Trenggaleknjenggelek – Konferensi East Java Economic (EJAVEC) 2025 kembali digelar dengan menempatkan Jawa Timur sebagai episentrum penguatan ekonomi nasional. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai Gerbang Baru Nusantara yang harus ditopang oleh riset dan kajian ilmiah berkelanjutan.
“Peran vital ini tidak cukup hanya ditopang program dan kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan pemikiran dari para akademisi, praktisi, hingga dunia usaha. Dengan begitu, strategi pembangunan ekonomi Jawa Timur lebih terukur, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Emil.
Konferensi tahunan ini menghadirkan tiga narasumber utama: Yose Rizal Damuri dari CSIS, Prof. Ari Kuncoro dari Universitas Indonesia, dan Prof. Rudi Purwono dari Universitas Airlangga. Diskusi yang dipandu secara interaktif menyoroti strategi memperkuat ketahanan ekonomi Jawa Timur melalui peningkatan produktivitas, inovasi, inklusivitas, keberlanjutan, dan resiliensi menghadapi dinamika global.
Selain forum diskusi, EJAVEC 2025 juga menjadi ruang apresiasi bagi kalangan peneliti ekonomi. Dari total 376 karya tulis yang masuk dalam ajang Call for Papers, panitia mengumumkan para pemenang sebagai puncak acara. Para peneliti terpilih diharapkan memberi kontribusi nyata dalam memperkaya arah kebijakan ekonomi Jawa Timur ke depan.
EJAVEC selama ini menjadi salah satu ajang konsolidasi strategis antara pemerintah daerah, akademisi, dan sektor swasta untuk mendorong transformasi ekonomi Jawa Timur. Dengan tema besar Gerbang Baru Nusantara, konferensi 2025 meneguhkan komitmen Jawa Timur sebagai wilayah yang siap menghadapi tantangan global sekaligus menopang pertumbuhan nasional. (Jaz)
Editor : Zaki Jazai