menjabat sebagai Presiden Direktur PT Gudang Garam Tbk.

Pada tahun 2001, perusahaan ini telah memiliki enam unit pabrik di lahan seluas 100 hektare, mempekerjakan sekitar 40.000 buruh serta 3.000 karyawan tetap.

Bahkan, perusahaan ini juga berkontribusi dalam pembayaran cukai yang besar, dengan nilai mencapai lebih dari Rp100 miliar per tahun.

Namun, perjalanan bisnis Gudang Garam tidak lagi semulus dahulu. Saat ini, perusahaan mengalami penurunan kinerja keuangan akibat tingginya tarif cukai rokok yang menyebabkan melemahnya daya beli konsumen.

Imbas dari kondisi tersebut membuat penjualan menurun dan berdampak langsung pada laba bersih perseroan.

Laporan keuangan tahun 2024 menunjukkan bahwa Gudang Garam hanya mampu membukukan laba bersih sebesar Rp981 miliar, turun sekitar 82 persen dibandingkan tahun 2023 yang mencatatkan laba sebesar Rp5,3 triliun.

Jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang merupakan puncak kejayaan perusahaan dengan laba sebesar Rp10,8 triliun, maka terjadi penurunan hingga 91 persen dalam lima tahun terakhir.

Penurunan drastis ini juga turut memengaruhi nilai kekayaan Susilo Wonowidjojo. Berdasarkan data Forbes, kekayaannya sempat meningkat pada periode 2014 hingga 2018 seiring pertumbuhan laba perusahaan.

Namun, sejak tahun 2019 hingga 2024, kekayaan Susilo terus mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Tercatat, pada tahun 2018 kekayaan Susilo mencapai US$9,2 miliar. Angka tersebut menyusut menjadi US$2,9 miliar pada tahun 2024.

Dengan kurs saat ini sebesar Rp16.820 per dolar AS, penurunan itu berarti Susilo kehilangan sekitar US$6,3 miliar atau setara dengan Rp105,96 triliun hanya dalam enam tahun terakhir. Penurunan ini mencerminkan penyusutan kekayaan sebesar 68,5 persen.

Pada tahun 2024, Susilo memiliki 1.709.685 saham di Gudang Garam atau setara 0,09 persen dari total saham perusahaan.

Meskipun proporsi sahamnya relatif kecil, Susilo tetap memiliki posisi penting sebagai pemimpin utama di perusahaan yang dibangun oleh ayahnya tersebut.

Kini, di tengah tekanan ekonomi, tingginya beban cukai, serta pergeseran tren konsumsi masyarakat,

Gudang Garam harus menghadapi kenyataan bahwa eksistensinya di industri rokok nasional tidak lagi mendominasi seperti dulu. (kho)

Toyota Innova Zenix G CVT
Toyota Innova Zenix G CVT
Toyota Voxy
Toyota Voxy
Toyota Fortuner
Toyota Fortuner
Toyota Alphard
Toyota Alphard
Toyota Veloz
Toyota Veloz
Editor : Akhmad Nur Khoiri
#laba #Susilo Wonowidjojo #gudang garam