TRENGGALEK – Bagi Supatno, krisis ekonomi bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia percaya, ekonomi memiliki pola siklus sekitar 10 tahunan. Tahun 1998, 2008, hingga 2020 menjadi penanda bahwa guncangan besar selalu berulang. Karena itulah, saat pandemi Covid-19 melanda, usaha percetakan dan digital printing miliknya di Trenggalek justru mampu bertahan, bahkan mencatatkan omzet lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Supatno adalah pemilik Anugerah Greenshop, usaha percetakan yang tumbuh dari nol. Ia lahir di Desa Kertosono, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Trenggalek, wilayah pegunungan yang akses jalannya dulu hanya setapak. Anak keenam dari enam bersaudara ini dibesarkan dari keluarga petani sederhana. Masa kecilnya akrab dengan medan berat, hujan, longsor, dan kedisiplinan keras dari sang ayah.
“Bapak selalu pesan, harus jadi orang kuat, jujur, dan kalau punya utang harus segera dibayar,” kenangnya.
Dari Bali hingga Surabaya
Lulus SMK pada 2004, Supatno merantau ke Bali bekerja di showroom sepeda motor. Di sanalah ia ditempa mental jualan. Meski sering sepi pembeli, ia dipaksa berpikir kreatif agar bisa menjual. Pengalaman ini membentuk pola pikirnya: usaha harus aktif mencari peluang, bukan menunggu.
Ia kemudian pindah ke Surabaya mengikuti kakaknya membuka usaha percetakan. Selama empat tahun, Supatno mengerjakan sablon dan pekerjaan lapangan. Namun, ia merasa usaha tersebut stagnan karena minim inovasi. Dari situlah muncul tekad membuka usaha sendiri.
Keputusan resign diambil saat kondisi keuangan nyaris nol. Uang yang tersisa hanya Rp48.500. Berbekal screen sablon seadanya, Supatno nekat memulai usaha kecil-kecilan dari kos sempit.
Titik balik datang saat ia berani mengedukasi pelanggan lama kakaknya. Dari transaksi stiker senilai Rp140 ribu, ia berhasil meningkatkan nilai transaksi menjadi Rp1,4 juta dengan kualitas bahan dan konsep yang lebih baik. Modal pinjaman Rp800 ribu pun bisa dikembalikan hanya dalam satu minggu.
Belajar Otodidak dan Pulang Kampung
Supatno membeli komputer bekas Pentium 3 seharga Rp1,25 juta. Tanpa mentor, ia belajar desain grafis secara otodidak lewat buku CorelDRAW dan internet. Dua tahun bertahan di kos, ia akhirnya memutuskan pulang kampung ke Trenggalek pada 2010 dan menikah.
Cobaan berat datang ketika anak pertamanya meninggal dunia. Trauma mendalam membuat usaha sempat terbengkalai. Namun, perlahan Supatno bangkit. Ia kembali merintis dari kontrakan kecil, berani berutang untuk membeli mesin cetak, dan mengembangkan usaha secara bertahap.
Tahun 2014, ia membaca peluang besar pada produksi kalender dan alat peraga kampanye. Promosi lewat Facebook mendatangkan pesanan hingga puluhan ribu eksemplar, dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah.
Baca Juga: Kisah Hidup Gus Ipin: Dari Anak Tukang Becak hingga Bupati Trenggalek
Prinsip: Lebih Baik Tak Punya Uang daripada Terlilit Utang
Meski akhirnya berani mengambil kredit mesin hingga ratusan juta rupiah, Supatno menegaskan itu adalah utang pertama dan terakhirnya ke bank. Ia meniatkan pelunasan lebih cepat dari tenor lima tahun dan berhasil melunasi dalam empat tahun.
“Saya lebih baik tidak punya duit daripada hidup dikejar utang,” tegasnya.
Pandemi Tak Terasa, Omzet Justru Naik
Ketika pandemi melanda pada 2020, banyak usaha percetakan tumbang. Namun Supatno sudah bersiap sejak 2019, setelah membaca prediksi ekonomi global. Ia menabung, memperluas pasar ke Jabodetabek lewat iklan digital, dan menjaga arus kas.
Hasilnya, Anugerah Greenshop tetap beroperasi. Karyawan tidak dirumahkan, gaji tidak dipotong signifikan, dan produksi tetap berjalan. Bahkan, di masa pandemi ia masih mampu membeli beberapa mesin baru dan membangun rumah.
“Ekonomi memang berulang. Yang penting siap,” ujarnya.
Kini, bagi Supatno, usaha bukan sekadar mencari untung. Prinsip kejujuran, kerja keras, dan kebermanfaatan bagi banyak orang—nilai yang diwariskan ayahnya—menjadi fondasi utama dalam menjalankan bisnis.
Editor : Natasha Eka Safrina