Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Ekonomi RI Tumbuh 4,87 Persen di Triwulan I 2025, Tapi Melemah Dibanding Tahun Lalu

Zaki Jazai • Selasa, 6 Mei 2025 | 19:00 WIB

Kepala BPS Amalia ketika kofrensi pers
Kepala BPS Amalia ketika kofrensi pers

Trenggaleknjenggelek – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,87 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan I 2025. Meski masih menunjukkan pertumbuhan, angka ini mengalami perlambatan dibandingkan triwulan I 2024 yang tumbuh sebesar 5,11 persen.

Tak hanya itu, dibandingkan triwulan IV 2024, ekonomi juga tercatat terkontraksi sebesar 0,98 persen. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut, meski terjadi kontraksi, pertumbuhan masih berada dalam kondisi yang stabil.

"Namun, pertumbuhan ekonomi masih dalam kondisi terjaga," ujar Amalia dalam konferensi pers, Senin (5/5/2025).

Baca Juga: Bupati Trenggalek Dorong Camat Jadi Duta Investasi, Targetkan 2.000 NIB per Tahun

Dari sisi nilai, produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp5.665,9 triliun, sementara atas dasar harga konstan (ADHK) 2010 mencapai Rp3.264,5 triliun.

Amalia menjelaskan, sektor pertanian menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi pada awal 2025 dengan kenaikan signifikan sebesar 10,52 persen. Momentum Ramadan dan Idulfitri juga mendorong pertumbuhan pada sektor industri makanan dan minuman serta sektor transportasi.

"Transportasi dan industri makanan-minuman turut tumbuh karena adanya momen Ramadan dan Lebaran," jelasnya.

Baca Juga: Festival UMKM Disambut Antusias, Pemkab Trenggalek Dorong Rantai Pasok Halal

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan sebesar 4,89 persen. Ekspor juga tercatat tumbuh solid 6,78 persen, terutama karena peningkatan ekspor nonmigas dan jasa pariwisata seiring naiknya kunjungan wisatawan mancanegara.

Sementara itu, konsumsi pemerintah justru mengalami kontraksi sebesar 1,38 persen. Penurunan ini disebut sebagai dampak dari berakhirnya belanja besar-besaran selama masa pemilu.

"Investasi juga melambat, hanya tumbuh 2,12 persen akibat ketidakpastian global," tambah Amalia.

Baca Juga: Mengapa Bitcoin Tumbuh Pesat di Tengah Krisis Ekonomi dan Apa Kaitannya dengan Emas dan Perak?

Meskipun sejumlah sektor mencatatkan pertumbuhan positif, tekanan global dan transisi pasca-pemilu menjadi tantangan yang membayangi pemulihan ekonomi nasional. Pemerintah perlu memperhatikan dinamika konsumsi, ekspor, serta investasi untuk menjaga laju pertumbuhan ke depan.(jaz)

MELAYANI: Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo saat menyampaikan sambutan dalam Festival Jaran Serek di depan Museum Keraton Sumenep, Senin (5/5).
MELAYANI: Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo saat menyampaikan sambutan dalam Festival Jaran Serek di depan Museum Keraton Sumenep, Senin (5/5).
LESTARI: Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo ketika menunggangi jaran serek di depan Museum Keraton Sumenep.
LESTARI: Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo ketika menunggangi jaran serek di depan Museum Keraton Sumenep.
BERWIBAWA: Wabup Sumenep Imam Hasyim ketika menunggangi jaran serek di depan Museum Keraton Sumenep.
BERWIBAWA: Wabup Sumenep Imam Hasyim ketika menunggangi jaran serek di depan Museum Keraton Sumenep.
Editor : Zaki Jazai
#ekonomi indoensia #Pertumbuhan Ekonomi #bps