Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Usaha Roti Trenggalek Beromzet Rp10 Juta Sehari, Berawal dari Modal Rp6 Juta dan Produksi 5 Kg Tepung

Novica Satya Nadianti • Jumat, 30 Januari 2026 | 21:24 WIB

 

Usaha roti Trenggalek ini berawal dari modal Rp6 juta, kini mampu meraup omzet hingga Rp10 juta per hari dari hajatan dan event besar.
Usaha roti Trenggalek ini berawal dari modal Rp6 juta, kini mampu meraup omzet hingga Rp10 juta per hari dari hajatan dan event besar.

TRENGGALEK – Kisah sukses pelaku usaha roti Trenggalek ini menjadi bukti bahwa ketekunan, kejujuran, dan konsistensi mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang besar. Berawal dari dapur sederhana dengan modal terbatas, usaha roti rumahan ini kini dikenal luas hingga se-Kabupaten Trenggalek dan menjadi langganan berbagai acara hajatan, selamatan, hingga kegiatan kantor.

Pemilik usaha mengisahkan, langkah awal merintis bisnis roti dimulai dengan modal seadanya. Mixer roti dibeli bekas seharga Rp6 juta, disusul pembelian loyang sekitar 30 buah dengan total hampir Rp2 juta. Jika ditotal, modal awal usaha ini tak lebih dari Rp20 juta. Namun dari modal itulah, perjalanan panjang usaha roti Trenggalek ini dimulai.

Dari 5 Kg Tepung hingga Ribuan Roti per Hari

Produksi awal dilakukan dengan hanya 5 kilogram tepung. Dari jumlah tersebut, sebagian dibuat roti tawar dan sisanya roti manis berbagai varian seperti cokelat dan keju. Tak disangka, seluruh produksi langsung habis dalam satu hari. Keesokan harinya, produksi ditingkatkan menjadi 8 kilogram, lalu 10 kilogram, dan terus meningkat seiring permintaan pasar.

“Alhamdulillah, dari mulut ke mulut akhirnya dikenal. Kalau ada acara selamatan atau hajatan, orang-orang mulai pesan roti kami,” ujarnya. Saat ini, jika tidak ada pesanan khusus, produksi rutin mencapai satu sak tepung 25 kilogram per hari. Jumlah roti yang dihasilkan berkisar 1.200 hingga 1.500 buah per hari.

Andalan Hajatan dan Acara Desa

Nama produk rotinya kini sudah dikenal luas. Hampir semua acara hajatan di desa, pertemuan balai desa, hingga kegiatan kantor menggunakan roti produksinya. Dalam kondisi normal, omzet harian bisa mencapai Rp3 juta. Namun saat event besar, omzet melonjak drastis.

“Pernah satu hari dapat sampai Rp10 juta, itu waktu ada event besar,” ungkapnya. Dalam satu hajatan besar saja, pesanan bisa menembus 4.000 roti. Pencapaian ini menjadikan usaha roti Trenggalek tersebut sebagai salah satu UMKM kuliner paling produktif di daerahnya.

Kerja Keras dari Dini Hari

Proses produksi dilakukan sejak dini hari. Jika ada pesanan besar di atas 1.000 roti, aktivitas sudah dimulai pukul 04.00 WIB. Setelah salat subuh, produksi dilanjutkan hingga siang, bahkan kadang berlanjut sampai sore atau menjelang magrib. Sang istri berperan penting dalam proses produksi, mulai dari pengolahan adonan hingga pemanggangan.

Awalnya, semua proses dilakukan manual, termasuk menimbang adonan satu per satu. Seiring berkembangnya usaha, perlengkapan produksi ditambah, mulai dari timbangan pres hingga oven yang kini jumlahnya mencapai sembilan unit.

Filosofi Usaha: Murah, Berkah, dan Berbagi

Salah satu kunci sukses usaha roti Trenggalek ini adalah strategi harga. Roti dijual dengan harga terjangkau, sekitar Rp2.500 per buah. Prinsipnya sederhana, tidak mengambil untung besar, yang penting usaha terus berjalan dan stabil.

“Sedikit tapi mengalir,” katanya. Setiap Jumat, pemilik usaha rutin berbagi. Bahkan pelanggan yang datang ke rumah produksi sering dipersilakan makan gratis sebagai bentuk sedekah. Menurutnya, berbagi justru membuat usaha semakin lancar dan dipercaya pelanggan.

Perjalanan Panjang Dunia Bakery

Sebelum memiliki usaha sendiri, pemilik pernah merantau ke Jakarta sejak tahun 1993. Ia memulai karier dari pekerjaan paling dasar di toko roti, seperti mengepel dan membersihkan dapur, dengan gaji Rp35 ribu per bulan. Dari situ, ia belajar membuat roti dan kue hingga akhirnya menguasai seluruh proses produksi.

Pengalaman puluhan tahun di dunia bakery itulah yang menjadi bekal utama saat akhirnya berani membuka usaha sendiri di Trenggalek. Dengan modal pinjaman alat dan keyakinan penuh, usaha roti ini tumbuh secara perlahan namun pasti.

Kini, usaha roti Trenggalek tersebut bukan hanya menjadi sumber penghidupan keluarga, tetapi juga inspirasi bagi pelaku UMKM lain. Pesannya sederhana, bekerja keras, konsisten, dan jangan melupakan doa serta berbagi.

 

Editor : Novica Satya Nadianti
#Kisah Sukses UMKM #Usaha Roti