Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Usaha Bordir Komputer Tulungagung Ini Berawal dari Rp45 Ribu, Kini Omzet 3 Digit dan Dipercaya hingga Luar Pulau

Novica Satya Nadianti • Jumat, 30 Januari 2026 | 21:31 WIB

 

Usaha bordir komputer Tulungagung milik Anwar-Fitria berawal dari Rp45 ribu, kini omzet 3 digit dan dipercaya klien hingga luar pulau.
Usaha bordir komputer Tulungagung milik Anwar-Fitria berawal dari Rp45 ribu, kini omzet 3 digit dan dipercaya klien hingga luar pulau.

TULUNGAGUNG – Perjalanan usaha bordir komputer Tulungagung milik pasangan Anwar Fuadi dan Fitria Nuriani menjadi gambaran nyata bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk tumbuh besar. Berawal dari kehidupan serba pas-pasan, tanpa privilege, tanpa banner usaha, bahkan sempat putus sekolah, keduanya kini mengelola usaha jasa bordir dan konveksi dengan omzet tembus tiga digit.

Anwar mengisahkan, masa kecilnya dihabiskan dengan membantu orang tua dan bekerja serabutan. Bahkan saat SMP, biaya sekolah ia peroleh dari hasil membuat batu bata di tempat tetangga. Kondisi ekonomi membuatnya tak melanjutkan SMA. “Saya putus sekolah, enggak SMA. Waktu itu ya sudah lama nikah,” tuturnya.

Dari Putus Sekolah hingga Bangun Usaha Sendiri

Setelah lulus SMP, Anwar merantau ke luar pulau dan bekerja di pabrik garmen. Di sanalah ia belajar keterampilan bordir dan konveksi. Namun alih-alih bertahan sebagai karyawan, ia memilih pulang ke Tulungagung dengan satu tujuan: mengembangkan skill dan melanjutkan pendidikan.

Ia kemudian menyelesaikan pendidikan setara SMA dan melanjutkan kuliah. Dari pengalaman itulah muncul gagasan membangun usaha yang linier dengan keahlian yang telah dimiliki. “Daripada cari-cari lagi, kenapa enggak usaha yang sudah kita kuasai,” ujarnya.

Modal Rp45 Ribu yang Berputar

Cikal bakal usaha bordir komputer Tulungagung ini justru dimulai dari usaha kecil lain. Pada 2016, pasangan ini mencoba produksi hijab dengan modal hanya Rp45 ribu untuk membeli kain. Fitria yang memiliki kemampuan menjahit membuat produk secara manual. Dari satu pesanan seragam 45 potong, uang tersebut terus berputar hingga menjadi fondasi usaha saat ini.

Awalnya, mereka belum memiliki mesin bordir sendiri dan hanya mengandalkan promosi lewat media sosial. Google Maps dan kata kunci pencarian menjadi senjata utama. “Apa yang diketik orang di HP, kita harus hadir sebagai solusi,” kata Anwar.

Tanpa Banner, Andalkan Kepercayaan

Menariknya, sejak awal usaha ini tak pernah menggunakan banner atau papan nama. Lokasi usaha pun berada di gang sempit kawasan kontrakan. Optimasi sepenuhnya mengandalkan media sosial dan kepercayaan pelanggan.

Pendekatan yang digunakan fleksibel dan humanis. Anwar tak mematok harga kaku, melainkan menyesuaikan anggaran klien. “Yang penting klien bisa jalan, order jadi, dan semua senang,” jelasnya. Sistem pembayaran pun dibuat luwes agar pelanggan merasa aman dan nyaman.

Melejit di Masa Pandemi

Saat pandemi COVID-19 melanda dan banyak usaha terpuruk, justru menjadi momentum kebangkitan. Mereka mulai membeli mesin produksi sendiri. Dari awalnya hanya menerima pesanan kecil, kini mampu menangani ribuan bordir per hari untuk seragam sekolah, konveksi, hingga selimpang wisuda.

Produk selimpang wisuda menjadi salah satu andalan yang paling diminati. Usaha ini juga membuka peluang bagi pelaku UMKM lain, mulai dari pesanan kecil enam potong hingga ribuan unit. Filosofinya sederhana: usaha kecil bisa berdampak besar.

Pendidikan Tinggi, Tapi Tak Kerja Kantoran

Anwar dan Fitria dikenal luas di media sosial karena konten “lulusan pendidikan tinggi tapi tidak kerja kantoran”. Keduanya menempuh pendidikan hingga S2, namun memilih jalur usaha. Konten tersebut viral dan menginspirasi banyak orang yang merasa insecure dengan pilihan hidupnya.

“Pendidikan itu bukan selalu soal pekerjaan, tapi cara berpikir dan manajemen,” katanya. Ilmu manajemen, psikologi karyawan, dan pengelolaan usaha justru menjadi bekal utama menjaga bisnis tetap stabil dan berkelanjutan.

Omzet 3 Digit dan Filosofi Bertumbuh

Kini, usaha bordir komputer Tulungagung tersebut mencatatkan omzet tiga digit. Namun gaya hidup mereka tetap sederhana. Prinsip kehati-hatian, tidak serakah, dan tumbuh perlahan menjadi pegangan utama.

“Kita enggak mau meledak cepat lalu hilang. Napas usaha harus stabil,” ujar Anwar. Bahkan, beberapa mantan klien kini telah memiliki mesin sendiri setelah belajar dari mereka.

Bagi Anwar dan Fitria, kesuksesan bukan sekadar angka, melainkan ketenangan, kebermanfaatan, dan dampak luas bagi sekitar.

 

Editor : Novica Satya Nadianti
#umkm konveksi #kisah UMKM lokal #kisah inspirasi