BLITAR – Jalan usaha memang jarang mulus. Hal itu diyakini betul oleh Yoga Dwi Sasana Putra, peternak ayam petelur asal Dusun Sukosari, Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Sejak awal merintis usaha ayam petelur, Yoga justru menunggu datangnya rintangan. Baginya, usaha tanpa ujian justru terasa tidak masuk akal.
“Kalau usaha mulus terus, saya malah enggak percaya,” kata Yoga.
Keyakinan itu bukan tanpa alasan. Dalam perjalanan membangun Sentra Jaya Farm, Yoga harus berkali-kali menelan kerugian besar akibat serangan penyakit, terutama Newcastle Disease (ND), yang membuat ratusan ayamnya mati mendadak.
Merantau Gagal, Bangkit dari Nol
Usai lulus SMK, Yoga sempat merantau ke Korea Selatan dengan harapan mengumpulkan modal usaha. Namun realitas berkata lain. Ia hanya bertahan tiga bulan tanpa membawa pulang uang. Pulang ke Indonesia, ia sempat bekerja serabutan, termasuk di sektor perikanan, hingga akhirnya menjadi karyawan minimarket selama empat tahun.
Di sela bekerja, Yoga mulai mencari referensi usaha. Ia terinspirasi dari kisah peternak ayam petelur yang berhasil bangkit dari keterpurukan. Dari situlah tekadnya menguat untuk memilih usaha ayam petelur.
Modal awal dikumpulkan dari berbagai sumber. Uang BPJS Ketenagakerjaan sebesar sekitar Rp12 juta, hasil penjualan motor, serta tabungan kecil-kecilan seluruhnya digunakan untuk membangun kandang dan membeli ayam.
Gagal Berkali-kali karena Penyakit
Ayam pertama berjumlah 100 ekor. Perlahan berkembang menjadi 400 ekor. Namun cobaan datang saat virus ND menyerang. Sekitar 200 ekor ayam mati. Kerugian terasa berat, mengingat ayam sudah memasuki usia besar.
Belum pulih, musibah kembali datang. Setelah menambah populasi, kematian kembali terjadi hingga ratusan ekor. Produksi telur turun drastis, ayam sakit berkepanjangan, dan proses vaksinasi ulang tidak membuahkan hasil maksimal.
“Di situ saya sadar, ternyata bukan cuma soal ayam, tapi manajemen dan air minum juga sangat menentukan,” ujarnya.
Titik Balik: Ilmu dan Pendampingan
Titik balik terjadi pada 2024. Yoga mendapat pendampingan dari tenaga lapangan pakan dan peternakan. Dari situ ia belajar pentingnya kualitas air, kebersihan kandang, serta kontrol bakteri E. coli yang sering menjadi pemicu infeksi sekunder.
Air minum ayam rutin diuji laboratorium. Kadar klorin diatur agar tidak berlebihan. pH air dijaga stabil. Langkah ini terbukti mampu menekan penyakit dan memperbaiki performa produksi telur.
Selain itu, Yoga mulai memahami pentingnya FCR (Feed Conversion Ratio). Pakan tidak lagi sekadar murah, tetapi harus sesuai kebutuhan nutrisi ayam. Protein, vitamin, mineral, hingga antistres diperhatikan, terutama saat cuaca ekstrem.
Produksi Stabil, Usaha Mulai Bernapas
Kini, Yoga mengelola lebih dari 3.200 ekor ayam petelur, termasuk kandang baru. Produksi telur rata-rata mencapai 83 persen. Telur dijual langsung ke toko-toko dengan harga lebih tinggi dibanding jual ke pengepul.
“Yang saya makan itu hasil jualan telur. Hasil ayam ya balik ke ayam,” ujarnya.
Prinsip keuangan pun dijalankan disiplin. Keuntungan belum diambil untuk pribadi. Yoga menargetkan lima tahun pertama sebagai fase penguatan usaha. Keuntungan diputar untuk pakan, peralatan, dan pengembangan kandang.
Lebih dari Sekadar Usaha
Bagi Yoga, usaha ayam petelur bukan hanya soal uang. Kedekatan dengan keluarga menjadi nilai utama. Lokasi kandang yang dekat rumah membuatnya bisa membersamai anak, istri, dan orang tua setiap hari.
“Dekat keluarga itu aset paling mahal,” katanya.
Ia pun menanamkan nilai kemandirian sejak dini pada anaknya. Bahkan sejak balita, sang anak sudah diajak ke kandang dan belajar mengambil telur sendiri.
Yoga bermimpi suatu hari bisa memberangkatkan keluarga umrah dan berlibur ke luar negeri. Namun satu prinsip yang selalu ia pegang teguh: punya mimpi tinggi, tapi jangan ikut gaya hidup tinggi.
Editor : Natasha Eka Safrina