TRENGGALEK NJENGGELEK - Perjalanan usaha Robani Es Krim Tulungagung bukan sekadar cerita bisnis kuliner rumahan. Di balik es krim seharga Rp1.000 per biji yang kini beredar luas di Tulungagung dan sekitarnya, tersimpan kisah hijrah, perjuangan meninggalkan riba, hingga keberanian menjual aset demi memulai ulang usaha dengan prinsip syariah.
Pemilik Robani Es Krim, Pak Robani, mengungkapkan bahwa usaha es krim ini dirintis sejak tahun 2010, bermula dari perantauannya di Batam. Sebelum menjadi produsen es krim, ia sempat menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari sekuriti, penjual bakso, hingga ojek dan sopir angkutan kota.
Saat itu, usaha es krim yang dirintis sempat berkembang. Namun, keputusan mengambil pinjaman berbasis riba justru menjadi titik balik yang pahit. Alih-alih berkembang, usaha tersebut nyaris runtuh karena beban angsuran yang terus menekan.
Titik Balik: Meninggalkan Riba dan Memulai dari Nol
Pak Robani mengaku titik balik hijrah terjadi setelah mendengarkan kajian tentang bahaya riba. Ia tersentuh dengan pesan bahwa Allah akan menghancurkan riba dan menyuburkan sedekah. Dari situlah ia dan keluarga mengambil keputusan besar: menutup seluruh utang dan memulai usaha tanpa riba.
Untuk melunasi utang, Robani dan istri menjual dua mobil dan satu rumah di Batam. Setelah itu, mereka pindah ke Jawa Timur dan memulai kembali usaha Robani Es Krim Tulungagung dari nol.
“Yang kami bawa ke Jawa bukan harta, tapi hidayah,” ungkap Robani dalam video tersebut.
Jualan Keliling Pakai Motor, Masuk Sekolah dan Toko
Di awal merintis ulang usaha, Robani memasarkan es krim secara sederhana. Ia berkeliling menggunakan motor, mengantarkan es krim ke sekolah-sekolah dan toko-toko kecil dengan kemasan sterofoam. Seiring waktu, respons pasar mulai tumbuh.
Dari sistem titip di toko, usaha Robani Es Krim perlahan berkembang. Bahkan, para sales justru datang sendiri menawarkan kerja sama. Jaringan distribusi pun semakin luas, mencakup Tulungagung, Kediri, Blitar, Trenggalek, hingga sebagian Surabaya dan Sidoarjo.
Inovasi Produk dan Harga Terjangkau
Keunikan Robani Es Krim Tulungagung terletak pada produknya yang menyerupai es mambo, namun berbahan dasar susu dan dimasak langsung tanpa pemanis buatan. Es krim ini dikenal tidak menyebabkan batuk atau serik pada anak-anak, sehingga banyak orang tua merasa aman membelinya.
Saat ini, Robani Es Krim memiliki tiga produk utama, yakni es krim ori, es drop berbahan sari kelapa, dan es koko. Harga jualnya tetap terjangkau, mulai Rp1.000 hingga Rp2.000 per biji.
Meski harga murah, Robani mengaku tetap menggunakan bahan berkualitas, termasuk gula fruktosa asli. Ia menolak menggunakan pemanis buatan karena khawatir merugikan konsumen dalam jangka panjang.
Laris Manis hingga Puluhan Ribu per Hari
Dalam kondisi normal, Robani Es Krim bisa menghabiskan sekitar 15.000 hingga 20.000 biji per hari, tergantung cuaca. Saat musim panas dan menjelang Lebaran, penjualan melonjak drastis.
“Kalau H-7 sampai H-1 Lebaran, sebelum subuh sudah ada yang antre,” kata Robani. Dalam sehari, puluhan ribu es krim bisa habis terjual.
Menariknya, meski telah berjalan lebih dari satu dekade, Robani mengaku tidak pernah menghitung laba secara rinci. Menurutnya, jika dihitung secara matematis, usaha es krim Rp1.000 per biji sulit masuk logika. Namun, ia meyakini keberkahan sebagai kunci kelangsungan usaha.
Orientasi Akhirat dalam Mengelola Usaha
Dalam menjalankan Robani Es Krim Tulungagung, Robani menanamkan prinsip ibadah sebagai orientasi utama. Saat waktu salat tiba, seluruh mesin produksi dimatikan dan karyawan diajak salat berjamaah di masjid.
Selain itu, ia berupaya membiasakan sedekah meski dalam jumlah kecil. Menurutnya, usaha hanyalah sarana, sementara tujuan utama tetap akhirat.
Kini, Robani Es Krim telah mengantongi sertifikasi halal dan siap memperluas distribusi ke luar daerah dengan armada sendiri. Meski persaingan usaha semakin ketat, Robani memilih tetap berjalan pelan namun istiqamah, tanpa riba dan tanpa ambisi berlebihan.
Editor : Axsha Zazhika