TRENGGALEK – Masa kecil Fandi Ahmad jauh dari kata mudah. Untuk membeli bolpoin saja, ia harus berpikir berkali-kali. Buku pelajaran lama yang masih kosong disatukan kembali untuk dipakai di semester berikutnya. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan keterbatasan ekonomi yang membentuk ketangguhan sejak dini.
“Kata orang, masa kecil itu masa paling indah. Tapi buat saya, itu masa paling berat,” ujarnya.
Pengalaman hidup itulah yang kini menjadi fondasi kuat dalam menjalankan Mbak Pia Ahmad Family, usaha kuliner yang dikenal luas masyarakat Trenggalek. Bersama sang istri, Siti Zubaida, Fandi mengelola Ahmad Family Bakery and Cookies, dengan produk unggulan Bakpia Ahmad Family, Bolen Ahmad Family, hingga Puthu Ahmad Family.
Usaha ini bermula pada 2016, setelah Fandi pulang dari Pasuruan. Saat itu, ia hanya bermodal Rp500 ribu, dengan peralatan dapur sederhana yang sudah ada. Uang tersebut diputar terus untuk membeli bahan baku satu kali produksi, lalu hasilnya digunakan kembali untuk produksi berikutnya.
Belajar dari Rantau, Tumbuh di Desa
Sebelum membuka usaha sendiri, Fandi dan istrinya bekerja di Pasuruan. Di sana, mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga digembleng secara mental. Sang pemilik usaha tempat mereka bekerja rutin memberi wejangan tentang kemandirian, pemasaran, hingga keberanian bermimpi.
“Kalau tidak ada dorongan keluarga dan guru di sana, mungkin saya tidak akan berani buka usaha sendiri,” kata Fandi.
Bakpia Ahmad Family mulai dikenal secara perlahan. Awalnya hanya dipasarkan di sekitar desa, dititipkan ke toko dan sekolah, bahkan dijajakan langsung dengan sepeda. Saat itu, bakpia masih dikemas sederhana menggunakan mika. Namun, dari proses itulah kepercayaan pelanggan tumbuh.
Seiring meningkatnya pesanan, Fandi merekrut satu karyawan tetangga. Pesanan pertama dalam jumlah besar, sekitar 200 kotak, memaksanya membeli oven tambahan dengan cara patungan dan pinjaman kecil. Meski begitu, ia memegang prinsip kuat untuk tidak berutang besar.
“Sampai Covid datang, saya jalankan usaha pakai uang sendiri,” tegasnya.
Kualitas Rasa Jadi Kunci
Dalam produksi bakpia, Fandi menekankan bahwa isi adalah segalanya. Kesalahan kecil pada bahan isian bisa mengubah rasa secara drastis. Semua takaran ditetapkan ketat, terutama untuk varian cokelat dan rasa modern lainnya.
Soal harga, Mbak Pia Ahmad Family memilih margin tipis. Dari harga jual sekitar Rp10 ribu per kotak, keuntungan bersih hanya sekitar Rp1.000. Strategi ini sengaja dipilih agar produk bisa dinikmati semua kalangan, terutama masyarakat menengah ke bawah.
“Kami ingin yang bawah bisa beli, yang atas juga tidak keberatan,” ujarnya.
Penentuan harga pun tidak dilakukan sendiri. Fandi rutin berembuk dengan sesama alumni Pasuruan agar tidak terjadi perang harga dan tetap menjaga kualitas bersama.
Diuji Pandemi, Lahir Inovasi
Pandemi Covid-19 menjadi ujian terberat. Pesanan turun drastis, bahkan sempat hampir berhenti. Di saat bersamaan, musibah datang bertubi-tubi: kecelakaan keluarga, kondisi kehamilan istri, hingga biaya hidup yang terus berjalan.
Namun dari masa sulit itulah lahir inovasi baru. Fandi memanfaatkan waktu luang untuk mengembangkan produk bolen, yang kini menjadi salah satu andalan. Setelah pandemi mereda, usaha kembali bangkit, bahkan berkembang dengan tambahan produk seperti pai susu, donat, onde-onde, dan bolu.
Saat musim ramai, terutama bulan pernikahan, produksi bisa mencapai 5.000 kotak per hari, dengan omzet menembus Rp150 juta. Di bulan sepi seperti Suro, omzet tetap bertahan di kisaran Rp70 juta.
Baca Juga: Kisah Hidup Gus Ipin: Dari Anak Tukang Becak hingga Bupati Trenggalek
Karyawan adalah Keluarga
Kini, Mbak Pia Ahmad Family mempekerjakan lebih dari 20 karyawan, mayoritas ibu rumah tangga. Fandi menolak hubungan kaku antara bos dan pekerja. Baginya, karyawan adalah saudara.
“Saya pernah jadi karyawan. Saya tahu rasanya diperlakukan tidak enak,” katanya.
Ia memilih memastikan karyawan menerima haknya lebih dulu, meski dirinya harus menahan uang. Prinsip hidup dari masa kecil terus dipegang: jangan lupa sejarah, tetap jujur, dan berbagi saat mampu.
Kini, Fandi dan Siti punya mimpi lebih besar: membuka toko oleh-oleh di kawasan wisata Trenggalek. Bagi mereka, perjalanan panjang dari keterbatasan adalah pengingat bahwa kesuksesan bukan datang tiba-tiba, melainkan hasil dari kesabaran, kerja keras, dan rasa syukur.
Editor : Natasha Eka Safrina