Trenggaleknjenggelek - Dua raksasa e-commerce, Tokopedia dan TikTok Shop, resmi mengikuti jejak Shopee dalam menerapkan biaya pemrosesan sebesar Rp1.250 untuk setiap pesanan yang berhasil dikirim, berlaku mulai 11 Agustus 2025.
Kebijakan ini tidak memandang jumlah barang atau nilai transaksi. Bahkan, jika pesanan dibatalkan atau dana dikembalikan, biaya tetap tidak akan dikembalikan ke pembeli. Artinya, setiap transaksi sukses besar atau kecil akan terkena potongan ini.
Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Budi Primawan, kebijakan ini muncul karena penyesuaian model bisnis dan dinamika persaingan di industri digital. Ada juga faktor kebijakan pemerintah yang mendorong efisiensi.
“Nilainya memang kecil, tapi bagi penjual dengan margin tipis, terutama pelaku UMKM, dampaknya bisa terasa signifikan,” kata Budi.
Platform mengklaim biaya ini akan digunakan untuk memperluas subsidi ongkos kirim dan meningkatkan kualitas logistik. Namun, tidak sedikit yang khawatir kebijakan ini akan memperberat beban UMKM di tengah lesunya daya beli masyarakat.
- Penjual: Margin keuntungan tergerus, terutama bagi UMKM yang menjual produk dengan harga rendah.
- Pembeli: Potensi kenaikan harga barang karena penjual menyesuaikan harga untuk menutup biaya.
- Platform: Berharap biaya tambahan bisa menutup operasional dan memperbaiki layanan pengiriman.
Jika tren ini berlanjut, bukan tak mungkin semua e-commerce besar akan menerapkan biaya serupa, membuat belanja online tak lagi “semurah dulu”.
Kebijakan ini memaksa UMKM untuk menghitung ulang strategi harga dan biaya operasional. Alternatifnya, penjual bisa:
- Meningkatkan harga jual secara bertahap agar pembeli tidak kaget.
- Mengoptimalkan promosi dan paket bundling untuk menekan biaya per transaksi.
- Memanfaatkan program gratis ongkir atau cashback dari platform secara maksimal.
Bagi konsumen, biaya ini mungkin terlihat kecil. Tapi di balik layar, Rp1.250 per pesanan bisa menentukan apakah UMKM tetap untung atau malah merugi.
Persaingan di e-commerce kini bukan hanya soal harga dan promosi, tapi juga kemampuan bertahan di tengah biaya tambahan yang makin kreatif. (sun)