Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Cerita Owner Cucur Jadul Trenggalek Bangun Usaha dari Tenda Pinggir Jalan, Tolak Utang dan Kini Jadi Buruan Anak Muda

Axsha Zazhika • Minggu, 1 Februari 2026 | 12:10 WIB
Cerita Owner Cucur Jadul Trenggalek Bangun Usaha dari Tenda Pinggir Jalan, Tolak Utang dan Kini Jadi Buruan Anak Muda
Cerita Owner Cucur Jadul Trenggalek Bangun Usaha dari Tenda Pinggir Jalan, Tolak Utang dan Kini Jadi Buruan Anak Muda

TRENGGALEK NJENGGELEK - Usaha kuliner tradisional bernama Cucur Jadul Trenggalek mendadak mencuri perhatian warga, khususnya generasi muda. Di balik kesuksesan jajanan lawas ini, ada kisah perjuangan Indra Swari Hanasari, perempuan muda asal Tamanan, Trenggalek, yang membangun usaha dari nol, tanpa utang, dan penuh keyakinan.

Indra mengaku awalnya tak pernah membayangkan akan berjualan cucur di pinggir jalan menggunakan tenda sederhana. Semua berawal dari iseng membuat jajanan jadul untuk keluarga. Cucur, yang kini sulit ditemukan di pasaran, justru mendapat respons luar biasa ketika ia unggah di media sosial.

Respons positif itu datang dari anak-anak muda. Banyak yang tertarik mencoba cucur dengan rasa autentik, berbeda dari jajanan kekinian. Dari situlah Indra mulai memberanikan diri membuka sistem pre-order (PO) lewat Instagram Story.

Dari Pre-Order ke Lapak Tenda

PO pertama Cucur Jadul Trenggalek dibatasi hanya 20 boks karena dikerjakan sendiri tanpa karyawan. Satu boks berisi lima cucur dijual seharga Rp10 ribu. Bahan bakunya pun sangat sederhana, hanya tepung beras, tepung terigu, dan gula merah.

Keinginan melestarikan jajanan tradisional menjadi motivasi utama Indra. Ia melihat cucur semakin jarang dijual, bahkan nyaris punah. Dari situ, ia bertekad menghidupkan kembali jajanan jadul dengan pendekatan yang lebih modern.

Seiring waktu, banyak pembeli menyarankan agar Indra membuka lapak di kota agar lebih mudah dijangkau. Dorongan itu membuatnya dan sang suami mulai merancang konsep jualan tenda di pinggir jalan. Namun, mencari lokasi berjualan ternyata tak semudah yang dibayangkan.

Tantangan Cuaca dan Lokasi

Jualan menggunakan tenda memiliki tantangan besar, terutama cuaca. Angin kencang dan hujan sering membuat tenda bergeser, bocor, bahkan rusak. Meski begitu, Indra memilih bertahan dan terus beradaptasi.

Kini, jadwal jualan Cucur Jadul Trenggalek sudah teratur. Senin hingga Rabu berjualan di wilayah timur kecamatan, sementara Jumat hingga Minggu mangkal di area utara Alun-alun Trenggalek, mengikuti aturan lokasi setempat.

Inovasi Topping dari Masukan Pelanggan

Keunikan Cucur Jadul tak berhenti pada rasa original. Indra aktif mendengar kritik dan saran pelanggan. Dari situlah lahir berbagai varian topping seperti cokelat, keju, tiramisu, matcha, hingga pisang.

Peluncuran topping dilakukan bertahap, tidak sekaligus. Setiap varian diuji dulu respons pasarnya. Menurut Indra, produknya berkembang bukan murni dari ide pribadi, melainkan hasil kolaborasi dengan pelanggan.

Salah satu kritik terbesar adalah cucur yang dianggap terlalu berminyak. Indra mengaku sudah mencoba berbagai cara, mulai dari mengganti jenis minyak hingga teknik penirisan. Meski tak bisa sepenuhnya menghilangkan minyak, ia terus memperbaiki kualitas produksi.

Filosofi Usaha Tanpa Utang

Hal menarik dari perjalanan Cucur Jadul Trenggalek adalah prinsip Indra yang sangat menghindari utang. Ia dan suaminya memilih menjalankan usaha sesuai kemampuan modal yang ada.

Jika keuntungan terkumpul, barulah digunakan untuk upgrade perlengkapan, mulai dari tenda, meja lipat, hingga banner. Semua dilakukan bertahap tanpa paksaan. Menurutnya, bisnis yang dipaksakan justru berpotensi menimbulkan stres dan kerugian.

Prinsip itu membuat usahanya berjalan lebih tenang. Indra percaya, rezeki akan datang selama dijalani dengan keyakinan dan kejujuran.

Inspirasi untuk Anak Muda

Indra berharap kisahnya bisa menjadi motivasi bagi anak muda Trenggalek yang ingin memulai usaha. Ia menekankan bahwa modal besar bukan segalanya. Keberanian memulai, konsistensi, dan keyakinan adalah kunci utama.

“Mulai aja dulu, jangan takut omongan orang. Yakin sama diri sendiri,” pesannya.

Kini, Cucur Jadul Trenggalek bukan sekadar jajanan tradisional, tetapi simbol perjuangan, kesabaran, dan keyakinan bahwa usaha kecil pun bisa bertahan dan berkembang tanpa harus berutang.

 

Editor : Axsha Zazhika
#kisah inspiratif pengusaha #jajanan tradisional #kuliner jadul #Cucur Jadul Trenggalek #UMKM Trenggalek