Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen pada Triwulan II 2026, BPS Ungkap Konsumsi dan Investasi Jadi Mesin Utama

Cendikiawan Tristan Valentino • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 14:50 WIB
BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026, ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah di tengah tantangan ekonomi global.
BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026, ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah di tengah tantangan ekonomi global.

 

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut kenaikan konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah menjadi motor utama yang menopang pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi global.

Kepala BPS menyampaikan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan sebesar Rp3.576,2 triliun. Secara kuartalan (quarter to quarter/qtq), ekonomi juga tumbuh 3,73 persen, sementara secara semesteran meningkat 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian tersebut terjadi ketika sejumlah negara mitra dagang Indonesia masih menghadapi perlambatan ekonomi, meski aktivitas perdagangan dan harga sejumlah komoditas ekspor utama tetap menunjukkan tren positif.

Baca Juga: Deteksi Penderita TB, Rontgen Portabel Diterjunkan

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDB dengan pangsa 53,32 persen dan tumbuh 5,06 persen secara tahunan.

Pertumbuhan konsumsi didorong meningkatnya aktivitas masyarakat selama musim libur dan hari besar keagamaan nasional. Kelompok restoran dan hotel menjadi penyumbang tertinggi dengan pertumbuhan 6,47 persen, diikuti transportasi dan komunikasi sebesar 5,71 persen.

Selain itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 6,87 persen. Kenaikan terlihat pada investasi kendaraan yang melonjak 26,03 persen, peralatan lainnya 16,18 persen, serta peningkatan realisasi investasi nasional sebesar 7,14 persen.

Sementara itu, konsumsi pemerintah meningkat signifikan hingga 15,97 persen seiring pembayaran gaji ke-13 bagi ASN, TNI, Polri, pensiunan, serta meningkatnya belanja barang dan jasa pemerintah.

BPS juga mencatat realisasi belanja pemerintah untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu faktor yang ikut memperkuat konsumsi pemerintah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Tumpukan Meterial Jadi Sumber PAD Di Terminal MPU

Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor ekonomi mencatat pertumbuhan positif. Industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi dengan andil 0,90 persen.

Sektor ini ditopang meningkatnya permintaan domestik maupun ekspor, terutama pada industri makanan dan minuman yang tumbuh 6,51 persen, industri barang logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik sebesar 8,04 persen, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 4,99 persen.

Perdagangan besar dan eceran juga tumbuh 6,39 persen, didukung meningkatnya distribusi barang, penjualan kendaraan, serta aktivitas perdagangan.

Sektor konstruksi mencatat pertumbuhan 6,68 persen berkat meningkatnya belanja modal pemerintah, pembangunan infrastruktur, ekspansi kawasan industri dan perumahan, hingga pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Di sisi lain, sektor pertambangan mengalami kontraksi 1,64 persen. Penurunan dipicu berkurangnya produksi bijih logam, pembatasan kuota produksi batu bara melalui RKAB 2026, serta belum pulihnya operasional tambang bawah tanah Grasberg Block Cave di Papua Tengah pascainsiden longsor pada 2025.

Baca Juga: Peralatan KDMP Datang, Pemdes Tunggu Kejelasan Operasional

Selain merilis data ekonomi, BPS juga mengumumkan perkembangan kondisi sosial Indonesia.

Jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari total penduduk. Angka tersebut turun sekitar 430 ribu orang dibandingkan September 2025.

Meski demikian, tingkat kemiskinan di pedesaan masih lebih tinggi, yakni 10,67 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 6,34 persen.

Di bidang ketenagakerjaan, jumlah penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang, bertambah sekitar 522 ribu orang dibandingkan Februari 2026.

Baca Juga: Ramalan Weton Pahing Agustus 2026: Siap-Siap Kejutan Rezeki dan Ujian Tak Terduga!

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,65 persen atau sekitar 7,2 juta orang. BPS menyebut angka tersebut merupakan tingkat pengangguran terendah sejak data Sakernas 1994.

Lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah pertanian, perdagangan, dan industri. Sementara sektor akomodasi serta makan minum mencatat tambahan tenaga kerja terbesar selama periode tersebut.

Meski angka kemiskinan menurun, tingkat ketimpangan yang diukur melalui Rasio Gini justru naik menjadi 0,368, meningkat 0,005 poin dibandingkan September 2025. Ketimpangan di wilayah perkotaan tetap lebih tinggi dibandingkan pedesaan.

Secara regional, pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan II 2026 terjadi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara sebesar 6,10 persen, disusul Pulau Jawa sebesar 5,65 persen, serta Sulawesi sebesar 5,53 persen, seluruhnya berada di atas rata-rata nasional.

Editor : Cendikiawan Tristan Valentino
BPS Triwulan II 2026 Ekonomi Indonesia 2026 Kemiskinan Indonesia 2026 Pengangguran Indonesia 2026 pertumbuhan ekonomi indonesia