Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kisah Pengusaha Percetakan Trenggalek Bertahan dari Krisis, Siap Hadapi Siklus Ekonomi Buruk 10 Tahunan hingga Omzet Justru Melejit

Axsha Zazhika • Minggu, 1 Februari 2026 | 12:00 WIB
Kisah Pengusaha Percetakan Trenggalek Bertahan dari Krisis, Siap Hadapi Siklus Ekonomi Buruk 10 Tahunan hingga Omzet Justru Melejit
Kisah Pengusaha Percetakan Trenggalek Bertahan dari Krisis, Siap Hadapi Siklus Ekonomi Buruk 10 Tahunan hingga Omzet Justru Melejit

TRENGGALEK NJENGGELEK - Kisah pengusaha percetakan Trenggalek bernama Supatno ini menjadi bukti bahwa krisis ekonomi tidak selalu berujung pada kehancuran usaha. Berangkat dari latar belakang keluarga petani di daerah pegunungan Kecamatan Tanggul, Kabupaten Trenggalek, Supatno justru mampu membangun bisnis percetakan dan digital printing yang bertahan bahkan tumbuh di tengah badai ekonomi nasional.

Sejak kecil, Supatno terbiasa hidup sederhana. Akses jalan setapak, kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, hingga harus berjalan tanpa alas kaki saat musim hujan menjadi bagian dari masa kecilnya. Setelah lulus SMK, ia merantau ke Bali pada 2004 dan bekerja di showroom sepeda motor. Dari sanalah mental jualan dan keberanian mengambil risiko mulai terbentuk.

Tak lama berselang, Supatno kembali ke Jawa dan bergabung dengan usaha percetakan milik kakaknya di Surabaya. Namun, pola kerja yang monoton tanpa inovasi membuatnya gelisah. Pengalaman di Bali mengajarkannya bahwa ide dan kreativitas adalah kunci bertahan. Empat tahun bekerja, ia akhirnya memutuskan resign dengan modal sangat minim: peralatan sablon seadanya dan uang tak sampai Rp50 ribu.

Modal Nekat dan Inovasi

Keputusan nekat itu menjadi titik balik pengusaha percetakan Trenggalek ini. Supatno mulai menawarkan solusi baru kepada pelanggan lama kakaknya, terutama soal efisiensi bahan dan kualitas cetak. Dari transaksi kecil senilai Rp140 ribu, ia mampu meningkatkan nilai order hingga Rp1,4 juta dengan pendekatan edukatif kepada konsumen.

Keuntungan itu digunakan untuk bertahan hidup dan perlahan mengembangkan usaha. Supatno bahkan membeli komputer bekas Pentium 3 dan belajar desain grafis secara otodidak lewat buku dan internet. CorelDraw menjadi senjata awalnya memahami dunia desain dan percetakan digital.

Pulang Kampung dan Ujian Kehidupan

Pada 2010, Supatno memutuskan pulang kampung ke Trenggalek dan menikah. Namun kebahagiaan itu diuji ketika anak pertamanya meninggal dunia setelah sakit. Trauma mendalam membuat semangat kerjanya runtuh. Usaha sempat terbengkalai, hingga akhirnya ia dan istri sepakat bangkit demi masa depan.

Dengan kondisi ekonomi terbatas, Supatno kembali membangun usaha dari nol. Ia mengontrak tempat murah, bernegosiasi dengan pemilik rumah, dan mulai menabung untuk membeli mesin cetak sendiri. Pinjaman demi pinjaman diambil dengan penuh perhitungan, termasuk membeli mesin cetak digital bernilai ratusan juta rupiah.

Menangkap Peluang Pasar Lokal

Momentum politik 2014 menjadi titik lonjakan. Promosi kalender melalui media sosial menghasilkan pesanan hingga puluhan ribu eksemplar. Dari situlah modal kembali terkumpul. Supatno memahami betul karakter pasar Trenggalek—kabupaten dengan jumlah penduduk sekitar 700 ribu jiwa—dan kebutuhan cetak yang terus tumbuh.

Ia tak ragu mengambil risiko besar dengan membeli mesin baru melalui skema kredit jangka panjang. Meski sempat dihantui kecemasan akibat cicilan besar, Supatno berpegang pada prinsip: lebih baik berutang untuk produktif daripada stagnan.

Pandemi Tak Menggoyahkan

Menariknya, saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020, pengusaha percetakan Trenggalek ini justru relatif aman. Jauh hari sebelumnya, Supatno sudah membaca prediksi krisis ekonomi dan menyiapkan cadangan dana sejak 2019. Ia juga mengalihkan target pasar ke Jabodetabek lewat iklan digital.

Hasilnya, meski banyak usaha terjun bebas, bisnis Supatno tetap berjalan. Bahkan omzet sempat mencetak rekor tertinggi. Ia tetap mempertahankan karyawan tanpa pemotongan gaji signifikan dan terus berinvestasi mesin baru di masa pandemi.

Menurutnya, krisis ekonomi memiliki pola siklus 10 tahunan—1998, 2008, dan 2020. Kesiapan mental, membaca tren, serta keberanian berinovasi menjadi kunci utama bertahan.

Kini, Supatno dikenal sebagai pengusaha percetakan dan digital printing yang sukses di Trenggalek. Prinsip hidup yang diwariskan sang ayah—jujur, bekerja keras, dan segera melunasi utang—menjadi fondasi kuat dalam setiap langkah bisnisnya.

 

Editor : Axsha Zazhika
#digital printing Trenggalek #Kisah Sukses UMKM #bisnis bertahan saat pandemi #inspirasi usaha daerah #pengusaha percetakan Trenggalek