TRENGGALEK - Kisah sukses UMKM lokal kembali mencuri perhatian. Kali ini datang dari Bakpia Ahmad Family Trenggalek, usaha bakery dan cookies yang dirintis dari modal minim, namun kini berkembang pesat hingga sanggup meraup omzet ratusan juta rupiah. Cerita inspiratif ini dibagikan langsung oleh Fandi Ahmad dan istrinya, Siti Zubaida, owner dari Ahmad Family Bakery dan Cookies yang berlokasi di Desa Gemb—Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek.
Dalam perkenalannya, Fandi menjelaskan bahwa brand yang dikenal masyarakat sebenarnya adalah “Mbak Pia Ahmad Family”. Namun, nama perusahaan resminya adalah Ahmad Family Bakery dan Cookies, dengan beberapa produk unggulan seperti Bakpia Ahmad Family, Bolen Ahmad Family, Pusu Ahmad Family, hingga varian lain yang terus bertambah.
Meski begitu, nama Bakpia Ahmad Family Trenggalek menjadi yang paling melekat di benak pelanggan. Sebab sejak awal berdiri, bakpia menjadi produk utama yang paling banyak dicari dan paling dikenal di pasaran.
Berawal dari Merantau, Lalu Pulang untuk Bangun Usaha
Fandi menceritakan perjalanan hidupnya dimulai dari merantau ke Pasuruan setelah lulus SMA. Ia bekerja selama kurang lebih tiga tahun dan mendapat banyak wejangan dari orang yang ia anggap seperti keluarga sendiri. Dari sana, ia belajar soal marketing, distribusi, hingga bagaimana membangun mental usaha.
Dorongan keluarga menjadi titik balik. “Kalau enggak ada dorongan keluarga mungkin saya masih kerja di sana,” ujarnya. Ia kemudian pulang ke Trenggalek dan mencoba membangun usaha bakpia karena melihat peluang: saat itu produk bakpia di Trenggalek masih belum banyak dikenal.
Modal Rp500 Ribu yang Diputar Terus
Salah satu bagian paling menyentuh dari cerita ini adalah bagaimana Bakpia Ahmad Family Trenggalek benar-benar dimulai dari nol. Fandi menyebut, modal awalnya hanya Rp500.000. Uang itu digunakan untuk membeli bahan produksi satu kali, lalu diputar terus-menerus untuk produksi berikutnya.
Saat awal merintis, alat yang dipakai pun masih sangat sederhana. Bahkan oven yang digunakan hanya oven kecil rumahan. Namun karena pesanan mulai naik, Fandi akhirnya membeli oven tambahan yang lebih besar. Menariknya, ia tetap memegang prinsip: sebisa mungkin tidak berutang.
“Pas aku buka usaha, aku punya prinsip pokoknya jangan hutang,” katanya. Ia mengaku usaha berjalan dengan uang sendiri dari 2016 hingga masa pandemi Covid-19.
Tantangan Bahan Baku: Harus Belanja ke Luar Kota
Perjalanan membangun usaha di daerah juga punya tantangan. Fandi menyebut, beberapa bahan baku seperti tepung tertentu dan cokelat belum mudah ditemukan di Trenggalek, sehingga harus belanja ke Pasuruan. Perbedaan bahan baku ini bahkan sempat membuat resep harus direvisi berkali-kali agar rasanya tetap konsisten.
Di sisi produksi, bakpia yang dibuat juga punya standar ketat. Menurut Fandi, yang paling menentukan rasa bakpia adalah isiannya. Jika isiannya meleset sedikit saja, rasa bisa berubah drastis. Karena itu, takaran harus tepat, tidak boleh kurang atau lebih.
Harga Murah, Untung Tipis, Tapi Produksi Besar
Menariknya, Bakpia Ahmad Family Trenggalek tidak memasang harga tinggi. Mereka memilih strategi harga terjangkau karena menyasar masyarakat menengah ke bawah. Bahkan margin keuntungan per kotak disebut hanya sekitar Rp1.000 dari harga jual Rp10.000.
Meski untung tipis, pesanan tetap ramai karena volume produksi tinggi. Saat musim ramai seperti banyak acara pernikahan, produksi bisa tembus ribuan kotak. “Kalau pas musim manten itu bisa sampai 5.000 kotak,” ungkapnya.
Namun, ada juga masa sepi, misalnya saat bulan Suro yang identik minim hajatan. Ketika ramai, omzet bisa menembus Rp150 juta lebih. Saat sepi, omzet masih bertahan di kisaran Rp70 juta.
Covid-19, Musibah, dan Lahirnya Produk Baru
Pandemi Covid-19 menjadi masa berat. Pesanan turun, usaha sempat melambat, bahkan ditambah musibah keluarga: ibu kecelakaan, Fandi juga kecelakaan, dan sang istri harus menjalani operasi saat melahirkan. Kondisi itu membuat mereka benar-benar diuji secara mental dan finansial.
Namun dari masa sulit itu, lahir inovasi baru. Mereka mulai mengembangkan produk seperti bolen, pai susu, donat, onde-onde, hingga bolu. Bolen bahkan disebut “terlahir” karena pandemi, saat mereka punya waktu untuk bereksperimen.
Karyawan Dianggap Saudara, Kunci Usaha Bertahan
Kini, Bakpia Ahmad Family Trenggalek memiliki puluhan karyawan. Fandi menegaskan ia tidak ingin jadi bos yang menjaga jarak. Ia merangkul karyawan seperti keluarga, karena ia pernah berada di posisi pekerja dan tahu rasanya diperlakukan tidak adil.
“Kalau enggak ada karyawan, gak mungkin aku bisa produksi sebanyak ini,” katanya. Ia bahkan mengutamakan gaji karyawan meski dirinya harus tidak memegang uang terlebih dulu.
“Dulu Beli Pulpen Aja Susah”
Di akhir cerita, Fandi membagikan kisah masa kecilnya yang penuh keterbatasan. Ia mengaku dulu untuk beli pulpen saja sulit. Buku sekolah pun ia kumpulkan dari sisa halaman kosong agar bisa dipakai belajar semester berikutnya.
Kini, saat usaha sudah berkembang, ia memilih untuk lebih bersyukur dan bersedekah. Baginya, kesuksesan bukan untuk pamer, tetapi untuk membuktikan bahwa proses panjang tidak pernah mengkhianati hasil.
Editor : Natasha Eka Safrina