Trenggaleknjenggelek - Indonesia kini berada di ujung tanduk fiskal. Dalam laporan lanjutan dari AMRO disebutkan bahwa tekanan keuangan yang dihadapi negara ini berasal dari dua sisi utama.
Utang negara yang terus meningkat tajam, dan pendapatan negara yang tak mampu mengikuti laju pengeluaran.
Dengan kata lain, posisi fiskal Indonesia kini seperti perahu bocor di tengah badai ekonomi global. Bila tidak segera ditambal, bocor itu bisa mempercepat karamnya stabilitas keuangan nasional.
AMRO Desak Reformasi Struktural, Bukan Tambal Sulam
Laporan terbaru AMRO menekankan pentingnya reformasi fiskal jangka panjang, bukan sekadar solusi sementara.
Tanpa perubahan mendasar dalam sistem keuangan negara, Indonesia berisiko mengalami penyempitan ruang fiskal dan terjebak dalam pola pembiayaan utang yang tidak sehat.
AMRO bahkan memperingatkan bahwa Indonesia dapat menghadapi tekanan pembiayaan yang signifikan dalam waktu dekat.
Tidak hanya soal kemampuan bayar, tapi juga soal krisis kepercayaan pasar, sesuatu yang bisa memicu dampak sistemik, dari nilai tukar hingga suku bunga pinjaman.
Dalam laporannya, AMRO menulis “Indonesia bisa menghadapi tekanan pembiayaan yang signifikan, bahkan potensi krisis kepercayaan pasar.”
Ini bukan sekadar ancaman makro, tapi peringatan keras bahwa jika tidak ada penguatan penerimaan negara dan pengelolaan utang yang bijak, Indonesia bisa menghadapi gejolak yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan.
Penerimaan Negara Harus Ditingkatkan, Tapi Bagaimana?
Permasalahan klasik fiskal Indonesia sebenarnya sudah lama: rasio pajak yang rendah, belanja yang boros, dan kebijakan fiskal yang reaktif, bukan strategis.
AMRO secara implisit menyoroti ini, menyarankan agar pemerintah memperluas basis penerimaan termasuk dengan pajak progresif, penataan subsidi, dan efisiensi belanja publik.
Namun, perbaikan struktural semacam ini membutuhkan keberanian politik dan konsistensi jangka panjang, sesuatu yang kerap hilang di tengah siklus pemilu dan pergantian kekuasaan. (sun)