Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Gaji Animator Jepang Rendah, Industri Anime Bernilai Triliunan Simpan Fakta Mengejutkan

Juwita Ratnasari • Kamis, 16 Juli 2026 | 12:01 WIB
Di balik anime populer, animator Jepang menghadapi gaji rendah, jam kerja panjang, dan tekanan berat setiap hari.(Dailysia)
Di balik anime populer, animator Jepang menghadapi gaji rendah, jam kerja panjang, dan tekanan berat setiap hari.(Dailysia)

JAKARTA - Gaji animator Jepang kembali menjadi sorotan di tengah pesatnya perkembangan industri anime yang terus mencetak keuntungan fantastis setiap tahun. Di balik kesuksesan berbagai judul anime populer, banyak animator justru harus menghadapi realitas pahit berupa pendapatan rendah, jam kerja panjang, hingga tekanan mental yang berat.

Bagi banyak penggemar anime, menjadi animator di Jepang merupakan pekerjaan impian. Ada kebanggaan tersendiri ketika nama mereka tercantum dalam kredit produksi anime terkenal. Namun, kenyataan di balik layar industri anime tidak selalu seindah karya yang ditampilkan kepada penonton.

Ironisnya, ketika industri anime Jepang terus berkembang dan menghasilkan pendapatan triliunan rupiah dari berbagai serial maupun film layar lebar, gaji animator Jepang masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan beban pekerjaan yang mereka emban setiap hari.

 

Industri Anime Tumbuh Pesat, Kesejahteraan Animator Belum Mengikuti

Kesuksesan film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – The Movie: Mugen Train menjadi bukti besarnya potensi ekonomi industri anime. Film tersebut mampu meraih pendapatan sekitar Rp5,1 triliun secara global dan menjadi salah satu film anime tersukses sepanjang masa.

Selain itu, meningkatnya layanan streaming legal sejak pandemi COVID-19 turut mendorong permintaan terhadap produksi anime baru. Setiap tahun, Jepang memproduksi lebih dari 200 judul anime untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional.

Baca Juga: China Uji Coba Rudal JL-3 dari Laut China Selatan, Dunia Soroti Risiko Krisis Nuklir

Meski demikian, pertumbuhan industri tersebut belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan para animator. Banyak pekerja kreatif di balik layar justru masih menerima upah yang relatif rendah.

Berdasarkan data dari Japanese Animation Creators Association, rata-rata animator di Jepang memperoleh pendapatan sekitar 10 ribu dolar AS atau sekitar Rp141 juta per tahun. Animator senior memiliki penghasilan lebih tinggi, berkisar 19 ribu hingga 31 ribu dolar AS per tahun. Namun, angka tersebut masih dianggap pas-pasan mengingat tingginya biaya hidup di Jepang.

 

Jam Kerja Panjang dan Tekanan Deadline

Salah satu animator berpengalaman, Tetsuya Akutsu, mengungkapkan bahwa dirinya bekerja hampir sepanjang waktu sebagai animator sekaligus sesekali menjadi sutradara dalam sejumlah proyek anime.

Meski memiliki pengalaman delapan tahun, pendapatan bulanannya hanya berkisar 1.400 hingga 3.800 dolar AS atau sekitar Rp19 juta hingga Rp52 juta. Nilai tersebut bahkan masih jauh lebih baik dibandingkan banyak animator pemula yang hanya menerima sekitar 200 dolar AS atau sekitar Rp2 juta per bulan.

Akutsu mengaku mencintai pekerjaannya dan ingin terus berkarya di industri anime. Namun, ia pesimistis mampu membangun keluarga dengan kondisi finansial yang dimilikinya saat ini.

Baca Juga: Leaders' Retreat Hasilkan 26 Kesepakatan, Prabowo Perkuat Kerja Sama Indonesia-Singapura

Padatnya pekerjaan juga menjadi tantangan tersendiri. Seorang animator dapat menghabiskan waktu lebih dari satu jam hanya untuk menyelesaikan satu gambar, terutama pada adegan yang membutuhkan detail tinggi. Akibatnya, banyak pekerja harus lembur demi mengejar tenggat produksi.

Tidak sedikit animator yang tertidur di meja kerja karena kelelahan. Sebagian lainnya bahkan harus menjalani perawatan akibat kelelahan fisik maupun tekanan pekerjaan yang berkepanjangan.

 

Kasus Studio Madhouse Jadi Perhatian

Persoalan jam kerja ekstrem pernah mencuat ketika studio animasi Madhouse dituding melanggar etika ketenagakerjaan.

Dalam laporan yang sempat menjadi perhatian publik, sejumlah karyawan disebut bekerja hampir 400 jam setiap bulan. Bahkan ada animator yang dikabarkan bekerja selama 37 hari berturut-turut tanpa libur demi menyelesaikan proyek anime sesuai jadwal.

Sejak kasus tersebut mencuat, sejumlah studio mulai lebih banyak menggunakan tenaga kerja lepas atau freelancer. Langkah ini dinilai memberi fleksibilitas bagi perusahaan, namun di sisi lain membuat posisi animator freelance semakin rentan karena tidak memiliki perlindungan kerja yang kuat.

Baca Juga: Pesawat AMA Dibakar di Yahukimo, Pilot Diduga Tewas Ditembak, Aparat Selidiki Kasus

Animator pemula menjadi kelompok yang paling terdampak. Selain menerima bayaran rendah, mereka juga berisiko kehilangan pekerjaan sewaktu-waktu ketika proyek selesai.

 

Mengapa Gaji Animator Jepang Tetap Rendah?

Banyak pihak mempertanyakan mengapa gaji animator Jepang tidak mengalami peningkatan meski industri anime terus berkembang.

CEO sekaligus Co-Founder bitFlyer Inc., Yuzu Kano, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah melimpahnya tenaga kerja yang ingin bekerja di sektor animasi. Kondisi tersebut membuat perusahaan tidak mengalami kesulitan mencari animator baru.

Menurutnya, ketika jumlah pencari kerja jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan tenaga kerja, perusahaan tidak terdorong untuk menaikkan upah. Situasi ini berbeda dengan sejumlah negara lain yang mengalami kekurangan tenaga kerja sehingga harus menawarkan gaji lebih tinggi.

Fenomena tersebut membuat banyak produser tetap mampu merekrut animator, baik pegawai tetap maupun pekerja lepas, tanpa harus memberikan kenaikan upah yang signifikan.

Di tengah popularitas anime yang terus mendunia, kondisi tersebut menjadi ironi tersendiri. Industri kreatif Jepang berhasil menciptakan karya yang dinikmati jutaan orang di seluruh dunia, tetapi sebagian pekerja di balik proses produksinya masih harus berjuang menghadapi kesejahteraan yang belum sebanding dengan kontribusi mereka. (*)

Editor : Juwita Ratnasari
Sumber : DIOLAH
Gaji Animator Jepang Industri Anime Animator Jepang Studio Anime Jepang