Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sejarah Rupiah, Dari Gulden hingga Simbol Kedaulatan Bangsa

Zaki Jazai • Kamis, 4 September 2025 | 22:10 WIB

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Trenggalek menyetujui rencana pinjaman daerah sebesar Rp 70 miliar (M) untuk tahun anggaran 2026.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Trenggalek menyetujui rencana pinjaman daerah sebesar Rp 70 miliar (M) untuk tahun anggaran 2026.

Trenggaleknjenggelek– Uang bukan hanya alat tukar, tetapi juga saksi bisu perjalanan panjang sebuah bangsa. Di Indonesia, setiap lembar uang kertas menyimpan jejak sejarah, mulai dari masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, hingga lahirnya rupiah yang kini menjadi identitas kedaulatan negara.

Gulden dan Jejak VOC

Pada abad ke-17, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) memperkenalkan gulden di Nusantara. Penggunaan uang kertas saat itu terbatas, lebih banyak untuk perdagangan besar antara pedagang Eropa dengan pribumi. Meski sederhana, langkah ini menandai awal mula masyarakat Nusantara mengenal konsep uang kertas.

Setelah VOC bubar pada 1799, pemerintah Hindia Belanda melanjutkan penggunaan gulden. Desain uang kala itu menampilkan ciri khas kolonial, dengan bahasa Belanda sebagai bahasa utama. Uang gulden semakin meluas penggunaannya, bahkan menjadi simbol dominasi ekonomi Belanda di tanah jajahan.

Baca Juga: Harga Emas Meroket Usai Trump Pecat Anggota The Fed, Pasar Keuangan Bergetar

Masa Jepang dan “Uang Miki”

Pendudukan Jepang pada 1942–1945 membawa perubahan drastis. Gulden digantikan oleh “uang Jepang” atau invasie geld. Namun, peredaran uang ini tidak ditopang cadangan emas. Jepang mencetaknya besar-besaran untuk membiayai perang, yang berujung pada inflasi parah.

Nilai uang merosot tajam, dan masyarakat menjulukinya sebagai “uang miki” atau uang tidak berharga. Kondisi ini menambah penderitaan rakyat yang sudah dibebani kerja paksa dan kekurangan bahan pangan.

Baca Juga: Penyaluran Kredit Baru Meningkat di Triwulan II 2025, Bank Indonesia Catat Tren Lebih Hati-Hati

Oeang Republik Indonesia: Simbol Merdeka

Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, pemerintah Republik Indonesia meluncurkan Oeang Republik Indonesia (ORI) pada 30 Oktober 1946. ORI bukan hanya alat tukar, melainkan simbol kedaulatan negara yang baru lahir.

Walau sempat sulit diterima di beberapa daerah karena pengaruh Belanda masih kuat, ORI menjadi bukti nyata berdirinya republik. Lembar ORI, yang sederhana dalam desain, tetap dikenang sebagai lambang keberanian bangsa mempertahankan kemerdekaan.

Baca Juga: Event Kopi di Jatim Catat Transaksi Rp 55,8 Miliar di Hari Pertama

Rupiah dan Identitas Nasional

Seiring berjalannya waktu, Indonesia menyempurnakan sistem keuangannya. Bank Indonesia berdiri pada 1953 dan mengambil alih peran sebagai otoritas moneter. Rupiah ditetapkan sebagai mata uang resmi, menggantikan ORI.

Sejak saat itu, rupiah terus berevolusi. Desainnya menampilkan pahlawan nasional, tarian daerah, hingga panorama alam Indonesia. Setiap elemen bukan sekadar hiasan, melainkan pesan kuat tentang identitas dan kebanggaan bangsa.

Rupiah Kini

Hari ini, rupiah bukan hanya alat transaksi. Ia adalah simbol kedaulatan, kebanggaan, sekaligus cermin perjalanan panjang Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan ekonomi. Dari gulden Belanda, uang pendudukan Jepang, ORI, hingga rupiah modern, semuanya merupakan bab penting dalam sejarah bangsa.

Sejarah uang kertas Indonesia mengingatkan kita bahwa rupiah tidak lahir begitu saja, melainkan melalui perjuangan dan pengorbanan. Setiap lembar rupiah yang beredar saat ini adalah warisan sejarah yang patut dijaga.(jaz)

Photo
Photo
Editor : Zaki Jazai
#uang #rupiah #indonesia