Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Cucur Jadul Trenggalek Viral di Kalangan Gen Z, Berawal dari Story Iseng hingga Bertahan Tanpa Utang dan Laris di Alun-alun

Natasha Eka Safrina • Jumat, 6 Februari 2026 | 10:51 WIB

Cucur Jadul Trenggalek viral di kalangan Gen Z. Berawal dari story iseng, kini laris di alun-alun dan bertahan tanpa utang.
Cucur Jadul Trenggalek viral di kalangan Gen Z. Berawal dari story iseng, kini laris di alun-alun dan bertahan tanpa utang.

TRENGGALEK – Di tengah maraknya jajanan modern, Cucur Jadul Trenggalek justru mencuri perhatian anak muda. Jajanan tradisional yang dulu nyaris terlupakan ini kembali hidup lewat tangan Indra Swari Hanasari, perempuan muda asal Desa Tamanan, Kabupaten Trenggalek, yang membuktikan bahwa keyakinan, ketekunan, dan keberanian memulai bisa membawa usaha kecil bertahan dan berkembang.

Usaha Cucur Jadul Trenggalek bermula secara sederhana. Awalnya hanya iseng membuat cucur untuk keluarga dan diunggah ke media sosial. Respons tak disangka datang dari kalangan anak muda, bahkan Gen Z, yang penasaran dengan jajanan “jadul” tersebut. Dari situlah Indra memberanikan diri membuka sistem pre-order (PO).

Pre-order pertama dibatasi hanya 20 boks karena dikerjakan sendiri tanpa karyawan. Satu boks berisi lima cucur dijual seharga Rp10.000. “Awalnya cuma cek ombak. Ternyata banyak yang minat,” ujarnya.

Baca Juga: Pertanian Kogabwilhan I Disulap Jadi Lumbung Pangan Rakyat, Panglima TNI dan Bupati Trenggalek Buktikan Lahan Mustahil Bisa Panen Melimpah

Dari PO ke Lapak Tenda Pinggir Kota

Dorongan pelanggan membuat Indra berpikir membuka lapak langsung. Tantangan pun muncul. Mulai dari sulitnya mencari lokasi, perizinan, hingga cuaca yang tak menentu. Berjualan menggunakan tenda berarti harus siap menghadapi hujan, angin, bahkan tenda bocor.

“Kalau hujan angin, ya pasrah. Tenda geser, bocor, kadang harus ganti baru,” katanya.

Kini, Cucur Jadul Trenggalek rutin mangkal dengan sistem berpindah. Senin hingga Rabu di wilayah timur kecamatan, sementara Jumat hingga Minggu berjualan di kawasan Utara Alun-alun Trenggalek, menyesuaikan aturan lokasi yang tidak boleh digunakan setiap hari.

Jajanan Jadul, Selera Kekinian

Cucur yang dijual Indra berbahan sederhana: tepung beras, tepung terigu, dan gula merah. Namun pengembangannya mengikuti selera pasar. Indra aktif mendengarkan masukan pelanggan melalui media sosial. Dari situlah berbagai topping lahir, mulai cokelat, keju, tiramisu, matcha, hingga pisang.

“Ini bukan 100 persen ide saya. Banyak yang dari customer,” ujarnya.

Peluncuran topping dilakukan bertahap, tidak sekaligus. Strategi ini membuat pelanggan selalu penasaran dengan varian baru.

Baca Juga: Kisah Hidup Gus Ipin: Dari Anak Tukang Becak hingga Bupati Trenggalek

Tantangan Minyak dan Proses Trial Error

Salah satu kritik terbesar datang soal cucur yang dianggap berminyak. Indra tak menampik. Ia mencoba berbagai cara, dari mengganti jenis minyak, teknik penirisan, hingga metode memasak. Namun ia juga jujur bahwa cucur memang tidak bisa sepenuhnya bebas minyak.

“Cucur itu beda dengan gorengan lain. Kalau dipaksa pakai spinner malah hancur,” jelasnya.

Proses menuju cucur yang dianggap “sempurna” memakan waktu sekitar tiga bulan trial error. Mulai dari teknik adonan, suhu api, hingga pemilihan wajan yang ternyata sangat berpengaruh.

Bertahan Tanpa Utang, Mengalir Apa Adanya

Hal yang paling prinsip bagi Indra adalah tidak berutang. Hingga kini, Cucur Jadul Trenggalek dijalankan tanpa pinjaman bank maupun utang ke pihak luar. Modal diambil dari uang yang benar-benar tersedia.

“Punyanya segini ya segini dulu. Upgrade pelan-pelan,” katanya.

Dalam sehari, omzet tertinggi yang pernah dicapai mencapai sekitar 200 boks, meski ia mengakui penjualan juga naik turun.

Baca Juga: Menguak Prasasti Kamulan Peninggalan Kerajaan Kediri, Warisan Sejarah yang Segera Dipulangkan ke Trenggalek

Lebih dari Sekadar Jualan

Bagi Indra, usaha ini bukan hanya soal ekonomi. Di baliknya ada kisah hidup panjang, mulai dari berhenti kuliah karena kondisi keluarga, menikah muda, hingga berjuang melawan tekanan mental sebagai ibu muda. Berjualan menjadi ruang bertahan sekaligus penyelamat mental.

“Keyakinan itu nomor satu. Kalau yakin, yang lain ngikut,” ujarnya.

Kini, Cucur Jadul Trenggalek bukan sekadar jajanan jadul. Ia menjadi simbol keberanian memulai, kesabaran bertumbuh, dan keyakinan bahwa usaha kecil pun bisa berjalan selama dijalani dengan hati.

Editor : Natasha Eka Safrina
#jajanan tradisional #kuliner trenggalek #kuliner jadul #UMKM Trenggalek #pecah telor