Trenggaleknjenggelek – Penyuluh pertanian di Kecamatan Gandusari mengingatkan para petani agar tidak sembarangan menggunakan pestisida kimia dalam menghadapi serangan hama tanaman. Pasalnya, kesalahan dalam aplikasi pestisida tidak hanya berdampak pada efektivitas penanggulangan hama, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan dan meningkatkan resistensi hama.
Hernawan Widyatmiko, penyuluh pertanian di Gandusari, menegaskan pentingnya penerapan prinsip 6T saat menggunakan pestisida kimia. Prinsip tersebut meliputi tepat sasaran, tepat mutu, tepat jenis, tepat waktu, tepat dosis, dan tepat cara.
"Jika asal-asalan saja, bukannya hama yang mati, justru bisa semakin banyak dan membahayakan lingkungan. Makanya kami selalu menyarankan penggunaan pestisida organik, karena lebih ramah lingkungan dan minim dampak negatif," ujar Hernawan.
Ia mencontohkan kasus yang sering terjadi di lapangan, yaitu penggunaan pestisida untuk jenis hama yang salah. Misalnya, pestisida untuk ulat digunakan untuk membasmi wereng. Meski pada aplikasi awal terlihat efektif, kenyataannya wereng hanya mengalami efek sementara.
“Wereng itu bukan mati, tapi pingsan. Ketika bangun, dia jadi lebih kebal terhadap pestisida. Ini berbahaya, apalagi kalau sampai kawin dan bertelur, maka anak-anak hama itu bisa punya kekebalan alami,” terangnya.
Kesalahan dosis juga menjadi masalah utama. Tak jarang petani yang ingin mempercepat efek pestisida justru menambahkan dosis berkali lipat dari anjuran. Alih-alih mematikan hama, tindakan ini malah memperkuat daya tahan hama terhadap pestisida.
“Misalnya satu tangki hanya butuh satu tutup botol, tapi karena ingin lebih ampuh, petani tambahkan jadi tiga. Ini justru membuat hama kebal. Ditakutkan kalau musuh alami hama juga mati karena pestisida berlebihan, maka populasi hama bisa meledak,” jelasnya.
Penyuluh pertanian juga menyoroti pentingnya memperhatikan arah angin saat penyemprotan. Jika tidak diperhitungkan dengan tepat, pestisida bisa menyebar ke area lain dan membahayakan tanaman atau makhluk hidup non-target.
Selain edukasi tentang penggunaan pestisida yang benar, Hernawan bersama kelompok tani binaan juga aktif mendorong penggunaan pupuk dan pestisida organik, termasuk melalui pembuatan probiotik berbahan limbah.
“Dengan biaya di bawah Rp 20 ribu, dari satu ekor kambing bisa dibuat pupuk organik untuk lima hektare lahan. Bahannya dari limbah seperti tong bekas, botol mineral, dan selang kecil. Ini yang kami ajarkan ke petani lain karena lebih murah dan ramah lingkungan,” tambahnya.
Hernawan berharap upaya sosialisasi dan pendampingan intensif dari penyuluh pertanian bisa mengubah pola pikir petani agar tidak lagi bergantung pada pestisida kimia secara berlebihan.
“Setiap penyuluhan selalu kami tekankan pentingnya cara yang tepat dan dorongan ke arah penggunaan bahan organik. Ini tidak hanya efisien secara biaya, tapi juga berkelanjutan untuk pertanian Trenggalek ke depan,” pungkasnya.(jaz)
Editor : Zaki Jazai