Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Berbagai Hama Masih Jadi Ancaman Serius Pertanian Padi di Trenggalek, Ada yang Sampai Puso

Zaki Jazai • Rabu, 4 Juni 2025 | 02:30 WIB
Para petani sedang menyemprot tanaman padi yang sering diganggu hama, saat musim hujan hama ulat penggulung daun menjadi hama yang kerap membunuh tanaman.
Para petani sedang menyemprot tanaman padi yang sering diganggu hama, saat musim hujan hama ulat penggulung daun menjadi hama yang kerap membunuh tanaman.

Trenggaleknjenggelek – Serangan hama tanaman padi masih menjadi momok serius bagi para petani di Kabupaten Trenggalek. Dari fase tanam hingga menjelang panen, ancaman dari organisme pengganggu ini bisa menyebabkan kerugian besar, bahkan dalam skala tertentu berujung pada puso atau gagal panen total.

Di berbagai wilayah sentra pertanian padi, munculnya gejala kerusakan pada tanaman kerap menjadi pertanda bahwa hama sedang aktif. Beberapa jenis hama bahkan sulit dideteksi sejak awal, karena menyerang dari bagian dalam atau menyamar sebagai bagian dari siklus alami pertumbuhan tanaman.

Menurut penyuluh pertanian di Kecamatan Gandusari, Hernawan, ancaman utama yang dihadapi petani adalah mengenali jenis serangan dan meresponsnya secara cepat dan tepat.

“Serangan hama ini tidak bisa dianggap remeh. Populasinya kecil saja bisa berdampak besar, apalagi kalau dibiarkan,” katanya saat ditemui di sela kegiatan pendampingan kelompok tani.

Ia menjelaskan bahwa wereng coklat adalah salah satu hama paling mematikan yang sering muncul di lahan sawah Trenggalek. Serangga berukuran hanya beberapa milimeter ini menyerang tanaman muda dan dapat menyebabkan hopperburn—kondisi di mana rumpun padi mengering seperti tersiram air panas. Serangan wereng biasanya terjadi pada umur tanaman antara 10 hingga 20 hari setelah tanam, dan bisa menyebar cepat bila tidak segera dikendalikan.

Selain wereng, penggerek batang juga menjadi musuh yang sulit dihadapi. Hama ini berasal dari telur ngengat yang tampak tidak berbahaya, namun ulatnya menyerang bagian dalam batang. Tanaman yang terserang menunjukkan gejala sundep di awal pertumbuhan dan beluk saat pengisian bulir. Keduanya berujung pada kegagalan panen karena bulir tidak terbentuk.

Hernawan juga menyebut hama pelipat daun atau HPP (Hama Putih Palsu) sebagai salah satu yang sering luput dari perhatian.

“Banyak yang menganggap daun yang dilipat ulat itu biasa saja. Padahal, kalau lebih dari separuh daun rusak, penurunan hasilnya bisa besar sekali,” jelasnya. Ulat pelipat daun memakan jaringan hijau dari dalam, menyebabkan daun tampak kering dan tidak bisa berfotosintesis secara optimal.

Masalah lain datang dari walang sangit, hama yang menyerang setelah tanaman mulai berbunga. Hama ini menghisap cairan dari bulir padi, menyebabkan bulir kosong dan mutu beras menurun. Petani kerap mengeluhkan hasil panen yang tidak hanya berkurang jumlahnya, tapi juga kualitasnya tidak layak jual.

Yang paling sulit dikendalikan, menurut Hernawan, adalah tikus sawah. Binatang ini menyerang sepanjang musim tanam, dengan cara yang terorganisir dan sering tak terdeteksi.

“Tikus itu pintar, dia tahu kapan petani lengah. Pengendaliannya harus kolektif. Tidak bisa satu-dua orang saja,” ujarnya.

Baca Juga: Petani Trenggalek Mulai Mandiri Produksi Pupuk Organik, Serapan Subsidi Masih Rendah

Penyuluh dan petani di Trenggalek kini lebih gencar melakukan pengamatan rutin dan edukasi. Deteksi dini dan gerakan pengendalian massal menjadi strategi yang terus diperkuat. Pemerintah desa hingga kelompok tani didorong untuk membangun sistem deteksi cepat dan respon terkoordinasi, agar tidak ada wilayah yang mengalami kerugian besar akibat keterlambatan penanganan.

Meski tantangan hama tidak mudah diatasi, semangat gotong royong dan pengetahuan yang terus diperbarui membuat para petani di Trenggalek tetap optimistis.

“Kami selalu dorong petani untuk terbuka dalam laporan gejala hama. Semakin cepat diketahui, semakin cepat kita bisa bantu,” tutup Hernawan.(jaz)

 

UNIK: Warna ikonik dari monotone hingga dualtone menjadi ciri khas dari ID. Buzz untuk mencerminkan karakter pengguna.
UNIK: Warna ikonik dari monotone hingga dualtone menjadi ciri khas dari ID. Buzz untuk mencerminkan karakter pengguna.
Editor : Zaki Jazai
#petani #serangan hama #kabupaten trenggalek #ancaman