TRENGGALEK JENGGELEK – Kecamatan Watulimo mencatatkan diri sebagai penghasil cengkeh terbanyak di Trenggalek sepanjang 2024.
Berdasarkan data dari BPS Trenggalek, produksi cengkeh dari wilayah Watulimo mencapai 19,67 ton, mengungguli kecamatan-kecamatan lainnya.
Baca Juga: Harga Cengkeh di Trenggalek Sedikit Menurun Saat Musim Panen, Ini Rinciannya
Di posisi kedua, Kecamatan Munjungan menyumbang produksi sebesar 12,08 ton, disusul oleh Panggul dengan 6,89 ton.
Sementara itu, Kecamatan Bendungan mencatat produksi 4,59 ton, dan Kampak berada di posisi terbawah dengan total produksi 0,89 ton.
Baca Juga: Trenggalek Jadi Penghasil Cengkeh Terbesar di Jawa Timur
Tingginya produksi cengkeh di Watulimo tak lepas dari kondisi geografis dan iklim mikro yang mendukung pertumbuhan tanaman rempah ini.
Selain itu, kearifan lokal petani dalam menjaga kualitas tanaman turut menjadi faktor penunjang hasil panen yang optimal.
Baca Juga: Petani Di Lereng Dongko: Keuletan Petik Cengkeh dari Subuh
Meski begitu, musim panen 2024 juga diwarnai sejumlah tantangan. Cuaca yang tak menentu dan curah hujan tinggi di beberapa bulan sempat memengaruhi kualitas bunga cengkeh.
Meski demikian, petani tetap mampu menjaga kestabilan produksi, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki pengalaman panjang dalam budidaya tanaman ini.
Baca Juga: Hadapi Ancaman Kekeringan, Polres Trenggalek Serahkan Tandon Air dan Resmikan Kebun Sayur di Suruh
Dengan tren harga cengkeh yang fluktuatif di pasar, para petani di Trenggalek berharap adanya intervensi dari pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pengembangan hilirisasi produk cengkeh.
Upaya seperti pelatihan pengolahan hasil dan peningkatan akses pasar dinilai sangat dibutuhkan agar potensi besar ini bisa lebih menguntungkan secara ekonomi.
Cengkeh sendiri masih menjadi salah satu komoditas perkebunan unggulan di Trenggalek, meski produksinya tidak sebesar kabupaten lain di Jawa Timur.
Namun, konsistensi petani di Watulimo dan Munjungan menjadi bukti bahwa rempah lokal tetap memiliki daya saing tinggi, bahkan di tengah kondisi iklim yang berubah-ubah. ****