Trenggaleknjenggelek - Starlink hadir dengan janji internet cepat di mana saja, bahkan di pelosok.
Tapi seperti semua janji yang terlalu manis, selalu ada harga tersembunyi di baliknya dan bukan cuma soal uang.
Sementara pelaku UMKM digital makin menggantungkan diri pada koneksi stabil, munculnya dominasi Starlink bisa pelan-pelan mematikan ekosistem internet lokal.
Kenapa? Karena provider lokal yang selama ini membangun infrastruktur dari nol, pakai kabel, tower, hingga layanan teknis tidak punya modal sebesar Starlink untuk bersaing harga.
Pelaku usaha kecil berbasis digital, dari toko online desa sampai cafe kota, selama ini disokong jaringan lokal: ISP kecil, penyedia wifi komunitas, koperasi digital.
Mereka inilah yang membantu UMKM tumbuh dengan koneksi terjangkau dan fleksibel.
Namun, begitu Starlink masuk dan menawarkan harga promo yang sulit dilawan, konsumen bisa pindah secara masif.
UMKM ikut terdorong pakai layanan asing, yang sayangnya tidak menawarkan dukungan lokal. Ketika ada gangguan, siapa yang harus dihubungi? Customer service luar negeri?
Kita sering berpikir “Biarin aja, kompetisi bagus kok.” Benar. Tapi kalau kompetisinya kayak balapan antara motor bebek dan jet tempur, itu bukan fair, itu eliminasi diam-diam.
Provider lokal yang gulung tikar artinya PHK teknisi, matinya kantor layanan lokal, dan hilangnya kontribusi mereka ke pajak daerah. UMKM pun jadi bergantung sepenuhnya ke layanan global yang bisa angkat kaki kapan saja. (sun)