TRENGGALEK NJENGGELEK - Filosofi hidup sederhana justru menjadi fondasi kuat keberhasilan Koperasi Sapi Perah Tulungagung. Berangkat dari keyakinan bahwa hidup harus bermanfaat seperti pohon pisang, koperasi ini tumbuh menjadi penopang ekonomi ribuan peternak desa dengan produksi susu segar puluhan ribu liter per hari.
Ketua koperasi, Soeharto, menggambarkan hidupnya dengan perumpamaan pohon pisang. Pohon itu tidak ditebang sebelum berbuah. Prinsip tersebut ia terapkan dalam mengelola koperasi dan mendampingi peternak agar tidak menyerah sebelum merasakan hasil.
Saat ini, Koperasi Sapi Perah Tulungagung memiliki sekitar 1.700 hingga 1.750 peternak aktif. Produksi susu segar per hari mencapai sekitar 51 ribu hingga 55 ribu liter, yang seluruhnya diserap oleh mitra industri.
Tiga “Emas” dari Sapi Perah
Soeharto menjelaskan, sapi perah memiliki tiga potensi utama yang disebut sebagai tiga jenis emas. Pertama adalah emas putih, yaitu susu segar yang diperah setiap pagi dan sore. Kedua, emas merah yang berasal dari daging sapi afkir. Ketiga, emas hitam yang berasal dari limbah kotoran sapi.
Limbah tersebut kini diolah menjadi biogas melalui digester. Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk memasak dan penerangan. Dengan sistem ini, peternak tidak terlalu terdampak ketika harga elpiji naik karena telah memiliki sumber energi mandiri.
Manajemen Pakan dan Teknologi Kandang
Kualitas susu sangat ditentukan oleh kualitas pakan. Untuk itu, koperasi menerapkan standar ketat dalam pemberian hijauan dan konsentrat. Sapi perah dengan bobot sekitar 400 kilogram membutuhkan hijauan sekitar 40 kilogram per hari atau 10 persen dari berat badan.
Untuk mendukung produktivitas, sapi juga diberi konsentrat dengan kadar protein kasar 18–20 persen. Produksi susu rata-rata per ekor mencapai 12 liter per hari, dan pada puncaknya bisa menyentuh 15 hingga 25 liter.
Inovasi lain yang diterapkan adalah sistem water ad libitum, yakni penyediaan air minum tanpa batas. Dengan sistem ini, sapi dapat minum kapan pun dibutuhkan sehingga kesehatan dan produktivitas lebih terjaga.
Selain itu, kandang dilengkapi kipas angin untuk menurunkan suhu dan mengurangi kadar amonia. Suhu ideal kandang dijaga di kisaran 22 derajat Celsius agar sapi tetap nyaman dan tidak stres.
Peran Koperasi dan Kemitraan dengan Nestlé
Soeharto menekankan bahwa koperasi adalah kunci keberhasilan peternak. Ia mengibaratkan koperasi seperti sapu lidi. Jika berdiri sendiri, peternak akan kesulitan, tetapi jika bersatu, kekuatan ekonomi bisa terbentuk.
Melalui koperasi, peternak mendapatkan pendampingan teknis, akses teknologi, hingga kepastian pasar. Saat ini, Koperasi Sapi Perah Tulungagung bermitra dengan PT Nestlé. Seluruh produksi susu diserap dengan sistem pembayaran yang lancar dan tepat waktu.
Nestlé juga memberikan berbagai dukungan fasilitas, mulai dari mesin chopper hijauan, kipas kandang, hingga subsidi instalasi air minum ternak. Tujuannya untuk menjaga kualitas susu sesuai standar industri.
Hitung-hitungan Produksi yang Tetap Menguntungkan
Dengan harga susu sekitar Rp7.500 per liter, satu ekor sapi berproduksi 15 liter dapat menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp112.500 per hari. Setelah dikurangi biaya pakan sekitar Rp60 ribu, peternak masih memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp47.500 per ekor per hari.
Meski terdapat biaya lain seperti perawatan dan ternak non-produktif, skema ini dinilai cukup menjanjikan jika dikelola secara konsisten dan kolektif melalui koperasi.
Mimpi Wisata Edukasi dan Olahan Susu
Selain produksi susu segar, koperasi juga memiliki visi pengembangan wisata edukasi sapi perah. Program ini sempat berjalan pada 2017 sebelum terhenti akibat pandemi Covid-19.
Ke depan, Soeharto juga bercita-cita mengolah susu secara mandiri. Jika dijual ke koperasi harga susu berkisar Rp7.500 per liter, namun jika diolah dan dikemas sendiri, nilainya bisa meningkat berlipat.
“Orang hidup di dunia harus bermanfaat. Kalau niatnya benar dan dijalani dengan tekun, insyaallah hasilnya akan mengikuti,” ujarnya.
Editor : Axsha Zazhika