Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kisah Indra Swari Owner Cucur Jadul Trenggalek: Berawal dari Iseng Story IG, Kini Laris Manis di Alun-alun—Tanpa Utang Seperak Pun!

Natasha Eka Safrina • Jumat, 30 Januari 2026 | 20:17 WIB

Cucur Jadul Trenggalek viral! Berawal dari story IG, kini laris di alun-alun. Kisah ownernya bikin salut: tanpa utang!
Cucur Jadul Trenggalek viral! Berawal dari story IG, kini laris di alun-alun. Kisah ownernya bikin salut: tanpa utang!

TRENGGALEK - Nama Cucur Jadul Trenggalek belakangan ini ramai diperbincangkan, terutama di kalangan anak muda yang penasaran dengan jajanan tradisional tempo dulu. Di tengah gempuran makanan modern dan dessert kekinian, cucur yang dulu identik dengan jajanan pasar justru kembali naik daun. Menariknya, kebangkitan cucur ini lahir dari cerita sederhana: berawal dari iseng bikin, lalu diunggah ke Instagram.

Sosok di balik ramainya Cucur Jadul Trenggalek adalah Indra Swari Hanasari, seorang ibu muda yang kini menjalankan usaha lapak cucur di Trenggalek. Ia mengaku awalnya hanya ingin membuat jajanan yang sudah jarang ditemui. “Jujur itu makanan zaman dulu, jajan teles. Sekarang jarang banget yang jual,” ungkapnya dalam video wawancara.

Dari situ, Indra mulai mencoba membuat cucur sendiri. Ia menyebut bahan dasarnya sederhana: tepung beras, gula merah, dan tepung terigu. Meski terlihat mudah, prosesnya ternyata tidak sesederhana itu. Indra mengaku melakukan trial and error hingga tiga bulan agar cucur yang dibuat punya tekstur serat yang bagus dan matang sempurna.

Baca Juga: 7 Peluang Bisnis Online 2026 Modal Internet, Bisa Dikerjakan dari Rumah dan Potensi Cuan Saat Orang Lain Tidur

Dari Preorder 20 Boks, Ternyata Meledak

Awalnya Indra hanya mencoba sistem open PO. Ia membuat story Instagram dan bertanya apakah ada yang berminat. Di luar dugaan, responsnya luar biasa. Ia sampai membatasi pesanan karena semua dikerjakan sendiri tanpa karyawan.

“Pertama kali preorder sudah dapat maksimal 20 boks,” katanya. Satu boks berisi 5 biji cucur dengan harga Rp10 ribu. Dari sini, Indra mulai melihat peluang bahwa jajanan jadul ternyata masih punya pasar besar, bahkan didominasi Gen Z.

Permintaan makin tinggi, apalagi setelah muncul ide topping. Uniknya, ide itu justru datang dari audiens. Indra mengaku tidak menutup diri terhadap kritik dan saran. “Saya ngikut customer. Mbak coba dikasih keju, coba dikasih coklat,” ucapnya.

Kini varian topping Cucur Jadul Trenggalek makin beragam, mulai dari coklat, keju, tiramisu, matcha, hingga pisang. Peluncurannya pun dilakukan bertahap, tidak sekaligus, agar ia bisa mengukur respons pembeli.

Baca Juga: Ide Bisnis 2026 Paling Realistis: Bukan Cepat Kaya, Tapi Tahan Krisis di Tengah Tekanan Ekonomi Kelas Menengah

Tantangan Jualan Tenda: Cuaca, Angin, dan Bocor

Setelah dua kali open PO, muncul permintaan dari pelanggan agar Indra membuka lapak di area kota agar lebih mudah dijangkau. Ia pun mulai merancang jualan tenda lengkap dengan meja lipat. Namun tantangan terbesar justru bukan pada produk, melainkan mencari tempat jualan.

Indra akhirnya mendapat bantuan dari budenya yang akrab dipanggil “Bunda”, yang mempersilakan ia memakai lokasi lapak di sekitar alun-alun. Indra pun mulai berjualan dengan jadwal berpindah: Senin sampai Rabu di timur kecamatan, sedangkan Jumat sampai Minggu di utara Alun-alun Trenggalek karena tidak boleh berjualan setiap hari di sana.

Namun jualan tenda bukan tanpa drama. “Kalau hujan angin itu enggak bisa dikondisikan. Tendanya geser, bocor ya pasrah,” katanya. Bahkan ia pernah harus mengganti tenda baru karena cuaca. Untuk mengatasi angin yang mematikan api kompor, Indra sampai menambah banner, triplek, dan tatakan kompor agar proses memasak tetap stabil.

Baca Juga: 7 Usaha Tahan Krisis 2026 yang Diprediksi Makin Cuan hingga 2030, Modal Kecil tapi Dibutuhkan Banyak Orang

Cucur Berminyak? Ini Kritik Terbesar yang Pernah Datang

Salah satu kritik paling sering ia terima adalah soal cucur yang dianggap berminyak. Indra mengaku sudah mencoba berbagai cara, mulai dari mengganti jenis minyak hingga teknik meniriskan. Namun cucur memang tidak bisa benar-benar bebas minyak.

Ia menyiasatinya dengan teknik tiris yang lebih maksimal, seperti tidak menumpuk cucur sebelum benar-benar turun minyaknya. Perlahan, kritik itu mulai berkurang karena Indra menjelaskan secara terbuka kepada pelanggan.

Prinsip Anti Utang dan Pesan untuk Anak Muda

Yang membuat kisah Indra makin menarik adalah prinsipnya: menjalankan usaha tanpa utang ke luar. Ia dan suami menerapkan konsep “utang dompet sendiri”—mengambil modal dari uang simpanan, lalu mengembalikannya dari keuntungan.

“Alhamdulillah sampai sekarang belum ngutang sama sekali,” tegasnya. Ia percaya usaha tidak harus langsung besar. Mulai dari yang sederhana, lalu berkembang pelan-pelan. Baginya, keyakinan adalah kunci utama.

Indra pun menutup dengan pesan untuk anak muda agar tidak takut memulai bisnis. “Mulai aja dulu. Berani dulu. Yakin, PD,” katanya.

Kini, Cucur Jadul Trenggalek bukan hanya jualan jajanan, tapi juga membawa cerita tentang perjuangan, konsistensi, dan keberanian memulai dari kecil.

Editor : Natasha Eka Safrina
#jajanan tradisional #usaha kuliner