Trenggaleknjenggelek – Semestinya barista dan petani kopi saling bertukar peran demi menciptakan pemahaman bersama tentang mutu kopi dari hulu hingga hilir. Sehingga tercipta mutu kopi yang kian terjamin.
Karena itu antara barista dan petani kopi harus dibuatkan event khusus yang menampilkan mereka saling bekerjasama. Sehingga tiap tim masing-masing terdiri atas satu barista dan satu petani kopi yang dipasangkan secara acak, ditantang menunjukkan kemampuan di luar kebiasaan mereka.
Baca Juga: EJAVEC 2025 Tegaskan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara
Para barista harus turun tangan memilih biji kopi di panggung, sementara para petani mencoba meracik kopi dengan teknik penyeduhan modern.
“Ini pengalaman luar biasa karena kami belajar langsung dari sumbernya. Saya jadi tahu bagaimana petani memilih biji, prosesnya detail sekali. Itu membuat saya makin paham, kualitas kopi yang enak di cangkir berawal dari kebun,” kata Ical (32), barista asal Slulur Kopi Surabaya.
Ical menilai tukar peran ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana memperkuat sinergi antara barista dan petani. Barista bisa memahami kerja keras petani, sedangkan petani memperoleh wawasan bagaimana hasil panennya dinikmati konsumen.
“Kalau kami bisa saling memahami, mutu kopi bisa lebih terjamin dari kebun sampai ke cangkir,” imbuhnya.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi 5,12% ala BPS: Fakta atau Sekadar Angka di Atas Kertas?
Panitia menegaskan, konsep ini memang dirancang agar ada titik temu pengetahuan antara hulu dan hilir industri kopi. Dengan begitu, petani tidak hanya berhenti pada proses panen, dan barista tidak sekadar meracik tanpa tahu asal bahan baku.
Lewat kegiatan ini, Bank Indonesia Jawa Timur berharap mutu kopi Nusantara semakin diakui, baik di pasar domestik maupun internasional.(Jaz)
Editor : Zaki Jazai