TRENGGALEK NJENGGELEK - Kisah sukses Tulungagung Stone Mosaic bukan cerita instan tentang pengusaha besar yang langsung menikmati hasil. Di balik ekspor batu alam ke Amerika Serikat dan berbagai negara lain, ada perjalanan panjang penuh keterbatasan, pengorbanan, dan keyakinan pada janji Allah tentang kecukupan rezeki.
Pendiri Tulungagung Stone Mosaic, Muhammad Tarmudi, mengisahkan awal mula usahanya bermula dari kepulangan ke Tulungagung pada 2005 setelah merantau dan menimba pengalaman di Timur Tengah. Saat itu, ia diminta membantu mengajar di sebuah lembaga pendidikan pesantren yang memiliki unit usaha pengolahan mosaik batu alam.
Dari situlah Tarmudi mulai mengenal dunia marmer dan batu alam khas Tulungagung. Bersama para pelaku usaha lain, ia belajar ekspor, bahasa Inggris, hingga strategi pemasaran internasional melalui forum dan asosiasi pengusaha mosaik batu alam.
Menjadi Duta Tulungagung ke Timur Tengah
Kesempatan besar datang ketika Kadin membuka program business matchmaking ke Dubai dan Yordania. Tarmudi dipercaya menjadi duta dari Tulungagung karena dinilai mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Perjalanan tersebut membuka matanya bahwa mosaik batu alam Tulungagung memiliki keunikan dan daya tarik tinggi di pasar global.
“Waktu itu saya sadar, produk ini sangat diminati. Dari situ muncul tekad, suatu saat saya ingin punya perusahaan ekspor sendiri,” ujarnya.
Meski sempat mendapat peluang pasar besar, Tarmudi memilih kembali ke rutinitas sebagai guru sambil terus belajar seluk-beluk produksi mosaik batu alam hingga akhirnya, pada 10 Oktober 2010, ia memberanikan diri berdiri sendiri.
Bertahan di Masa Sulit dan Kisah Uang Rp500
Awal merintis Tulungagung Stone Mosaic tidak mudah. Pesanan belum rutin, sementara kebutuhan rumah tangga harus tetap terpenuhi. Untuk bertahan, istrinya membuka usaha kuliner rumahan bernama Omah Jajan Tulungagung yang dipasarkan secara online melalui Facebook.
Salah satu momen paling membekas adalah saat anaknya meminta biskuit seharga Rp500, sementara mereka benar-benar tidak memiliki uang. Hingga akhirnya ditemukan koin Rp500 di kolong lemari, yang kemudian digunakan untuk membeli biskuit tersebut.
“Setiap lihat uang Rp500, saya selalu ingat peristiwa itu. Itu yang menambah rasa syukur saya sampai sekarang,” kata Tarmudi.
Jualan ke Bali, Tidur di Emperan Toko
Demi memasarkan produk, Tarmudi pernah berangkat ke Bali naik bus dengan membawa koper berisi batu alam. Ia bahkan tidur di emperan toko beralaskan koran karena keterbatasan biaya. Semua dijalani sebagai bagian dari proses.
Perlahan, usaha Tulungagung Stone Mosaic mulai mendapat respons. Pesanan ekspor pertama datang sebanyak 50 boks, disusul repeat order 150 boks. Namun ujian kembali datang saat produk mengalami kerusakan akibat proses produksi di musim hujan.
Kesalahan itu membuat pelanggan marah dan sempat menghentikan pesanan. Namun Tarmudi memilih bertanggung jawab penuh, merevisi seluruh produk, dan terus memperbaiki kualitas.
Ekspor ke Berbagai Negara
Kerja keras itu akhirnya berbuah hasil. Tulungagung Stone Mosaic kini mengekspor produknya ke Amerika Serikat, Kanada, Australia, Fiji, hingga berbagai negara lain. Bahkan, meski Tarmudi belum pernah menginjakkan kaki ke beberapa negara tersebut, produknya sudah lebih dulu sampai ke sana.
Saat ini, perusahaan telah memiliki beberapa gudang produksi di Tulungagung dan memanfaatkan media sosial serta website untuk menjangkau pasar global.
Berbagi dan Menjadi Jalan Manfaat
Di tengah pertumbuhan usaha, Tarmudi menanamkan prinsip berbagi. Ia memulai dengan menyantuni satu anak yatim, lalu bertambah hingga kini sekitar 25 anak yatim yang rutin dibantu setiap bulan.
“Jangan minta jadi kaya. Minta jadi jalan manfaat,” ujarnya.
Baginya, rezeki bukan hanya soal angka, tetapi tentang keberkahan dan dampak bagi orang lain. Prinsip itulah yang diyakini menjadi kunci keberlangsungan Tulungagung Stone Mosaic hingga hari ini.
Editor : Axsha Zazhika