TRENGGALEK - Nama Mas Bram Durian Trenggalek dikenal luas sebagai salah satu supplier durian tertua di wilayah Trenggalek. Berbasis di Desa Tulimo, usaha keluarga yang dijalankan Bapak Suyitno dan Ibu Sunarti ini tak hanya melayani pembeli lokal, tetapi juga grosir hingga wisatawan yang sengaja mampir untuk berburu durian segar berkualitas.
Dalam video yang beredar, Noviana—anak dari pasangan tersebut—menceritakan perjalanan panjang keluarganya membangun usaha durian dari nol. Ia menyebut, “Mas Bram durian itu merupakan salah satu supplier durian tertua untuk saat ini di Trenggalek tepatnya Desa Tulimo.”
Noviana menjelaskan, nama “Mas Bram” sendiri merupakan panggilan akrab ayahnya sejak lama. Di desa, teman-teman ayahnya biasa memanggil “Mas Bram”, bahkan ada yang menyebutnya “Pak Cik Mas Bram”. Nama itulah yang kemudian melekat dan menjadi identitas usaha durian keluarga mereka.
Berawal dari Ngecer, Kehujanan, Sampai Dimalak Preman
Perjalanan Mas Bram Durian Trenggalek tidak instan. Noviana mengungkap ayahnya dulu berjualan durian dengan cara ngecer atau eceran, bahkan pernah merasakan kerasnya hidup di jalanan.
Ada masa ketika ayahnya harus tidur di trotoar, kehujanan dan kepanasan demi mempertahankan usaha. Tantangan lain datang dari preman yang kerap meminta uang. Namun, Bapak Suyitno dikenal berani dan tidak mau ditindas. Bahkan, ada kisah lucu sekaligus menegangkan ketika durian yang dijual sempat “ditendang” sebagai bentuk perlawanan. Momen itu justru jadi titik balik, karena setelahnya ayahnya semakin dikenal dan punya banyak relasi.
Noviana menegaskan, sejak awal orang tuanya memegang prinsip tidak ingin usaha dibangun dari cara yang merugikan orang lain. Mereka juga menjaga sistem pembayaran agar jelas dan tidak menggantung. “Kalau relasi kirim durian misalkan uangnya cuma dijinjing cuma dikasih bon, kalau Alhamdulillah Bapak sama Ibu tidak,” ujarnya.
Lengkap! Musang King sampai Montong Ada Semua
Saat ini, Mas Bram Durian Trenggalek melayani banyak jenis durian favorit pasar. Mulai dari durian lokal hingga jenis premium. Di antaranya ripto, bawor, Musang King, Bajul, montong, hingga durian riding.
Namun, durian premium punya tantangan tersendiri. Noviana menyebut, barang “prime” sering kali sudah laku saat masih di pohon. Bahkan belum turun pun sudah dipesan pelanggan. Ini membuat stok cepat habis dan pembeli harus cepat mengambil kesempatan jika ingin dapat durian terbaik.
Selain durian utuh, Mas Bram Durian Trenggalek juga menyediakan layanan packing. Bagi pembeli yang tidak ingin repot membawa durian berduri saat bepergian, durian bisa dikupas dan dikemas dalam mika. Bahkan ada juga produk olahan seperti es krim durian yang mulai diminati.
Rahasia Unggul: Jam Terbang Pilih Durian yang “Tua”
Salah satu keunggulan utama Mas Bram Durian Trenggalek ada pada kemampuan memilih durian. Bapak Suyitno disebut memiliki jam terbang tinggi dalam memilah durian yang benar-benar matang dan layak jual.
Di lapak ini, durian dari petani kebun juga banyak yang “setor” untuk disortir. Ketika ada pengirim atau “ojek durian” datang membawa durian, Bapak Suyitno yang turun tangan langsung untuk memilah mana durian tua, mana yang masih muda, dan mana yang kualitasnya terbaik.
“Yang paling penting keakuratan dalam memilah durian,” kata Noviana. Harga pun sangat variatif, dari durian murah sampai durian premium. Ada yang Rp5.000 dapat 3 buah, tetapi ada juga yang harganya di atas Rp100.000 tergantung kualitas dan permintaan pasar.
Sehari Minimal Kirim 1 Mobil, Bisa Tembus 5.000 Durian
Skala bisnis Mas Bram Durian Trenggalek terbilang besar. Noviana menyebut pengiriman harian minimal satu mobil dengan muatan lebih dari 1.000 durian. Saat ramai, terutama di musim puncak, jumlahnya bisa melonjak drastis.
Musim durian dipengaruhi cuaca dan biasanya mulai ramai dari sekitar Agustus hingga Desember. Pada momen tertentu, terutama mendekati hari raya dan Kupatan, pasar semakin menggila.
“Kalau paling raya per hari itu… bisa sampai 5.000 per hari,” ungkapnya. Saat H-10 jelang hari raya, penjualan disebut sangat ramai. Setelah Kupatan, biasanya masih ramai sekitar satu minggu, lalu mulai sepi sehingga harga ikut turun.
Agar tetap bertahan saat pasar melambat, durian yang pecah atau tidak cantik dijual dalam bentuk kupasan mika. Ada juga penjualan daging durian saja, termasuk bagian “daging dan biji” yang tetap dicari sebagian konsumen.
Filosofi Orang Tua: Rawat Bumi, Bumi Balas Kebaikan
Di akhir cerita, Noviana menyampaikan pesan kuat dari orang tuanya. Ia menyebut filosofi keluarga mereka: jika merawat hasil bumi seperti merawat anak sendiri, maka bumi akan memberi feedback yang baik.
Hal itu terbukti karena selain durian, keluarga ini juga memiliki hasil bumi lain seperti cengkeh yang menjadi pemasukan tambahan. Noviana mengaku, hasil dari bertani dan berdagang jauh melampaui gaji kerja kantoran yang pernah ia jalani.
Pesannya untuk anak muda pun tegas: jangan patah semangat saat direndahkan. “Kamu cukup membalas dengan kesuksesanmu,” tutupnya.
Editor : Natasha Eka Safrina